Fenomena ‘Monsoon’ Penyebab Jakarta Banjir

Monsoon adalah fenomena perubahan iklim secara ekstrim yang terjadi akibat adanya perubahan tekanan udara secara ekstrim di kawasan daratan India dan Lautan Hindia. Perubahan tekanan udara ini akan menyebabkan terjadinya angin sangat kencang (jet stream effect) dari lautan lepas menuju daratan India.

Perubahan atmosfer yang menyebabkan terjadinya monsoon ini diakibatkan oleh perubahan pola tekanan atmosfir yang disebabkan munculnya variasi rerata pemanasan dan pendinginan. Akibatnya terjadi perbedaan amplitudo yang sangat besar dalam siklus temperatur musim didaratan dengan lautan yang terdekat disekitarnya. Perbedaan tingkat pemanasan udara ini terjadi dikarena panas di dalam lautan dilepaskan secara vertikal melalui mixed layer (lapisan campuran) dengan kedalaman sekitar 50 meteran. Seiring dengan tiupan angin dan turbulensi yang terbentuk pada saat pelepasan panas dari dalam lautan, pelepasan suhu didaratan berjalan lambat bila dibandingkan dengan kecepatan pelepasan suhu dari dalam lautan. Sehingga terjadi pergerakan udara panas dari lautan menuju ke daratan akibat perbedaan tekanan atmosfer yang sangat ekstrim.

Dampak terjadinya monsoon selama musim panas adalah terjadinya udara bertekanan tinggi (ditunjukkan oleh gejala angin kecang dan ribut) yang bergerak ke arah utara dan menghasilkan hujan deras diatas daratan India. Selama musim hujan, terjadi fenomena yang terbalik, monsoon menyebabkan terjadinya kekeringan di daratan India.

Namun, bagi penduduk India keberadaan monsoon bukan dianggap sebagai bencana bahkan ada semacam ritual kepercayaan monsoon membawa berkah didalam kehidupan mereka. Hal ini disebabkan selama terjadinya monsoon, terjadi curah hujan yang besar dan sangat lebat. Hujan inilah yang sangat dibutuhkan penduduk India untuk memulai musim tanam di lahan-lahan pertanian mereka. Walaupun monsoon memiliki potensi untuk menyebabkan banjir dan kekeringan ditambah dengan dampak dari bencana tersebut seperti kerusakan bangunan, kematian dan wabah penyakit.

Jakarta – Hujan lebat di Jakarta yang terjadi pada Kamis (17/1/2013) . Akan ada fenomena monsoon di akhir pekan. Sehingga hujan lebat di pagi hari bisa sampai 3 hari ke depan alias sampai Minggu (20/1/2013).

“Untuk intensitas curah hujan harian paling tidak kita prediksikan 2-3 hari dengan hujan merata denga intensitas sedang sampai lebat untuk wilayah Jabodetabek,” jelas Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Mulyono Rahardi Prabowo.

Hal itu disampaikan Mulyono usai rapat koordinasi dengan Pemprov DKI dan Pemerintah Pusat di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (17/1/2013).

Mulyono menambahkan, ada tendensi curah hujan ke depan intensitasnya agak menurun. Namun, perlu diantisipasi intensitasnya. “Ada potensi juga curah hujan bisa berubah lagi,” tutur Mulyono memperingatkan.

Untuk air pasang, imbuhnya, secara siklus pada pertengahan tengah bulan potensi akan naik. Air pasang membuat banjir akan lambat surut.

“Pada tanggal pertengahan bulan atau akhir bulan perlu diantisipasi, karena pada saat ini paling tidak pertengahan bulan kecenderungan untuk agak lambat air menurun akan jadi hambatan,” jelas Mulyono.

Pernyataan Mulyono diperkuat oleh Kepala Bidang Cuaca Ekstrem BMKG Hariyadi dalam penjelasannya,Kamis (17/1/2013).

“Kita memprediksi akhir pekan ini hujan masih akan terjadi di Jabodetabek, peningkatan curah hujan ke arah sebagian besar pulau Jawa. Peningkatan curah hujan meningkat akhir pekan, 3 hari ke depan,” kata Hariyadi.

Hariyadi mengatakan hujan lebat di pagi hari berpotensi terjadi 3 hari ke depan karena ada fenomena monsoon.

Monsoon adalah suatu pola sirkulasi angin yang berhembus secara periodik pada suatu periode (minimal 3 bulan) dan pada periode yang lain polanya akan berlawanan. Di Indonesia dikenal dengan 2 istilah monsoon, yaitu monsoon Asia dan monsoon Australia.

Puncak musim hujan, berpeluang terjadi pada pertengahan Januari 2013 ini hingga pertengahan Februari 2013.

“Artinya, hujan-hujan lebat berpeluang terjadi antara satu bulan itu. Tapi belum dapat diprediksi kapan. Jakarta pernah hujan 300 mm tahun 2007 dan pernah hujan di atas 200 mm pada tahun 2002,” imbuh Hariyadi.

Sementara hari ini curah hujan tertinggi adalah 125 mm yang terjadi di wilayah Kedoya, Jakarta Barat.

sumber

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s