Google Rayakan Ultah Nicolaus Copernicus

Bapak astronomi modern yang menentang ajaran Aristoteles dan Ptolemeus

 

 Muhammad Chandrataruna, Amal Nur Ngazis

Sistem Tata Surya

Sistem Tata Surya (solarsystem.nasa.gov) (solarsystem.nasa.gov)

 

Hari ini, Selasa 19 Februari 2013, Google merayakan kelahiran bapak astronomi modern, Nicolaus Copernicus. Peringatan hari kelahiran itu diabadikan dalam tampilan doodle laman depan Google.

Pada zamannya, Copernicus sangat populer dengan teori astronomi revolusioner, yang menentang ajaran filusuf Aristoteles dan kesimpulan matematikawan Yunani, Ptolemeus.

Teori astronomi Copernicus ini mengubah pemahaman manusia tentang Tata Surya. Ia mengatakan, bahwa Bumi bukan pusat dari alam semesta yang diam, tetapi justru Bumi bergerak mengitari matahari.

Untuk membuktikan teorinya, Copernicus merekonstruksi peralatan untuk menghitung jarak relatif antara planet-planet dan Matahari.

Selama bertahun-tahun, ia berupaya menentukan secara persis tanggal-tanggal di mana para pendahulunya telah membuat beberapa pengamatan penting di bidang astronomi.

Meski sempat lama hilang, kerangka astronom ini ditemukan lagi di bawah lantai ubin dekat salah satu sisi altar, di katedral Katolik Roma abad ke-14 di Frombork, Polandia.

Diperlengkap dengan data tersebut, Copernicus mulai mengerjakan dokumen kontroversial yang menyatakan bahwa Bumi dan manusia di dalamnya bukanlah pusat alam semesta.

Hasil pengamatan dalam risetnya, yaitu menempatkan matahari di tengah-tengah Tata Surya, bukan Bumi sebagaimana diyakini oleh banyak orang saat itu.

Teori revolusioner ini dikenal dengan teori Heliosentris, dan terbukti benar sampai hari ini.

Copernicus menghembuskan nafas terakhirnya pada 24 Mei 1543 di usia 70 tahun. Disebutkan, salinan pertama karyanya, De Revolutionibus, ditempatkan di tangan sang ahli pada hari kematian itu.

Dia lahir pada 19 Februari 1473, sebagai anak dari seorang pedagang di kota Toru?, Polandia. Ia mengenyam pendidikan di Akademi Krakow, atau sekarang bernama Universitas Jagiellonian, sebelum hijrah ke Italia untuk belajar hukum pada 1496.

Saat menjalankan studi di University of Bologna, gairah untuk mendalami geografi dan astronominya ditemukan oleh seorang profesor matematika, Domenico Maria de Novara.

Dilansir Guardian, 19 Febuari 2013, Copernicus kemudian kembali ke Polandia dan mengabdi sebagai sekretaris pamannya, seorang uskup bernama Lucas Waczenrode. Selanjutnya, ia mengambil jabatan administratif di kota Frauenberg, Polandia, untuk terus mendalami astronomi.

Baru pada tahun 1530, atas perintah dari gereja Katolik, Copernicus menghasilkan sebuah penelitian utama, De Revolutionibus Orbium Coelestium (On Revolusi dari Spheres Celestial).

Logo Google berupa sistem Tata Surya
Logo Google berupa sistem tata surya

Jika Copernicus masih hidup, hari ini ia akan menginjak usia ke 540 tahun. Untuk mengenang jasa-jasanya dalam mengubah pandangan manusia terhadap Tata Surya, Google tampaknya akan terus memasang gambar berupa ilustrasi Tata Surya pertama karyanya selama satu hari penuh.

Terima kasih, Copernicus. Selamat beristirahat.

Selasa, 19 Februari 2013, 14:37
© VIVA.co.id

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s