Studi: Hukuman Fisik Bikin Anak Makin Agresif

Mereka juga cenderung pemberontak kepada orang di sekitar saat dewasa

 

Anda Nurlaila

a

Orangtua bisa mendisiplinkan anak tanpa kekerasan (Getty Images)

Sebagian orangtua kerap menilai hukuman fisik paling baik untuk mendisiplinkan anak, apabila mereka berbuat nakal. Memukul, menampar atau meneriaki anak adalah hal umum yang dilakukan orangtua untuk menghentikan kebandelan buah hati.

Namun hukuman fisik berupa pukulan, tamparan akan membuat anak menjadi seorang yang pemberontak dan agresif di kemudian hari. Temuan ini didasarkan tinjauan selama 20 tahun yang mengungkap anak yang sering dihukum dengan kekerasan fisik atau teriakan, semakin besar kemungkinan mereka untuk menampilkan perilaku yang sama ketika dewasa.

Peneliti Dr Durrant Joan dari Univeristy of Manitoba dan Ron Ensom dari Rumah Sakit Anak dari Timur Ontario, dalam Jurnal Asosiasi Medis Kanada mengungkap, “Hampir tanpa kecuali, studi ini menemukan bahwa hukuman fisik dikaitkan dengan tingkat agresi yang lebih tinggi terhadap orangtua, saudara, rekan dan pasangan.”

Peneliti menyatakan, mendisiplinkan anak lewat hukuman fisik merupakan sesuatu yang kontra produktif. Studi juga mengingatkan kekerasan selama masa pertumbuhan membuat anak berisiko lebih tinggi mengalami gangguan mental seperti depresi. Penelitian yang melibatkan 500 keluarga ini juga mengungkap anak yang jarang dihukum secara fisik jauh lebih penurut kepada orangtua mereka.

Selama 20 tahun terakhir hukuman fisik telah berkurang jauh. Namun, jajak pendapat terbaru di AS menemukan kebanyakan orangtua mengatakan mereka menerapkan hukuman time out atau mengambil mainan anak sebagai hukuman. Namun, seperlima orangtua mengatakan sangat mungkin memukul anak mereka.

Para penulis menyarankan agar orangtua mendidik anak tanpa kekerasan dan menggunakan pendekatan efektif untuk meningkatkan disiplin anak. “Orangtua lebih cenderung percaya anak mereka nakal, memberontak atau berbuat buruk. Padahal anak-anak melakukan sesuatu yang normal sesuai perkembangan mereka,” ujarnya kepada HealthNews.

Cara yang lebih efektif “menghukum” balita atau anak antara lain mengatakan “tidak” atau mengabaikan mereka selama 10 detik sebelum mengarahkan tindakan mereka. Cara lainnya, dengan membuat berbagai peraturan tetapi menjelaskan mengapa aturan tersebut digunakan. (umi)

Senin, 13 Februari 2012, 17:08 WIB
• VIVAnews

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s