Sejarah musik marawis

Marawis adalah salah satu jenis “band tepuk” dengan perkusi sebagai alat musik utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi, dan memiliki unsur keagamaan yang kental. Itu tercermin dari berbagai lirik lagu yang dibawakan yang merupakan pujian dan kecintaan kepada Sang Pencipta.

Kesenian marawis ini telah berusia kurang lebih 400 tahun yang semula berasal dari kawasan Kuwait, mula2 alat ini hanya terdiri dari 2 jenis alat permainan saja yaitu hajer dan marawis dengan ukuran yang tidak seperti saat ini kita lihat, melainkan semacam sebuah rebana dengan berukuran cukup besar yang kedua sisinya dilapisi oleh kulit binatang.Namun kesenian ini tidak populer di negara kuwait sehingga sedikit sekali orang yang memahami bahwa kesenian ini bermula/berasal dari negara kuwait. Ketika kesenian ini mulai dikenal di negara yaman maka kesenian ini pun diadopsi oleh negara Yaman, sehingga kesenian ini menjadi populer, hal ini disebabkan alat musik yang ada di modifikasi sedemikian rupa agar menjadi lebih menarik. maka diubahlah sedikit demi sedikit alat musik yang bermula berukuran besar menjadi ukuran yang sedang yang seperti saai ini kita lihat yaitu ukuran yang cukup besar (seperti gendang) dan marawis yang ukurannya lebih kecil dari hajer.

Di daerah Yaman kesenian ini sering kali dimainkan pada saat perayaan tertentu, yaitu Perayaan perkawinan, Maulid nabi saw, Khitanan, dsb…. dan lebih kesenian ini menajdi lebih sangat populer karena pernah dimainkan untuk menyambut tamu yang berasal dari luar Yaman sebagai kesenian penghormatan.

Kesenian marawis ini hampir identik dengan dengan kesenian Sufi karena setiap Syair yang dibawakan mengandung puji2an kepada Rasulullah beserta keluarga, para Wali dan Permohonan doa kepada Allah SWT.

Marawis di Indonesia

Mengenai Sejarah masuknya kesenian Marawis ke Indonesia, pertama kali kesenian ini dibawa oleh para Ulama Hadramout (yaman) yang berdakwah ke Indonesia dan dipentaskan pertama kali di Kota Madura, hal ini terjadi akhir abad ke 19 M. selain di Kota madura kesenian ini juga dibawa ke daerah Bondowoso (kawasan kecil yang terletak di ujung timur Propinsi Jawa Timur) dan kesenian ini menjadi popluer di kota Bondowoso karena antusias masyarakat di Bondowoso yang ingin mempelajari dan menekuni kesenian ini. sehingga sampai saat ini Diakui oleh seluruh pemerhati kebudayaan Hajaer marawis bahwa Kesenian Marawis Pupoler pertama kali di Bondowoso.

Secara Umum, Alat musik ini terdiri dari:

Marawis

Merupakan gendang kecil berdiameter 20 Cm dengan tinggi 19 Cm. Alat ini terbuat dari kayu yang bagian tengahnya dilubangi dalat inilah yang menjadi ciri khas dari musik jenis ini, sehingga musik jenis ini pun disebut dengan Marawis.

 

Gambar alat Marawis

  • Hajir disebut juga hajir marawis
    Merupakan sebuah Gendang yang berukuran diameter 45 Cm dengan tinggi 60-70 cm,
    Alat ini terbuat dari kayu yang bagian tengahnya dilubangi sehingga berbentuk mirip sebuah tabung. Kedua bagian ujungnya ditutup dengan kulit binatang yang berfungsi sebagai selaput / memberan. Adapun kulit binatang yang biasa digunakan adalah kulit kambing atau domba.
    Gambar alat musik Hajir
  • Dumbuk Pinggang
    Dumbuk merupakan alat musik sejenis gendang yang berbentuk mirip dandang, Bagian tengah dan kedua ujungnya memliki diameter yang berbeda – beda, diameter terbesar pada ujung yang detutup dengan selaput/membrean dari mika, kemudian disusul bagian ujung yang terbuka, sedangkan pada bagian tengah memiliki diameter terkecil. adapun disebut dumbuk pinggang karena dalam penggunaannya alat ini diletakkan di pinggang.
    Gambar dumbuk pinggang
  • Dumbuk Batu
    Bentuk alat ini mirip dengan dumbuk pinggang, hanya saja mempunyai ukuran yang sedikit lebih besar. adapun disebut dumbuk batu karena konon pada awalnya terbuat dari batu.
    Gambar dumbuk Batu
  • Simbal dan Tamborinkadang kala musik marawis dilengkapi dengan tamborin atau krecek dan [Symbal] yang berdiameter kecil dimana kedua alat ini digabungkan menjadi satu kesatuan.                  Gambar Simbal dan tamborin.

