8 dari 1000 Orang di Indonesia Adalah Penyandang Autis

Putro Agus Harnowo

 

 img
(foto: Thinkstock)

Jakarta, Autisme saat ini bukan hanya menjadi masalah anak dan orang tuanya saja, namun juga telah menjadi permasalahan global. Gangguan ini merupakan gangguan yang paling cepat perkembangannya di seluruh dunia. Bahkan, perkembangannya diklaim melebihi perkembangan penyakit AIDS, diabetes dan kanker.

Menurut data dari Unesco pada tahun 2011, terdapat 35 juta orang penyandang autisme di seluruh dunia. Rata-rata, 6 dari 1000 orang di dunia telah mengidap autisme. Di Amerika Serikat, autisme dimiliki oleh 11 dari 1000 orang. Sedangkan di Indonesia, perbandingannya 8 dari setiap 1000 orang. Angka ini terhitung cukup tinggi mengingat pada tahun 1989, hanya 2 orang yang diketahui mengidap autisme.

“Boleh jadi kenaikan itu disebabkan oleh metode diagnosis autisme yang semakin berkembang baik. Akan tetapi, dapat juga disebabkan karena adanya kontaminasi pada trimester pertama kehamilan, saat terbentuknya jaringan otak pada anak. Kontaminasi dari luar ini dapat berasal dari makanan atau lingkungan dan disebabkan karena kandungan logam berat dari makanan atau dari timbal asal kendaraan bermotor,” kata dr Kresno Mulyadi, Sp.KJ, psikiater dari RS Omni Hospital Alam Sutera Jakarta, dalam acara peluncuran jurnal Communicare mengenai anak berkebutuhan khusus di kampus STIKOM London School of Public Relation, Jakarta, Jumat (13/4/2012).

Menurut psikiater yang lebih akrab dipanggil kak Kresno ini, ada banyak faktor yang diduga dapat  menyebabkan autisme. Bahkan, diduga juga dapat disebabkan karena keturunan. Penelitian saat ini masih berkembang untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat memacu autisme.

Lebih lanjut lagi, Kak Kresno yang merupakan saudara kembar Seto Mulyadi, ketua Komisi Perlindungan Anak ini menegaskan kepada orang tua anak penyandang autis, untuk tetap berbesar hati. Saat ini, berbagai program penanganan anak autis sudah banyak tersedia. Penanganan yang diberikan sejak dini, terbukti mampu membuat anak-anak penyandang autis tumbuh baik dan, tak kalah dengan teman-teman sebayanya yang lain.

Untuk mengatasi perilaku hiperaktif pada anak-anak penyandang autisme, Kak Kresno menganjurkan untuk menerapkan pola makanan yang disebut CFGF (Casein Free Gluten Free). Pola makan ini menghindari konsumsi makanan yang mengandung kasein dan gluten yang banyak terkandung dalam tepung terigu dan protein dalam produk olahan susu, misalnya es krim dan keju.

“Makanan ini berkaitan dengan tidak optimalnya metabolisme anak. Ketika saya mencoba menerapkan diit ini pada anak-anak hiperaktif, tanpa menggunakan obat, hiperaktivitasnya dapat berkurang,” kata kak Kresno.

Saat ini, metode pendeteksian autisme sedang disempurnakan. Tujuannya adalah untuk memperjelas batasan-batasan autisme, agar tidak rancu. Sebab, beberapa anak yang mengalami keterlambatan perkembangan mental ada yang sudah divonis autis. Padahal, penanganan untuk gengguan keterlambatan mental,  berbeda dengan autis.

Apr 14, ’12 1:47 PM

(pah/ir)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s