29-12-1890: Pembantaian atas Suku Indian Sioux di AS

Saat itu, militer AS membantai 146 warga suku Indian Sioux

 Renne R.A Kawilarang

Pemakaman massal warga Suku Indian Sioux yang jadi korban pembantaian

Pemakaman massal warga Suku Indian Sioux yang jadi korban pembantaian
(US Library of Congress)

Pada 122 tahun yang lalu, tahap akhir perang berkepanjangan antara pasukan kavaleri AS dan penduduk suku Indian memunculkan tragedi pilu. Militer AS membantai 146 warga suku Indian Sioux di wilayah Wounded Knee di kawasan reservasi Pine Ridge, negara bagian South Dakota.

Menurut The History Channel, pembantaian ini dilatarbelakangi kekhawatiran pemerintah AS atas meningkatnya pengaruh suatu gerakan spiritual Sioux di Pine Ridge, yaitu “Tari Hantu.” Gerakan ini menyatakan kepada bangsa suku Indian bahwa mereka telah dikalahkan dan dikurung di tempat-tempat reservasi, setelah membuat marah para dewa dengan mengabaikan tradisi leluhur.

Banyak warga Sioux saat itu yakin bahwa bila mereka mempraktikkan Tari Hantu dan menolak kebiasaan kaum pendatang kulit putih, para dewa akan menciptakan dunia dengan suasana yang baru, sekaligus menghancurkan para kaum yang tidak percaya, termasuk yang bukan dari suku Indian.

Demi mengatasi gerakan Tari Hantu, pada 15 Desember 1890, polisi kawasan reservasi berupaya menangkap Sitting Bull, yaitu panggilan bagi kepala suku Sioux yang terkemuka. Dia secara sembarangan dituduh sebagai pemimpin Tari Hantu sehingga dibunuh. Pembunuhan inilah yang membuat marah kaum Indian, sehingga suasana di Pine Ridge menjadi tegang.

Pada 29 Desember 1890, militer AS mengerahkan pasukan Kavaleri ke-7 untuk mengepung para pengikut Tari Hantu di bawah pimpinan kepala suku Sioux lainnya, yaitu Big Foot. Pengepungan berlangsung di suatu daerah bernama Wounded Knee Creek.

Pasukan Kavaleri AS saat itu menuntut para warga Sioux menyerahkan senjata mereka. Suasana tegang berkembang menjadi kekerasan dan, entah dari mana, muncul tembakan. Tak lama kemudian, pasukan AS langsung memuntahkan peluru ke arah penduduk Sioux.

Hampir 150 orang tewas dan nyaris setengah dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Pasukan Kavaleri AS sendiri hanya kehilangan nyawa 25 tentara.

Konflik di Wounded Knee tadinya hanya dianggap sebagai pertempuran biasa. Namun, setelah ditelusuri, peristiwa itu lebih tepat disebut pembantaian yang tragis dan seharusnya bisa dicegah, serta ini menjadi perdebatan para sejarawan di AS.

Ada yang menyatakan bahwa Kepala Suku Sioux, Big Foot, kecil kemungkinan rela menyerahkan diri. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa pembantaian ini kemungkinan aksi balas dendam pasukan Kavaleri ke-7 setelah mereka sempat kalah dari suku Indian dalam pertempuran di Little Bighorn pada 1876.

Masih belum dipastikan pendapat mana yang benar. Namun, akibat pembantaian itu, berakhir pula gerakan Tari Hantu dan tragedi tersebut juga menjadi kontak senjata besar terakhir dalam perang antara pasukan AS dengan suku Indian.

Konflik berdarah muncul lagi pada Februari 1973 di Wounded Knee. Saat itu, para aktivis kelompok American Indian Movement memprotes buruknya perlakuan pemerintah AS kepada para warga keturunan suku Indian.

Bentrok antara para aktivis dan pihak keamanan menyebabkan dua warga Indian tewas, sedangkan seorang polisi federal luka parah serta beberapa orang ditangkap. (art)

Sabtu, 29 Desember 2012, 06:01
© VIVA.co.id

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s