Dalam Katalog Pekan Musik Daerah, Dinas Kebudayaan DKI, 1997, terdapat tiga jenis pukulan atau nada, yaitu zapin, sarah, dan zahefah. Pukulan zapin mengiringi lagu-lagu gembira pada saat pentas di panggung, seperti lagu berbalas pantun. Nada zapin adalah nada yang sering digunakan untuk mengiringi lagu-lagu pujian kepada Nabi Muhammad SAW (shalawat). Tempo nada zafin lebih lambat dan tidak terlalu menghentak, sehingga banyak juga digunakan dalam mengiringi lagu-lagu Melayu.

Pukulan sarah dipakai untuk mengarak pengantin. Sedangkan zahefah mengiringi lagu di majlis. Kedua nada itu lebih banyak digunakan untuk irama yang menghentak dan membangkitkan semangat. Dalam marawis juga dikenal istilah ngepang yang artinya berbalasan memukul dan ngangkat. Selain mengiringi acara hajatan seperti sunatan dan pesta perkawinan, marawis juga kerap dipentaskan dalam acara-acara seni-budaya Islam.

Jumlah Pemain

Musik ini dimainkan oleh minimal sepuluh orang. Setiap orang memainkan satu buah alat sambil bernyanyi. Terkadang, untuk membangkitkan semangat, beberapa orang dari kelompok tersebut bergerak sesuai dengan irama lagu. Semua pemainnya pria, dengan busana gamis dan celana panjang, serta berpeci. Uniknya, pemain marawis bersifat turun temurun. Sebagian besar masih dalam hubungan darah – kakek, cucu, dan keponakan. Sekarang hampir di setiap wilayah terdapat marawis.
Sumber:
JUAL ALAT MUSIK MARAWIS & REBANA
distributor alat musik marawis hadroh rebana qosidah
Advertisements

Celana Dalam Bergembok, Bangsawan Indonesia Masa Kerajaan

 


 

Cupeng

 

Cupeng adalah semacam celana dalam bergembok atau berkunci yang terbuat dari lempengan emas atau perak ini yang merupakan penutup kemaluan wanita dan dikenakan sehari-hari untuk gadis-gadis muda dari kalangan bangsawan. Jadi, selain sebagai benda budaya, juga menunjukkan bahwa kaum wanita sudah mendapat perhatian khusus sejak lama.

Istilah Cupeng ini dikenal di Aceh, Pada awalnya cupeng merupakan benda upacara yang dipakai oleh anak wanita kecil. Fungsinya adalah seb agai penutup kelamin. Bentuknya seperti hati dan pemasangannya diikat dengan benang pada perut si anak. Salah satu artefak yang terkenal berbahan emas 22 karat, berukuran tinggi 6,5 sentimeter, dan lebar 5,8 cm.

Sebuah cupeng biasanya terbuat dari perak yang berbentuk hati berhiasan motif suluran bunga yang dibuat dengan teknik ditatah timbulkan. Motif tersebut dibatasi dengan garis bidang kosong lainnya yang diisi dengan motif mutiara kecil yang dibuat berbentuk simetris dan tetap menggunakan teknik yang sama dengan motif suluran bunga. Pada bagian atas cupeng terdapat pengait berbentuk bulat panjang dengan lubang pada bagian dalamnya yang berfungsi sebagai tempat untuk memasukkan tali yang akan digunakan sebagai pengikat cupeng (Museum Aceh).

Sedangkan Cupeng emas umum digunakan oleh orang terpandang. Artefak tersebut penuh ukiran, pinggirannya berhiaskan motif tapak jalak, bagian tengah bermotif bunga teratai dikelilingi deretan bunga bertajuk empat helai dalam bentuk belah ketupat. Bagian tengah bunga tadi bermatakan jakut merah.

