Ternyata, rata-rata Bayi Indonesia Terhambat Tumbuh 7 Cm Saat Umur 5 Bulan

Putro Agus Harnowo

ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta, Masalah gizi buruk masih menjadi PR pemerintah di penghujung tahun 2012 ini. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2007, diketahui 1 dari 3 balita Indonesia mengalami hambatan pertumbuhan tinggi badan atau yang dikenal dengan stunting.

“Kalau kita ambil distribusi normal dari WHO, anak-anak kita pada umur 5 bulan sudah kekurangan sekitar 7 cm. Pada umur 17 tahun dia sudah kehilangan hampir 14 cm,” kata Prof dr Fasli Jalal, Ph.D, SpGK, Guru Besar Ilmu Gizi Masyarakat dari Universitas Andalas dalam acara Sosialisasi Gerakan Nasional Sadar Gizi di Gedung Smesco, Jakarta, Kamis (27/12/2012).

Apabila digambarkan dalam grafik, tinggi badan rata-rata anak Indonesia sudah berada di bawah rata-rata WHO dan hampir mendekati titik bahaya. Apabila dibandingkan dengan rata-rata global, 1 dari 4 anak di dunia mengalami stunting, sedangkan di Indonesia perbandingannya 1 banding 3.

Prof Fasli menjelaskan, bahwa tanda-tanda stunting pada bayi sudah dapat dilihat sejak bayi berumur 4 bulan, yaitu apabila grafik pertumbuhannya keluar dari garis normal, seperti yang tergambar dalam Kartu Menuju Sehat (KMS).

Oleh karena itu, pemantauan perkembangan dan gizi bayi sampai usia 2 tahun amat penting untuk mengetahui adanya kelainan dan pada usia berapa terjadinya gangguan tersebut. Gangguan ini sangat berkaitan dengan ASI eksklusif dan makanan pengganti ASI yang belum begitu baik kualitas dan kuantitasnya.

“Bayi stunting itu pertanda bahwa sel-sel otaknya tidak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan. Karena itu adalah refleksi yang paling jelas terlihat dari luar dan sejalan linier dengan kondisi otaknya. Mereka biasanya relatif tidak begitu aktif, seperti anak lain sehingga kualitas stimulasi yang diterima dari ibu dan lingkungan tidak sekaya anak-anak yang cukup gizi,” papar Prof Fasli.

Menurut Prof Fasli, anak yang gizinya baik biasanya rajin dan selalu menarik perhatian keluarga, guru dan orang-orang sekitar. Akibatnya, kualitas stimulasi atau pengasuhannya juga baik. Penelitian menemukan, bahwa stimulasi yang baik ditambah dengan kecukupan gizi dapat membuat perkembangan anak dapat melebihi rata-rata anak normal.

“Jadi anak-anak yang kurang gizi tadi rugi dua kali sebenarnya, karena kualitas gizi yang kurang baik dan stimulasi lingkungan yang kurang,” imbuh Prof Fasli yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan ini.

Untungnya, stunting dan kekurangan gizi pada bayi ini masih dapat diperbaiki dengan pemberian gizi yang baik dan stimulasi dari lingkungan. Segala sesuatu yang terjadi pada masa 1000 hari pertama kehidupan, dimulai dari sejak kehamilan, akan mempengaruhi perkembangan kehidupannya.

Kamis, 27/12/2012 13:59 WIB
(pah/vit)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s