Penyakit ‘Jadul’ Frambusia Tak Pernah Lenyap di Halmahera Selatan

Adelia Ratnadita

 

img
Frambosia (dok: Learncc)

Jakarta, Penyakit infeksi kronis yang menyerang kulit, tulang dan tulang rawan atau frambusia (patekan) sempat menjadi penyakit yang hampir dianggap punah atau telah hilang dari bumi ini.

Namun, faktanya penyakit ini masih ada di daerah tertentu di Indonesia. Seperti di wilayah kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara yang memiliki jumlah penderita Frambusia yang cukup tinggi.

Pemerintah kabupaten Halmahera Selatan juga dengan serius memberantas penyakit yang cukup mudah menular tersebut.

“Di kabupaten Halmahera Selatan penyakit frambusia masih cukup tinggi. Padahal penyakit frambusia sempat menjadi penyakit yang dianggap hilang atau sudah tidak ada lagi,” tutur dr. Suratman selaku Kepala Bidang Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan kabupaten Halmahera Selatan saat memberikan pembekalan untuk dokter/dokter gigi PTT baru seperti ditulis Minggu, (22/4/2012).

Frambusia merupakan penyakit yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Frambusia banyak menyerang terutama di daerah yang beriklim tropis dan daerah dengan sanitasi lingkungan yang buruk. Penyakit ini dapat menular melalui kontak kulit langsung dengan penderita.

Wilayah kabupaten Halmahera Selatan terdiri dari banyak pulau. Sehingga selain faktor iklim tropis, faktor geografis juga cukup berpengaruh terhadap sanitasi lingkungan yang kurang baik di kawasan pemukiman penduduk.

Penyebab patekan sebenarnya tidak jauh-jauh dari masalah kebersihan. Jika belum terlalu parah, patekan bisa disembuhkan hingga tuntas dengan menggunakan antibiotika tertentu. Namun, jika sudah terlalu parah, kerusakan kulit akibat koreng dan luka akan bersifat permanen sehingga sulit disembuhkan seperti sedia kala.

Tanda dan gejala frambusia seperti dikutip dari WHO, antara lain:

1. Frambusia awal

Sebuah papul awal, yaitu bagian kulit yang meninggi, melingkar padat tanpa cairan yang terlihat) berkembang pada tempat masuknya organisme penyebab.

Papul ini penuh dengan organisme dan dapat bertahan selama 3-6 bulan diikuti dengan penyembuhan alami.

Apabila tanpa pengobatan, maka akan diikuti oleh lesi kulit yang akan menyebar. Nyeri tulang dan lesi tulang juga dapat terjadi.

2. Frambusia akhir

Muncul 5 tahun setelah infeksi awal dan ditandai dengan cacat dari hidung dan tulang, dan palmaris/plantar hiperkeratosis (penebalan kulit pada telapak tangan dan telapak kaki).

(ir/ir)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s