Menurut tradisi lama, cupeng harus dipakai oleh balita perempuan yang berusia 2 hingga 5 tahun. Atau digunakan ketika anak mulai berjalan sampai anak mulai pandai mengenakan sarung sendiri. Mereka percaya, cupeng merupakan penangkal roh jahat. Pada pemakaian pertama, benang yang dikalungkan terlebih dulu diberikan mantera atau jampi-jampi oleh seorang dukun.

Selain di Indonesia, cupeng dikenal di Semenanjung Malaysia. Di sana disebut caping. Diduga, caping diperkenalk an ke Asia Tenggara oleh pedagang-pedagang India pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, dari abad ke-7 hingga ke-12. Di Malaysia, caping sangat populer di daerah utara, selatan, dan pantai timur Malaysia. Adapun di Indonesia, cupeng banyak dipakai oleh penduduk Melayu sekitar pantai timur Sumatera, Dayak, Bugis, Makassar, dan Aceh.

Hampir serupa dengan cupeng adalah badong. Badong merupakan perhiasan untuk wanita bangsawan atau tokoh yang dihormati. Penggunaannya diletakkan di luar kain, tepat di depan alat kelamin wanita.

 

Badong, Majapahit

 

Badong adalah simbol bagi wanita yang telah menikah dan dipakai pada saat suami mereka sedang berperang atau sedang berada di luar rumah. Peninggalan masa lalu yang salah satu fungsinya adalah untuk penangkal perselingkuhan. Badong juga digunakan oleh para pertapa atau pendeta wanita. Maksudnya untuk melawan godaan agar selamanya tidak melakukan hubungan intim dengan lawan jenis.

Badong berbahan emas ini ditemukan di daerah Madiun, kemungkinan berasal dari masa Majapahit sekitar abad ke-14/15. Yang unik, permukaan badong dihiasi relief cerita Sri Tanjung, seorang wanita suci yang dituduh berselingkuh oleh suaminya, Sidapaksa, dan kemudian dibunuh. Namun, suatu saat Dewi Durga datang menolong Sri Tanjung dengan memberikan seekor gajamina (ikan gajah) untuk menyeberangi sungai dunia bawah menuju surga sebagai imbalan atas kesucian dirinya.

 

Jempang, Gowa Sulsel

 

 

Mirip dengan cupeng dan badong adalah jempang. Artefak ini ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan.Jempang juga merupakan penutup kemaluan wanita, yang menjadi pakaian sehari-hari untuk gadis-gadis muda dari kalangan bangsawan.

Ketiga artefak itu adalah peninggalan masa lalu yang salah satu fungsinya untuk penangkal perselingkuhan. Jadi, selain sebagai benda budaya, juga menunjukkan bahwa kaum wanita sudah mendapat perhatian khusus sejak lama.

Sejarah Bedak Kecantikan di Dunia

 

Untuk ente semua gan khususnya wanita, ada yang mengetahui sejarah bedak kecantikan gak gan?? padahal bedak mungkin menjadi salah satu hal yang tak lepas dari diri seorang wanita. Bedak dapat menjadi penunjang kecantikan wanita. Namun apakah ada yang mengetahui asal-usul dan sejarah bedak kecantikan itu sendiri?? mungkin sedikit artikel dari ane dapat membantu sejarah dan asal usul dari bedak kecantikan itu.

 

Bedak menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang-orang di berbagai bangsa selama berabad-abad. Awalnya, orang menggunakan bedak bukan untuk tujuan keindahan tapi lebih karena alasan spiritual.

Membalur tubuh dengan bedak dianggap bisa menjauhkan diri dari roh-roh halus. Orang-orang Timur Jauh menggunakannya khusus untuk acara pernikahan atau pertemuan lainnya. Baru setelah Ratu Cleopatra menggunakannya sebagai lapisan dasar kosmetik, fungsi estetis bedak lebih menonjol.

Cleopatra sangat peduli dengan penampilan. Selain ahli parfum, dia punya perhatian besar terhadap bedak. Dia menggunakan beragam bahan, beberapa di antaranya sangat eksotis. Mungkin yang “terhebat” adalah kotoran buaya, yang dia buat menjadi bubuk halus.

Bangsa Mesir umumnya membuat bedak dari campuran kapur dan tanah liat. Namun dalam jumlah yang lebih sedikit, mereka menambahkan timah putih. Penggunaan timah putih juga umum di Dunia Timur maupun Barat kuno. Penggalian arkeologis situs Mesir Kuno, Lembah Sungai Indus, makam Yunani, serta makam Dinasti Chin dan Han di China, membuktikannya.

