Toilet Jongkok Lebih Sehat?

Sebagian orang lebih menyukai toilet duduk saat buang air dengan alasan kenyamanan. Namun, sebagian lagi lebih menyukai toilet jongkok karena alasan kebiasaan, bahkan ada yang tidak dapat  buang air, jika harus menggunakan toilet duduk.

Namun, tampaknya penyuka toilet jongkok harus berbangga. Pasalnya, beberapa penelitian menunjukkan toilet jongkok relatif lebih sehat karena dapat memudahkan proses buang air besar.

Sebuah studi di tahun 2003 melakukan percobaan pada 28 sukarelawan sehat. Mereka diminta buang air besar dengan tiga posisi yang berbeda, yaitu duduk di toilet duduk biasa, duduk di toilet duduk yang dimodifikasi menjadi lebih rendah, dan jongkok.

Kemudian para peneliti mencatat berapa lama waktu yang diperlukan, serta usaha yang dilakukan para peserta untuk buang air. Hasilnya, buang air di toilet jongkok paling minim membutuhkan waktu dan usaha.

Pakar sistem pencernaan Anish Sheth, salah satu penulis dari buku “What’s Your Poo Telling You?” dan “What’s My Pee Telling Me” mengatakan, ada alasan fisiologis mengapa diperlukan pose jongkok saat buang air.

“Sederhananya, pose jongkok meluruskan usus besar,” ujarnya.

Kolon, tempat penyimpanan feses, menekan otot puborectalis yang menjaga feses tidak keluar sebelum kita mencapai toilet. Buang air sambil duduk hanya merileksasi sebagian otot. Sementara buang air sambil jongkok merileksasi otot secara keseluruhan, sekaligus meluruskan posisi kolon. Sehingga memudahkan proses buang air.

Para ahli berpendapat, beberapa jenis penyakit pencernaan seperti radang usus, konstipasi ataupun wasir dapat dipicu oleh kebiasaan terlalu lama duduk di toilet. Studi menunjukkan, semakin lama duduk di toilet, maka semakin besar risiko mengalami wasir.

Hal ini erat hubungannya dengan kegiatan mengejan saat terlalu lama duduk untuk buang air besar. Wasir terjadi ketika pembuluh darah di bagian dubur bengkak, sementara tekanan saat mengejan akan menyebabkan pembuluh darah semakin membesar.

Saat ini, toilet jongkok digunakan di seluruh dunia. Bahkan ada beberapa tempat yang menyediakan dua jenis toilet sekaligus di dalam satu bilik.

Menurut Sheth, saat ini belum ada cara yang lebih baik dari jongkok untuk buang air besar.

Evolusi Televisi Jaman Dulu Sampai Sekarang

 

Televisi adalah salah satu media penyampai informasi elektronika. Media televisi sudah ada sejak zaman dahulu yang aneh sampai zaman modern sekarang ini, dan masih menjadi favourite pilihan masyarakat sebagai salah satu media elektronik yang palig banyak digemari.

Berikut Koleksi Foto TV zaman dulu sampai sekarang :

 

 

Televisi Tertua di Dunia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Televisi Paling Canggih di Dunia

Unik, Desa di Papua Ini Selalu Diguyur Hujan Saat Sore Hari

 

Datanglah pada pagi hari saat berkunjung ke desa ini, karena ketika sore tiba, hujan selalu mengguyur desa sekalipun musim kemarau. Karena penduduk merasa kuatir saat sore tiba, desa ini pun diberi nama Kwatisore.

Kwatisore adalah sebuah desa di Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Nabire, Papua. Begitu tiba di muka desa, sebuah dermaga kayu yang kokoh menyambut kedatangan setiap turis yang datang. Inilah pintu masuk Desa Kwatisore.

Nama Desa Kwatisore memang cukup unik, diambil dari “Khawatir Sore”. Dinamakan demikian karena setiap sore desa ini selalu diguyur hujan, sekalipun musim kemarau. Unik bukan?

Jalanan yang ada di Desa Kwatisore sangat bersih. Begitupun dengan udara di sana yang begitu bersih bebas polusi. Salah satu penyebabnya adalah karena tidak ada kendaraan bermotor di desa ini. Jadi, udara terbebas dari polusi asap kendaraan.

Lanjutkan terus perjalanan menyusuri Desa Kwatisore, jejeran rumah yang tersusun rapi akan menambah sedap pemandangan desa ini. Jika berkeliling pada sore hari, desa akan terlihat ramai dengan tawa riang anak-anak yang asyik bermain.

Di malam hari, Desa Kwatisore menjadi sangat gelap gulita. Penerangan begitu minim karena listrik di desa ini masih sangat terbatas. Tapi justru pada malam harilah kehangatan warga desa terasa begitu kental.

