Sejarah “Prajurit Janda” di Aceh Masa Perang Kemerdekaan

 

Keikutsertaan para perempuan Aceh ditemukan dalam perang tahun 1567 walau belum berhimpun dalam kesatuan khusus. Kerajaan Aceh Darussalam adalah kerajaan Islam yang berdiri setelah beberapa kerajaan kecil seperti kerajaan Samudra Pasai, kerajaan Pereulak, kerajaan Pedir yang bergabung dibawah Kerajaan Aceh Darussalam.

Kesultanan Aceh belum lama berdiri ketika Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Kesultanan ini secara bertahap menjadi kuat di semenanjung Sumatra pada paruh pertama abad ke-16.

Jennifer Dudley, seorang peneliti dari luar negeri mengatakan bahwa perempuan-perempuan itu bergabung ke dalam pasukan Sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil

Ada peristiwa menarik pada masa sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil (yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam mulai 997-1011 H atau 1589-1604 M) dimana pada masa sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil terjadi pertempuran antara armada selat malaka Aceh dengan armada Portugis. Di dalam pertempuran tersebut sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil memimpin sendiri armadanya dengan dikawal oleh dua orang laksamana.

Pertempuran teluk Haru berakhir dengan hancurnya armada Portugis, sementara dua orang laksamana Aceh bersama seribu prajuritnya syahid, Kemenangan armada Selat Malaka Aceh atas armada Portugis disambut gembira oleh seluruh masyarakat Kerajaan Aceh Darussalam, namun demikian laksamana Malahayati merasa geram dan marah kepada Portugis meskipun peperangan dimenangkan oleh armada Aceh. Laksaman Malahayati adalah istri salah satu laksamana yang syahid dalam perang laut Haru tersebut. Laksamana Malahayati diangkat oleh sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil menjadi komandan protokol istana Darud Dunia.

Oleh karena geram dan tidak senang terhadap Portugis kemudian Malahayati memohon kepada sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil agar membentuk sebuah armada Aceh yang prajurit–prajuritnya adalah para wanita janda, dimana suami mereka telah syahid dalam perang teluk haru, permohonan Laksamana Malahayati dikabulkan oleh sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil dan laksamana Malahayati diangkat sebagai panglima armada tersebut. Armada ini kemudian disebut dengan sebutan armada Inong Balee (armada wanita janda) dengan mengambil teluk Krueng Raya sebagai pangkalan armada.

Apabila ditelusuri Keumala Hayati (Laksamana Malahayati), sewaktu muda pernah mendapat pendidikan militer pada pusat pendidikan tentara Aceh yang bernama pusat pendidikan Asykar Baital Makdis. Para instrukturnya, antara lain terdiri atas para perwira Turki Usmani dalam rangka kerja sama dengan kerajaan Aceh Darussalam.

Malahayati memilih pendidikan angkatan laut, karena dalam tubuhnya telah mengalir darah prajurit laut. Ayah dan kakek laksamana Malahayati adalah para prajurit armada perang laut Aceh. Semangat dan kecintaan laksamana Malahayati terhadap laut Aceh dan kebenciannya terhadap Portugis serta kematian suaminya dimedan perang Haru menjadi latar belakang terbentuknya pasukan Inong Balee (armada wanita janda).

Sebelum armada Inong Balee turun Ke arena Perang Para pasukan Inong Balee Ini Diberikan Pelatihan Militer, yang dilatih oleh laksamana Malahayati agar kemudian para Inong Balee ini menjadi mahir dalam mengunakan senjata dan mampu mengendalikan kapal-kapal serta memiliki kemampuan fisik yang kuat, sehingga menjadikan pasukan ini menjadi pasukan yang tangguh.

Latihan militer tersebut diberikan di benteng Inong Balee yang sekarang terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar untuk mencapai tempat tersebut kita harus melintas 1 kilo meter dari jalan krueng raya. Keberadaan benteng Inong Balee di tepi jurang dan dibawahnya terdapat pantai dengan batuan karang.

Benteng Inong Balee ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan sekaligus sebagai asrama penampungan para janda yang suaminya telah gugur dalam pertempuran. pasukan Inong Balee ini di pimpin oleh laksamana Malahayati.

Setelah terbentuknya armada Inong Balee yang terdiri atas para janda, maka berikutnya adalah peran armada ini dalam mempertahankan Kerajaan Aceh Darussalam, armada ini sangat berjasa dalam menjaga laut Aceh dari penjajahan Portugis, yang ingin menguasai wilayah Aceh. Tradisi militer perempuan Aceh kemudian terus berkembang hingga sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh Darussalam Aceh (1607-1636 M).

sumber: historia.co.id dan atjehcyber.net

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s