 

Sebelum Mesir, orang-orang Sumeria menggunakan bunga ochre kuning untuk bedak wajah. Mereka menamai bedak itu “golden clay” atau “face bloom”.

Orang-orang Mesopotamia lalu meneruskan kebiasaan leluhurnya ini dengan sedikit modifikasi. Mereka menggunakan ochre merah atau daun pacar (henna).

“Bangsa Mesir kurang liberal dengan bedak mereka,” tulis Robert James Forbes, ahli kimia-cum-sejarawan sains asal Belanda, dalam Studies in Ancient Technology, Vol. 8., “meski gambar-gambar yang ada menunjukkan bahwa perempuan kuno Mesir sangat paham bagaimana menggunakan kain pemoles bedak.”

Berbeda dari bangsa Mesir, orang-orang Timur Jauh (China, Jepang, dan sekitarnya) umumnya menggunakan bahan tepung beras.

Setelah itu, artis zaman Dinasti Tang memakai bedak yang terbuat dari mutiara sebelum naik panggung untuk melindungi dan mempercantik kulit. Kaisar Dowager dari Dinasti Ching lalu mengikutinya jauh setelah itu. Bangsa Yunani dan Romawi, kemudian dilanjutkan Eropa, membuat bedak dari gandum. Meski penggunaan bedak mulai meluas, ia masih terbatas di kalangan orang kaya atau bangsawan.

Penggunaan bedak menentukan status sosial. Warna kulit, dalam banyak budaya, menjadi pembeda strata masyarakat. Orang Mesir –dan banyak bangsa lainnya– sangat menghormati mereka yang berkulit putih. Dalam anggapan mereka, perempuan putih berarti tak keluar rumah untuk bekerja di bawah terik matahari yang menyengat.

 

“Di Asia, kulit putih dijadikan tanda kebangsawanan, anggota golongan elit, dan warna putih merupakan simbol murni kecantikan diri dan keningratan,” tulis LUXemag, majalah gaya hidup.

Penggunaan beras sebagai bahan pembuatan bedak sempat membuat persediaan beras menurun pada abad ke-15. Namun itu tak menghalangi orang-orang kaya untuk berdandan. Bahkan seabad kemudian, beras dan terigu menjadi inti dari mode dan gaya hidup di Prancis, Spanyol, dan Inggris. Para perempuan ningrat menaburkan banyak bedak ke wajah, tangan, dan bahu untuk menyembunyikan cacat di kulit atau membuatnya terlihat lebih muda dan segar.

Campur-tangan penguasa membuat pamor bedak meredup pada akhir abad ke-18. Penguasa Prancis, lalu diikuti negara Eropa lainnya, melarang pembuatan bedak untuk menghemat terigu atau beras –yang didapatkan dari perdagangan dengan dunia Timur. Ratu Victoria juga sempat melarangnya karena menganggapnya vulgar. Kala itu bedak juga merupakan aksesori utama para pelacur. Bedak mulai meraih popularitasnya kembali di awal abad ke-20.

 

Bedak dengan wujud seperti sekarang diciptakan di Prancis. Bahan dasarnya talk tanpa campuran timah yang bisa mengiritasi kulit. Hampir bersamaan, dan ini menarik, Anthony Overton meluncurkan bedak pertama untuk orang Afro-Amerika dengan merek High Brown Brand –kala itu orang kulit putih masih melarang orang kulit hitam menggunakan bedak.

Pada 1923, perusahaan Inggris Laughton & Sons menciptakan wadah bedak kompak yang nyaman, lengkap dengan sponsnya. Jeda beberapa saat, penata gaya legendaris Hollywood Max Factor meluncurkan bedak dasar yang bisa digunakan setiap hari, Pan Cake.

Lalu, Helena Rubinstein membuat bedak murah pada awal 1940-an dengan merek yang menggunakan namanya. Bedak dengan fungsi lebih spesifik juga bermunculan. Perusahaan Johnson & Johnson (J&J), yang awalnya tak sengaja terjun di segmen ini, mengembangkan dan meraih keuntungan dari bedak bayi.

Konsumsi bedak terus meningkat. Di Amerika Serikat, menurut sejarawan Gary Dean Best, sebagaimana ditulis Brian Greenberg dan Linda S Watt dalam Social History of the United States, Vol. 1, pada akhir 1920-an saja perempuan Amerika tiap tahunnya menggunakan 4.000 ton bedak. Itu belum termasuk produk kosmetik lainnya.