Ada satu bangunan yang rutin dikunjungi seluruh penduduk desa pada malam hari. Letaknya tepat di tengah desa. Bangunan ini digunakan penduduk untuk me televisi bersama-sama. Di tempat inilah para warga bercengkrama, bertegur sapa. Kebersamaan begitu terasa kental.

 

Kebanyakan penduduk Kwatisore memiliki pekerjaan sebagai nelayan tradisional. Mereka menggunakan kole-kole (longboat) untuk menangkap ikan. Yang unik dan tak biasa dari desa ini adalah hewan peliharaan penduduk. Beberapa penduduk Kwatisore memelihara rusa dan buaya muara. Hii!

Lebih menariknya lagi, jika menengok ke pekarangan rumah, Anda dapat melihat aneka anggrek khas papua banyak ditanam warga. Rupanya anggrek-anggrek cantik ini diambil langsung oleh warga dari dalam hutan.
Jika ingin berkunjung ke desa ini, sebaiknya datang pada pagi hari. Karena, pada siang hari gelombang perairan Teluk Cendrawasih cukup tinggi.

 

Kecanduan Cola Sama Seperti Kecanduan Kokain?

 

Asam dalam minuman secara perlahan akan menggerogoti enamel gigi

 

 

Mona Indriyani

 

 

Kecanduan soda sama dengan kecanduan kokain. (VIVAnews/ Muhamad Solihin)

Sebuah penelitian baru menunjukkan, konsumsi minuman soda dalam waktu berkepanjangan, dapat mempengaruhi kesehatan gigi. Gangguan mulut ini sama dengan efek samping dari penyalahgunaan metamfetamin atau kokain, seperti yang ditulis Business insider.

Asam dalam minuman tersebut secara perlahan akan menggerogoti enamel gigi. Permukaan gigi yang tadinya keras dan bewarna putih bak mutiara, akan berubah menjadi rapuh, retak, berlubang dan menguning.

Selain kesehatan gigi, minuman ini juga berdampak pada obesitas, depresi dan diabetes. Berikut ini adalah 4 fakta menakutkan seputar konsumsi minuman soda.

1. Meningkatkan Serangan Jantung

Para peneliti dari Havard School of Public Health, menemukan, konsumsi minuman manis buatan, seperti yang ada dalam soda, meningkatkan risiko serangan jantung pada pria.

2. Dapat Jadi Karsinogen

Sebuah studi independen pada tahun 2012 oleh   Pusat Ilmu Pengetahuan untuk Kepentingan Umum, menemukan senyawa 4-methylimidazole (4-MI) pada minuman Coke, Coke Diet, Pepsi dan Pepsi diet. Senyawa tersebut digunakan untuk pewarna cokelat minuman. Yang menjadi masalah adalah kadar dari senyawa tersebut melebihi batas maksimum yang telah ditetapkan pihak keamanan pangan.

3. Membangun Lemak
Dalam American Journal of Clinical Nutrition menuliskan, orang yang minum soda memiliki total lemak jauh lebih tinggi dibandingkan orang yang minum susu. Padahal susu dan soda memiliki total kalori yang sama.

4. Memperpendek Umur

Tingginya tingkat fosfor dalam cola berkontrubusi terhadap umur seseorang. Menurut penelitian yang dilakukan pada tikus percobaan, kandungan fosfor yang tinggi dalam darah memperpendek umur binatang tersebut.

Jum’at, 31 Mei 2013, 00:54 WIB

• VIVAlife

Ini Sebab Suhu Planet Venus Panas Seperti ‘Neraka’

Planet kembaran bumi itu sama sekali tidak memiliki air

 Desy Afrianti, Tommy Adi Wibowo

Bumi, Mars, dan Venus
Bumi, Mars, dan Venus (U-Report) (U-Report)

Sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu, dua planet dengan ukuran yang sama dan letak yang relatif dekat dengan bumi mulai terbentuk di sistem Tata Surya. Dua planet itu adalah Bumi dan Venus.

Tapi, karakteristik Venus selalu menjadi misteri bagi para ilmuwan. Planet kembaran bumi sama sekali tidak memiliki air dan cuacanya yang sangat panas. Sangat tidak cocok untuk kehidupan.Karakteristik Venus yang berbeda jauh dengan bumi itu yang selalu membingungkan para peneliti. Sangat misterius. Penelitian ini mengungkapkan, posisi Venus yang dekat dengan matahari menjadi alasan kuat planet itu memiliki hawa yang panas.Melansir Science Recorder, Kamis, 30 Mei 2013, tim peneliti dari University of Tokyo, Jepang, telah membuat temuan terbaru yang menjelaskan keadaan Venus yang panas seperti ‘neraka’.

