Seberapa Aman Botox dan Dermal Filler

Banyak wanita menggunakan cara instan untuk memperoleh kecantikan

 

Anda Nurlaila, Febry Abbdinnah

 

Suntik botoks pada wanita (corbis.com)

Saat ini banyak cara instan untuk mendapatkan kulit cantik. Tak perlu bersembunyi di balik make up tebal, tak perlu pula menghabiskan uang untuk prosedur operasi yang menyeramkan. Botox dan filler adalah jawabannya. Hanya dengan suntikan kecil, dalam 10 menit, kulit akan kembali muda.

Tak terhitung lagi artis-artis Hollywood yang rela melakukan perawatan botox dan filler agar tetap eksis di dunianya. Akan tetapi jangan pikir hanya artis Hollywood yang melakukannya. Banyak artis Indonesia, sosialita, bahkan politisi yang melakukan perawatan seharga jutaan rupiah tersebut.

Justeru, pertanyaan yang selalu hadir di dalam kepala adalah apakah ini sebuah prosedur yang aman?

“Botox dan filler terbilang aman karena tidak melalui prosedur pembedahan. Bahan-bahan yang digunakan pun aman untuk disuntikkan pada kulit,” ujar spesialis anti-aging dan estetika dr. Olivia Ong, Dipl. AAAM, di klinik kecantikannya di bilangan Jakarta.

Menurutnya, saat ini semakin banyak orang yang beralih dari facelift ke teknik injeksi, karena mereka menghindari efek negatif dari operasi. “Masyarakat sekarang kan mobilitasnya tinggi, sedangkan proses penyembuhan paska operasi seperti facelift membutuhkan waktu yang lama.”

Setali tiga uang dengan dr. Olivia Ong, spesialis kecantikan dr. Windy Keumala Budianti, SpKK juga menyediakan fasilitas serupa dengan alasan efektivitas. “Tanpa operasi, botox dan filler dapat  mengubah bentuk wajah seseorang dan dapat menyamarkan kerut. Hasilnya, pasien dapat tampak lebih muda secara natural dalam 2 hingga 3 hari,” ujarnya.

Meski diaplikasikan dengan cara yang sama, ternyata kedua jenis perawatan ini berbeda. Seperti diketahui, botox merupakan senyawa racun bernama botoxin atau Botlulinum Toxin A yang telah medapatkan sertifikasi dari FDA.

“Sebenarnya, racun tersebut sudah dimanipulasi jadi cukup aman jika dilakukan sesuai prosedur. Lagipula disuntikannya hanya di bawah permukaan kulit tidak sampai mengenai otot,” ujar dr. Windy.

Botox diklaim mampu menyamarkan garis-garis halus, memperbesar mata, memperkecil lubang hidung, menaikkan ujung hidung yang turun, hingga membentuk rahang persegi menjadi lebih lonjong.

Sedangkan, filler merupakan zat hyaluronic acid yang berguna mengikat air, memberi volume, menjaga kekencangan dan kekenyalan kulit, menambah hidrasi dan memberikan tekstur yang halus pada permukaan kulit.

“Sebenarnya, hyaluronic acid ini diproduksi secara alami oleh tubuh. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, zat ini akan semakin menipis sehingga kulit pun menipis,” ujar dr. Olivia.

Diakui kedua dokter kecantikan ini, filler lebih alami menyamarkan garis kerut yang dalam dibandingkan botox. Adapun kelebihannya adalah menyamarkan smiling line, meratakan cekungan bawah mata, membentuk pipi, memancungkan hidung, membentuk dagu, dan meremajakan kulit wajah dan leher.

Kedua perawatan kecantikan dengan injeksi ini memerlukan waktu yang cukup singkat. Apabila botox memerlukan waktu 10 menit dalam mengampilkasikannya, filler memerlukan kurang lebih 30 menit. “Lebih lama filler karena saya harus merekonstruksi wajah pasien,” ujar dr. Olivia.

Namun, bedanya akan terlihat pada hasil keduanya. Pada botox, hasil akan terlihat setelah 2 hingga 3 hari setelah injeksi. Hasil maksimal bakal terlihat pada hari ke-7 hingga ke-14. Sedangkan, hasil dari filler dapat langsung terlihat. “Botox dapat  bertahan hingga 6 bulan, filler bisa lebih lama yakni 9 bulan. Tapi biasanya kami menganjurkan pengulangan pada bulan ke-6 agar hasilnya lebih baik.” ujar dr. Windy.

Meski kedua dokter mengklaim, bahwa botox dan filler aman tanpa efek samping, kedua perawatan ini kerap kali memerlihatkan hasil yang tidak alami. Wajah artis Kelly Minogue, baru-baru ini, terlihat sangat kaku akibat suntik botox dan filler yang dilakukannya. Beberapa artis, seperti Nicole Kidman menyesal pernah melakukan prosedur suntik botox karena ia tidak dapat dengan bebas mengerutkan keningnya.

“Sebenarnya di setiap area yang dapat disuntikkan itu sudah ada prosedur yang baku dari penelitian. Hal ini bisa menghindari efek kaku tersebut,” ujar dr. Windy.

Sabtu, 10 Desember 2011, 10:23 WIB

• VIVAnews

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s