Kini, bedak menjadi bagian tak terpisahkan dari hampir setiap orang, terutama perempuan. Di dalam ataupun di luar rumah, dengan santai atau terburu-buru, perempuan membedaki wajah menjadi pemandangan yang familiar.

Hetairai, “Wanita Penghibur” Khusus Bangsawan Athena

 

 

Selain cantik, mereka harus berpengetahuan luas dan mahir bermain musik. Mereka menjadi teman para pembesar Athena, Yunani.

SOCRATES, filsuf ternama asal Athena, Yunani, memilih mati minum racun ketimbang hidup mengingkari kebenaran. Pengadilan mendakwanya menyebarkan ajaran yang merusak generasi muda. Sebelum mati, masa hidupnya (470 SM-399) sebagian besar dihabiskan untuk bertanya kepada orang-orang untuk membantu orang lain memperoleh wawasan dan pengetahuan yang benar dengan mencari dan mendapatkannya sendiri.

Karenanya metode filsafatnya disebut seni kebidanan (maieutika). Dari kesenangannya bertanya-tanya, dia tak disukai sebagian orang, tapi punya banyak kawan. Salah satu kawan akrabnya, Theodote, seorang hetairai atau pelacur kelas atas masa peradaban Yunani Kuno.

Peradaban Yunani Kuno sering disebut sebagai sumber renaissans (kelahiran kembali) di Eropa Barat pada abad ke-15. Kala itu, buah pikir filsuf Yunani Kuno yang mempengaruhi bidang seni, bahasa, sastra, politik, pendidikan, dan ilmu kembali digali. Peradaban Yunani Kuno sendiri merentang waktu hampir sepuluh abad, sejak 8 SM sampai 4 M.

Peradaban ini, selain melahirkan sejumlah ahli pikir, juga memunculkan hetairai. Berbeda dari perempuan Athena umumnya, hetairai menduduki posisi lebih tinggi dalam masyarakat. Para negarawan dan filsuf menghargai mereka.

 

Perempuan tak punya banyak peran dalam masyarakat Athena. Mereka juga mendapat pembatasan. Mereka tak boleh menjadi pejabat pemerintahan lokal. Membaca dan menulis tak menjadi kewajiban mereka. Sekolah tak mau menerima mereka sampai masa Helenistik. Bersama para budak dan orang asing, perempuan Athena tak punya pengaruh atau hak-hak sipil. Singkatnya, “Menjadi perempuan pada masa Athena Kuno sangat tak menyenangkan,” tulis Jørgen Christian Meyer, guru besar Departemen Arkeologi, Sejarah, Kajian Budaya, dan Agama pada Universitas Bergen, Norwegia dalam makalahnya, “Women in Classical Athens.”

Seorang perempuan mesti menjadi hetairai (pelacur) jika menginginkan posisi yang lebih tinggi. Menurut Nikolaos A. Vrissimtzis dalam bukunya Erotisme Yunani, “peran perempuan memang direndahkan, tapi kita juga tak bisa berpikir bahwa posisi mereka tak dihargai.” Karena itu, beberapa perempuan, terutama imigran dan budak, berupaya menjadi hetairai di Athena.

Pemerintah Athena tak melarang prostitusi. Hal yang sama terjadi pada wilayah Yunani lainnya. Bahkan seorang negarawan, Solon (638 SM-558 SM), menjadi salah satu germo pertama di Athena. Dia membuka rumah bordil.

Pelacur rendahan dari berbagai kota di Yunani tersedia di sana, sebab perempuan Athena dilarang menjadi pelacur. Dari rumah bordil itu mereka bisa menapaki karier sebagai hetairai.

Sebutan hetairai kali pertama tersua dalam Histories karya Herodotus (484 SM-425 SM), sejarawan Yunani Kuno.

 

 

Untuk menjadi hetairai, seorang perempuan tak cukup hanya cantik. Dia mesti meluaskan pengetahuan mengenai bahasa (puisi), filsafat, dan politik. Dia bisa memperolehnya dari pergaulan dengan tetamunya. Keahlian bermain alat musik seperti flute, tamborin, kastanet, dan lyre juga sangat dibutuhkan. Selain itu, mereka harus mahir menari.

