Berhasil, Rekayasa Kurangi Curah Hujan di Jakarta

Rekayasa dilakukan lima hari terakhir untuk kurangi potensi banjir

 

 Muhammad Chandrataruna, Amal Nur Ngazis

 

Rekayasa memodifikasi hujan telah dilakukan lima hari terakhir untuk kurangi potensi banjir.

Rekayasa memodifikasi hujan telah dilakukan lima hari terakhir untuk kurangi potensi banjir. (VIVAnews/Fernando Randy)

Sepanjang lima hari terakhir, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), telah berhasl memodifikasi hujan di sekitar DKI Jakarta melalui teknologi modifikasi cuaca (TMC).

Rekayasa hujan ini bertujuan mengurangi curah hujan yang mengguyur Ibukota sehingga meminimalisir potensi bencana banjir.

Kepala Bidang Pengkajian Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT, Tri Handoko Set, mengatakan, rekayasa yang dilakukan selama lima hari terakhir berjalan lancar dan cukup baik.

“Sistem pertumbuhan awan lima hari lalu cocok sekali dengan kegiatan TMC, dapat mengurangi curah hujan dengan maksimal,” ujar Tri pada VIVAnews di Jakarta, Rabu 30 Januari 2013.

Selama percobaan TMC, dia menjelaskan, pertumbuhan gumpalan awan terjadi sejak pagi hari dari wilayah barat yaitu Selat Sunda. Dengan TMC, awan tersebut dihujankan sebelum sampai Jakarta. “Gumpalan awan itu dihujankan (dibuat hujan) dari wilayah Pandeglang dan sekitar perbatasan laut di sekitar situ,” jelasnya.

Pagi tadi, BPPT sudah melakukan aktivitas rekayasa hujan menggunakan alat darat. Tri Handoko berharap ke depannya, TMC dapat maksimal seperti lima hari yang lalu.

Pengembangan TMC

Meski rekayasa hujan melalui TMC sudah cukup baik, Tri Handoko mengatakan akan terus mengembangkan teknologi tersebut, agar rekayasa hujan bisa dilakukan setiap waktu.

Sebagaimana diketahui, TMC saat ini hanya digunakan pada siang sampai sore hari. Di malam hari, TMC tidak dapat digunakan. “Malam hari pesawat tidak memungkinkan melihat awan,” ujarnya.

Untuk itu, BPPT memaksimalkan rekayasa pertumbuhan awan jelang sore hari dan menganalisa apakah pertumbuhan awan pada waktu ini berbahaya atau tidak. “Jika berbahaya, kami segera operasikan peralatan darat,” tambahnya.

Mengingat curah hujan diprediksi masih tinggi hingga Maret mendatang, ke depannya BPPT menyiapkan alternatif teknologi rekayasa hujan, agar dapat berfungsi sepanjang hari, dari pagi hingga malam hari.

BPPT berencana mengoperasikan pesawat nirawak serta roket untuk menyemai awan-awan di langit. “Kami menggunakan radar. Begitu radar melihat gumpalan awan, kami akan luncurkan roket ke awan,” katanya.

Pengoperasian pesawat nirawak sampai saat ini belum dapat dioperasikan karena penerapan TMC sendiri masih dikaji.

Rabu, 30 Januari 2013, 13:14
© VIVA.co.id

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s