Depresi-Facebook, Ancaman Baru Psikologi Anak

“Orang tua harus belajar internet agar memahami konteksnya”

Bayu Galih

Anak mengalami trauma (dok. Corbis)

Di zaman modern ini, dunia maya menjadi salah satu ancaman bagi psikologi anak. Jejaring sosial seperti Facebook, misalnya, bisa saja menganggu kejiwaaan anak, jika mereka tidak diawasi. Gangguan psikologi ini sering dinamakan depresi-Facebook (Facebook depression).

Menurut laporan American Academy of Pediatrics (AAP), depresi dapat dihindari, apabila orang tua mengawasi perilaku anak mereka di dunia maya.  Para peneliti di akademi itu menyarankan psikolog anak  (pediatricians) untuk aktif bicara kepada pasien anak-anak, orang tuanya, mengenai keselamatan di dunia maya. Keselamatan itu termasuk privasi, anonimitas, dan perilaku bullying di dunia maya.

“Kami tidak ingin melakukan demonisasi terhadap dunia maya atau mengatakan sosial media itu buruk. Kami hanya ingin orang tua lebih memperhatikan apa yang terjadi kepada anak mereka,” kata penulis laporan Gwenn Schurgin O’Keeffe, seperti dikutip dari Livescience.com.

Masalah dunia maya memang menjadi perhatian bagi perkembangan psikologi anak dan remaja. Berdasarkan studi yang dilakukan tahun lalu, 70 persen remaja pengguna internet di Amerika menggunakan jejaring sosial. Bahkan lebih dari setengahnya menggunakan jejaring sosial lebih dari sekali.

Sejumlah masalah yang biasa mengancam psikologi dan dapat menimbulkan depresi pada anak antara lain bullying, ekperimental seksual, dan interaksi dengan orang asing.

Dengan adanya dunia maya, masalah itu pun berkembang menjadi cyber bullying, eksperimental seks dengan tekstual (sexting) atau gambar, hingga interaksi dengan orang asing dengan anonimitas. Inilah penyebab terjadinya depresi-Facebook.

“Dokter harus bisa memberikan nasehat kepada orang tua akan isu-isu tersebut. Orang tua juga harus belajar internet agar memahami konteksnya,” ujar O’Keeffe.

Walau begitu, jejaring sosial juga dianggap memiliki sejumlah manfaat. Antara lain, jejaring sosial dianggap dapat membangun kepekaan anak akan komunitas dan berkomunikasi dengan sesama. Anak-anak juga bosa mendapatkan pendidikan seksual secara benar.

Namun, tetap penting bagi orang tua untuk menjamin anak-anak berinteraksi di dunia nyata, dan tidak hanya berkutat di dunia maya. Oleh karena salah satu tanda “depresi-Facebook” adalah ketika anak merasa kikuk dan moody setelah menghabiskan banyak waktu dengan membuka situs jejaring sosial.


Selasa, 29 Maret 2011, 10:07 WIB
• VIVAnews

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s