Inilah yang membedakan hetairai dengan pelacur rendahan dan selir. Berbekal kemampuan itu, mereka melayani tetamu laki-laki dalam symposia, acara minum anggur dan diskusi khusus lelaki yang diakhiri bercinta dengan hetairai. Aktivitas percintaan mereka dapat dilihat pada guci-guci kuno Yunani.

 

Hidup hetairai (pelacur) dilimpahi kemewahan dan keistimewaan. Dengan bayaran mahal mereka memiliki rumah dan budak sendiri. Ini melanggar aturan umum masyarakat Athena yang tak membolehkan perempuan memiliki rumah dan budak.

Anak-anak mereka juga mewarisi hak-hak istimewa sang ibu. Meski statusnya bukan sebagai warga Athena, anak-anak itu dapat menduduki posisi sebagai jenderal atau anggota senat. Padahal, aturan tak memperkenankan anak hasil hubungan lelaki Athena dengan perempuan luar Athena memperoleh hak-hak politik.

 

Sebenarnya, hetairai tak menghendaki kehamilan dari hubungan dengan tetamu. Karenanya mereka berhati-hati dalam berhubungan intim. Beberapa cara seperti sanggama terputus, membaca mantera-mantera, meminum ramuan tertentu, dan memakan telur gagak diterapkan.

Tapi, karena banyak dari mereka menjadi selir, kehamilan tak terhindarkan. Bagi masyarakat Athena, selir memiliki fungsi sebagai penghasil keturunan atas persetujuan istri sah. Lelaki Athena memelihara selir karena istrinya mandul atau hanya melahirkan anak perempuan.

Ini Kereta Api Bandara Pertama di Indonesia

Maret 2013, Medan memiliki Kereta Api Bandara yang dijalankan Railink

 

 Arfi Bambani Amri, Harry Ondo Saragih (Medan)

Pembangunan jalur kereta api

Pembangunan jalur kereta api (Antara/ Septianda Perdana)
Kereta api bandara atau airport railink services (ARS) direncanakan beroperasi di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara mulai Maret 2013. Kereta bandara ini yang pertama kali ada di Indonesia.

Pengoperasian KA Bandara Kualanamu ini sejalan dengan rencana operasi Bandara Internasional Kuala Namu (KNIA). Sarana KA Bandara (ARS) ini memiliki interior yang nyaman dan berpendingin udara, rak bagasi penumpang, toilet, reclining seat serta bebas rokok.

Sesuai kapasitas lintas, PT Railink akan mengoperasikan sebanyak 26 kali perjalanan KA sehari  oleh 16 (enam belas) unit kereta diesel terdiri  dari 4 set kereta dengan jumlah kapasitas per unit sebanyak 172 (seratus tujuh puluh dua) penumpang.  Waktu tempuh diperkirakan selama 30 (tiga puluh) menit sekali perjalanan dengan selang interval selama 1 (satu) jam.

Pengadaan 16 unit KRT tersebut dibeli dengan dana eksternal dan akan beroperasi mulai bulan Oktober 2013.  Sementara ini untuk tahap awal dari Maret sampai dengan Oktober 2013, PT Railink menggunakan kereta dari milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan Kementerian Perhubungan.

Munculnya KA Bandara Kuala Namu ini dibarengi pembangunan dua buah stasiun khusus KA Bandara yaitu Stasiun KA Bandara Medan (City Railink Station/CRT) dan  Stasiun KA Bandara Kuala Namu (Airport Railink Station/ART).  Stasiun yang memiliki berbagai fasilitas untuk kenyamanan penumpang dilengkapi juga dengan sistem tiket dan pembayaran maupun pintu keluar/ masuk (gate system modern) serta layanan profesional dari customer service yang akan melayani penumpang di Stasiun KA Bandara (Customer Service On Station) maupun di dalam Kereta Api Bandara (Customer Service On Train).

“Sarana KA Bandara Kuala Namu ini akan menjadi ikon baru bagi Kota Medan,” ujar Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Ignasius Jonan. “Kami bangga dapat menghadirkan sebuah fasilitas terbaru dan yang pertama di Indonesia, semoga dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat Sumatera Utara.  Mohon doa restu dan dukungan seluruh pihak terutama masyarakat Sumatera Utara untuk kelancaran dan kesuksesan rencana operasional KA Bandara Kuala Namu ini.”