Mereka membuat model awal Bumi dan Venus terbentuk, untuk menjelaskan kenapa satu planet sangat cocok untuk kehidupan, sementara planet yang satunya sangat tidak mungkin untuk ditinggali. “Penelitian ini menyimpulkan, kedua planet pada awalnya mempunyai banyak kandungan air. Tapi, bumi telah didinginkan pada tingkat yang lebih cepat dari pada Venus,” kata Keiko Hamno, pemimpin penelitian.

Hamno menjelaskan, saat planet-planet mulai dingin, maka air yang ada di dalam mineral akan keluar dan memancarkan uap. Kedua planet pun mengalami gas efek rumah kaca dari uap air yang terperangkap di atmosfer.

“Tapi, sekali lagi, bumi memiliki tingkat pendinginan yang lebih cepat, sehingga mampu menyingkirkan hawa panas yang terperangkap di atmosfer. Hasilnya uap air terkondensasi dan merubahnya menjadi lautan,” ujar Hamno.

Sementara posisi Venus yang lebih dekat dengan matahari membuatnya tidak mampu mendinginkan suhu dengan cepat. Akibatnya uap air terperangkap di atmosfer lebih lama dan menimbulkan radiasi ultraviolet. “Penguapan air merupakan tahap awal dalam pembentukan air laut dan lempeng tektonik yang mendukung sebuah kehidupan,” kata Hamno.

Jum’at, 31 Mei 2013, 05:40
© VIVA.co.id

Tiga Taman Nasional Warisan Dunia di Bukit Barisan

Namun sejak 2011, UNESCO menyatakan dalam bahaya kepunahan

 Arfi Bambani Amri

Gunung Kerinci di perbatasan Jambi-Sumatera Barat

Gunung Kerinci di perbatasan Jambi-Sumatera Barat (Antara/ Hendri) (Antara/ Hendri)
Bukit Barisan merupakan tulang punggung Pulau Sumatera. Di sepanjang lebih dari 1.600 kilometer pegunungan ini, terdapat puluhan cagar alam dan tiga taman nasional yang masuk dalam Warisan Dunia UNESCO sejak 2004.

Tiga taman nasional itu adalah Taman Nasional Gunung Leuser di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, Taman Nasional Kerinci Seblat di Provinsi Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Provinsi Bengkulu dan Lampung. Ketiganya tergabung dalam Warisan Hutan Hujan Sumatera UNESCO dengan total luas lebih dari 2,5 juta hektare.

Dalam proposal yang diajukan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla di tahun 2003, disebutkan, bahwa Hutan Hujan Sumatera ini rumah bagi 10 ribu spesies tanaman, termasuk 17 tanaman endemik; lebih dari 200 mamalia; 580 spesies burung di mana 21 di antaranya endemik.

Dari sejumlah spesies mamalia itu, terdapat Orangutan Sumatera yang endemik. Namun sejak 2011, UNESCO menyatakan status Warisan Hutan Hujan Sumatera ini dalam bahaya kepunahan.

Ketiga situs ini memiliki sejumlah hewan endemik terancam punah seperti Harimau Sumatera, Badak Sumatera, Gajah Sumatera, Orangutan Sumatera, dan kelinci hutan Sumatera. Keanekaragaman fauna di Sumatera tinggi yakni 201 spesies, bandingkan dengan Kalimantan yang 222 spesies namun dengan luas wilayah nyaris dua kali Sumatera.

                                     Keterangan: Taman Nasional ditandai dengan warna ungu

Di Indonesia, ada tiga taman nasional lagi yang masuk Warisan Dunia UNESCO yakni Taman Nasional Ujung Kulon di Banten, Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur dan Taman Nasional Lorentz di Papua. Selain itu, juga ada Warisan Budaya Dunia seperti Borobudur, Prambanan, Sangiran dan Sistem Subak di Bali.

Berikut profil tiga Taman Nasional yang masuk Warisan Hutan Hujan Sumatera di Bukit Barisan tersebut:

 

1. Taman Nasional Gunung Leuser

https://i0.wp.com/media.viva.co.id/images/2012/01/24/141166_hutan-wisata-taman-nasional-gunung-leuser--tngl--di-tangkahan--langkat.jpg

Hutan Wisata Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Tangkahan, Langkat

Sejarah Taman Nasional Gunung Leuser dimulai dari pendirian Cagar Alam Gunung Leuser oleh pemerintah Belanda di tahun 1934 seluas 416.500 hektare. Beberapa tahun kemudian, Cagar Alam Rawa Kluet, Cagar Alam Sekundur, Cagar Alam Langkat Barat dan Cagar Alam Langkat Selatan dimasukkan ke dalam Cagar Alam Gunung Leuser.

