Studi: Percaya Azab Tuhan Dapat Ganggu Kejiwaan

 

Dapat menimbulkan paranoid atau cemas berlebihan pada seseorang

 

 

 

 Muhammad Chandrataruna, Amal Nur Ngazis

 

Asteroid berukuran raksasa menghantam Bumi (ilustrasi)

Asteroid berukuran raksasa menghantam Bumi (ilustrasi) (starryskies.com)

 

 

Sebuah studi kontroversial Journal of Religion and Health, menyatakan terdapat hubungan antara kepercayaan pada amarah Tuhan dan penyakit mental.

Studi ini juga menyatakan orang-orang mempercayai kemarahan Tuhan atau dewa menampilkan tingkat gangguan mental yang lebih tinggi, seperti disfungsi sosial, paranoid penyakit gila karena ketakutan, obsesi dan paksaan, semua hal yang terkait dengan kecemasan.

Berdasarkan laporan The Examiner, Softpedia melansir, 19 April 2013, kesimpulan itu didapat oleh Profesor Nava Silton dari Marymount Manhattan College dan rekan-rekannya, setelah menganalisis data riset yang terkumpul dalam Baylor Religion Survey of US Adults tahun 2010.

Dalam penelitiannya, Profesor Nava Silton memfokuskan pada tiga kategori dari keyakinan orang, yaitu orang meyakini kemarahan Tuhan, orang yang meyakini kasih sayang Tuhan dan dewa, serta orang yang meyakini bahwa Tuhan adalah entitas netral.

“Ketiganya diuji secara terpisah dalam model regresi kuadrat terkecil biasa (ordinary least squares/OLS) untuk memprediksi lima kelas gejala kejiwaan,” demikian abstraksi yang tertulis pada studi ini. Lima kelas itu yaitu kecemasan umum, kecemasan sosial, paranoid, obsesi, dan paksaan.

Hasil studi menyebutkan, keyakinan terhadap hukuman Tuhan berpotensi secara positif mengakibatkan empat gejala kejiwaan atau mental, yaitu mengendalikan karakteristik demografi, keagamaan, dan kekuatan keyakinan akan Tuhan atau kadar taqwa.

Sebaliknya, kepercayaan atas kebajikan Tuhan secara negatif menunjukkan empat gejala kejiwaan tersebut.

Hubungan antara kepercayaan amarah Tuhan dan penyakit mental dipelajari dalam konteks Evolutionary Threat Assessment System Theory, yang menyatakan bahwa gangguan kecemasan adalah hasil dari penafsiran kurang tepat oleh otak terhadap ancaman.

Profesor Nava Silton menekankan, fakta bahwa penelitiannya tidak membangun sebab akibat antara kepercayaan amarah Tuhan dan gangguan kecemasan.

Justru sebaliknya, studi ini semata-mata mengajak berpikir (pin down) lebih jauh tentang korelasi antara keduanya.

“Kami tidak mengatakan sebuah keyakinan menyebabkan gejala gangguan mental atau kejiwaan, tapi kami melihat hubungan antara keyakinan dan gejala kejiwaan,” tegas Profesor Silton.

Jum’at, 19 April 2013, 16:13
© VIVA.co.id

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s