KA Bandara ini melewati jalur dari Stasiun Medan – Aras Kabu – Kuala Namu. Jalur yang dilalui sebagian merupakan jalur yang sudah ada yaitu dari Stasiun Medan sampai dengan Stasiun Aras Kabu dan sisanya dari Aras Kabu ke Bandara Kualanamu adalah jalur baru. Persiapan dari sisi operasi adalah telah selesainya pembangunan prasarana berupa jalur/track sejauh 28 kilometer.  Jalur kereta api tersebut diremajakan oleh PT. Kereta Api Indonesia (Persero) dan Satker Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub.

Angkut 4.000 Orang

KA Bandara beroperasi mulai pukul 04.30 pagi berangkat dari Stasiun KA Bandara Medan sampai dengan 20.30 WIB berangkat dari Stasiun KA Bandara Kuala Namu. “Dengan kapasitas 172 penumpang per set kereta dan dua puluh enam kali perjalanan, KA Bandara Kuala Namu dapat mengangkut sekitar antara 3.000 sampai dengan 4.000 orang penumpang per hari atau 1 juta sampai dengan 1,3 juta orang penumpang per tahun,” kata Husein Nurroni,  Direktur Teknik dan Operasi PT. Railink.

Melengkapi layanan KA Bandara, PT. Railink menyediakan fasilitas-fasilitas yang berhubungan dengan layanan perjalanan KA Bandara dan layanan beberapa Maskapai penerbangan seperti counter e-ticketing maupun counter pemesanan tiket Airlines, layanan informasi, ruang tunggu, toilet, musholla, coffee corner, retail shop dan transit hotel sekelas bintang tiga bagi yang memerlukan.

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, maka tarif yang akan diberlakukan adalah sebesar Rp80.000,- (delapan puluh ribu rupiah) sekali jalan. Tarif ini telah dihitung sesuai  peraturan yang berlaku yaitu Peraturan Menteri Perhubungan RI No. 28 Tahun 2012,  seperti perhitungan biaya operasi, biaya modal,  dan biaya perawatan maupun margin serta komponen lainnya yang diperkenankan.  PT. Railink juga telah mengadakan studi kelayakan/ feasibility study dan survei pasar di daerah Medan dan sekitarnya untuk mengukur potensi pasar, kemampuan pasar hingga pilihan moda transportasi masyarakat.

PT Railink adalah perusahaan patungan antara dua BUMN transportasi besar di Indonesia, yaitu PT Kereta Api Indonesia (Persero) dengan PT Angkasa Pura 2.  PT Railink dibentuk dengan bidang usaha utama yaitu Angkutan Kereta Api Bandara dan pengusahaan stasiun-stasiun yang terletak di antara Kota – Bandara di wilayah seluruh Indonesia.

Saat ini Proyek KA Bandara yang sedang disiapkan oleh Railink adalah KA Bandara Kuala Namu Medan (KNIA) yang akan beroperasi di bulan Maret 2013 dan KA Bandara Soekarna Hatta di Jakarta yang direncanakan beroperasi pada tahun 2014.  Selanjutnya PT Railink akan terlibat dalam pengembangan Bandara di seluruh Indonesia yang menggunakan moda transportasi Kereta Api. (eh)

Kamis, 31 Januari 2013, 14:44
© VIVA.co.id

Cara Pakai Sumpit yang Baik dan Benar

Setiap makan mie ayam, mie bakso, atau hanya indomie, saya jarang menggunakan sumpit. Alasannya sederhana, tidak tahu caranya. Bodoh, ya? Hahaha…
Setelah memperhatikan orang Cina dan Jepang yang biasa memakai sumpit, sekaligus cari artikel cara memegang sumpit yang benar, akhirnya ketemu juga. Bagi yang belum tahu dan ingin dapat  memakai sumpit, inilah caranya dirangkum dari carakomplit.com

 

 ifood.tv

 
1.  Pertama-tama ambil dulu satu buah sumpit. Sumpit tersebut silakan diletakkan pada tangan kiri atau tangan kanan sesuai dengan kebiasaan Anda. Letakkan sumpit di antara jari tengah dan telunjuk. Sedangkan bagian pangkal sumpit melewati perbatasan antara telunjuk dan ibu jari.

Tidak usah terlalu kaku, bayangkan bagaimana saat Anda menggenggam pensil atau pulpen, lalu cobalah memegang sumpit seperti itu.

2. Berikutnya silakan ambil sumpit yang kedua, letakkan pada posisi yang sama dengan sebelumnya. Bagian pangkal sumpit akan berada di antara telunjuk dan ibu jari, sedangkan bagian ujung sumpit menempel pada jari tengah. Jadi satu sumpit menempel pada ibu jari, dan satunya lagi pada jari tengah. Posisi ibu jari mengunci kedua sumpit ini agar tidak terlepas.

chinadaily.com.cn

 

3. Setelah memegang dengan benar, Anda dapat mencoba mengambil makanan atau benda dengan sumpit. Apabila anda memegang dengan benar, sumpit tidak akan bergerak maju mundur saat mengambil makanan, melainkan bergerak ke atas dan ke bawah untuk menyesuaikan dengan ukuran makanan.

Untuk melakukan ini, silakan Anda gerakkan sumpit yang menempel pada ujung jari telunjung. Dengan menggerakkan sumpit ini, Anda tidak perlu lagi menggerakkan sumpit yang satunya. Dengan mengencangkan jari telunjuk, maka sumpit akan terbuka. Sebaliknya, saat kamu membengkokkan telunjuk, maka sumpit akan tertutup.

Nah, itu tadi adalah salah satu cara memegang sumpit. Sebenarnya cara memegang sumpit sangat beragam, tergantung dari bagaimana seseorang belajar.

Alternatif lain memegang sumpit adalah dua pangkal sumpit melewati celah antara ibu jari dan jari telunjuk (sama dengan cara sebelumnya), hanya saja posisi ujung sumpit sedikit berbeda. Sumpit pertama berada di atas jari manis, sedangkan sumpit kedua diapit oleh jari telunjuk dan jari tengah.

Jadi saat ingin mengambil makanan, sumpit pertama diam dan sumpit kedua bergerak naik turun untuk menyesuaikan ukuran makanan.

Apabila Anda melakukan hal ini beberapa kali, maka Anda pasti dapat terampil memakainya. Makan dengan sumpit sama halnya dengan menulis dengan pulpen. Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda untuk menggunakannya.

Sumber: http://www.apakabardunia.com/2012/12/cara-pakai-sumpit-yang-benar.html

Tes Rambut Untuk Menyingkap Racun Dalam Tubuh

 

Badan Narkotika Nasional memutuskan melakukan tes rambut untuk mendalami penggunaan narkotika terhadap beberapa orang yang ditangkap di rumah presenter berinisial R beberapa hari lalu. Analisis rambut dinilai memiliki kelebihan untuk mendeteksi endapan racun kimia dalam tubuh.

Dr Iskandar Irwan Hukom, Sekretaris Jenderal Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), menjelaskan, analisis rambut memberikan informasi pola permanen dari kantong rambut.

“Tes rambut paling peka terhadap semua zat-zat kimia yang masuk dalam tubuh. Ini karena akar rambut menyimpan sisa metabolisme dalam 3-6 bulan terakhir,” katanya ketika dihubungi Kompas.com.

Berbeda dengan tes rambut, tes urine hanya mencerminkan ada atau tidaknya zat kimia dalam darah untuk jangka waktu pendek, yakni beberapa jam saja.

Untuk melakukan tes rambut, menurut Iskandar, baru dapat dilakukan tiga hari pascapenangkapan. “Kalau baru ketangkap zat-zatnya belum mengendap sehingga tidak akan terlihat hasil yang bermakna,” katanya.

Menurut Iskandar, psikotropika yang mengendap paling lama di tubuh adalah kokain dan ganja.

Dalam rambut, kuku, dan gigi, mineral-mineral dalam bentuk kecil disimpan. Rambut manusia merupakan rekaman sejarah yang bisa merefleksikan perubahan metabolisme. Selama struktur rambut tidak berubah, mineral tertanam dalam rambut dan kadarnya tidak berubah walaupun rambut memanjang.

Pemakaian analisis rambut sebetulnya telah dikenal sejak tahun 1800-an, terutama untuk melihat keberadaan racun arsenikum. Dalam perkembangannya, analisis rambut lebih banyak dikenal oleh dunia forensik, riset ilmiah, dan pengetesan obat.

Di banyak negara, tes rambut juga dipakai untuk mendapatkan bukti kuat dari penggunaan obat-obatan terlarang.

Sumber: http://health.kompas.com/read/2013/01/29/12321833/Tes.Rambut.Menyingkap.Racun.Kimia.Dalam.Tubuh