Setelah kemerdekaan, sejumlah cagar alam dan suaka margasatwa digabungkan pula ke dalamnya. 6 Maret 1980, pemerintah resmi mengumumkan pendirian Taman Nasional Gunung Leuser seluas 792.675 hektare yang membentang dari Aceh sampai Sumatera Utara. Tahun 1984, Taman Nasional diperluas lagi sampai jadi 862.975 hektare yang menggabungkan lima cagar alam, satu hutan wisata, dan dua hutan lindung.

Taman Nasional ini membentang dari pegunungan sampai rawa-rawa berbatasan dengan Samudera Hindia, namun kebanyakan di dataran tinggi. Terdapat setidaknya 33 bukit dan gunung, yang tertinggi adalah Gunung Leuser (3.466 meter di atas permukaan laut).

Posisi: 2° 53′ – 3º 50′ Lintang Utara dan 96º45′ – 97º35′ Bujur Timur

2. Taman Nasional Kerinci Seblat

Sebelum menjadi taman nasional, dulunya terdapat berbagai hutan lindung, cagar alam dan suaka margasatwa di kawasan ini. Tahun 1921, Belanda memberi status cagar alam pada hutan Indrapura dan Bayang di Pesisir Selatan dan Solok (205.550 hektare). Tahun yang sama, hutan di Merangin Alai di Bungo Tebo and Sarolangun, Jambi, diberi status hutan lindung. Terdapat berbagai hutan lindung lagi di Bengkulu, Sumatera Barat dan Jambi beberapa tahun setelah itu.

Tahun 1979, pemerintah Indonesia kemudian menetapkan status cagar alam buat hutan Rawas Ulu Lakitan di Musi Rawas, Sumatera Selatan. Tahun 1980 and 1981, hutan Bukit Kayu Embun dan Bukit Gedang di Bengkulu Utara dan Rejang Lebong juga memperoleh status yang sama. Barulah tahun 1982, semua cagar alam itu digabung jadi satu dengan nama Taman Nasional Kerinci Seblat yang melingkupi kawasan seluas 1,48 hektare di empat provinsi. Tahun 1999, luas taman itu menciut, disahkan jadi 1.375.349.867 Ha.

Taman ini membentang umumnya di pegunungan, di mana sisi timurnya lebih rendah pegunungannya. Puncak tertinggi adalah Gunung Kerinci (2.805 meter) sehingga menempatkannya sebagai gunung api tertinggi di Indonesia.

Posisi: 1° 7′ 13’’ – 3º 26′ 14’’ Lintang Selatan dan 100º 31′ 18’’ – 102º 44′ 1’’ Bujur Timur

3. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

Tahun 1935, pemerintah Belanda memberi status suaka alam pada kawasan yang kini dikenal sebagai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Tahun 1982, barulah Indonesia mengubahnya menjadi taman nasional namun baru resmi menyandang nama Taman Nasional Bukit Barisan Selatan tahun 1984. Tahun 1990, Taman Laut Bukit Barisan Selatan dimasukkan dalam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ini dengan total luas 356.800 Ha.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan ini membentang dari pesisir sampai pegunungan. Di selatannya, dilingkari laut, sementara di ke utara, membentang di pegunungan.

Posisi: 4° 29′ – 5º 57′ Lintang Selatan dan 103º 24′ – 104º 44′ Bujur Timur. (umi)

Jum’at, 31 Mei 2013, 06:01

© VIVA.co.id

Mengenal Lima Zat Racun Dalam Rokok

Semua zat berbahaya ini mengacu pada kanker dan kerusakan paru-paru

 

Mona Indriyani

 

Rokok mengacam kesehatan secara perlahan. (health. india.com)

Bagi sebagian orang, rokok adalah solusi kehidupan. Terutama saat mereka dilanda stres dan dihadapi oleh beragam masalah berat. Bahkan, tak sedikit juga mereka berpikir rokok adalah obat percaya diri, yang dapat membuat mereka tampil gaya dan keren.

Dibalik semua pemahaman tersebut, pernahkah Anda berpikir mengapa rokok itu dilarang dan berbahaya? Berikut ini kandungan zat dalam rokok yang menjadi racun bagi yang menghisap, maupun orang ada di sekelilingnya, seperti yang ditulis Health.india.com.

Bensol

Ini adalah senyawa kimia yang hadir dalam minyak mentah dan merupakan salah satu petrokimia paling dasar, biasa digunakan dalam pestisida dan bensin. Ini adalah karsinogen yang paling mungkin menyebabkan leukemia (kanker darah) pada manusia. 50 Persen dari paparan benzena disebabkan karena merokok. Kontak yang terlalu lama juga dapat menyebabkan anemia, kerusakan genetik dan perdarahan yang berlebihan.

Formaldehida

Formaldehida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengawetkan mayat. Efek sampingnya, iritasi mata dan batuk, terutama pada orang sekitar yang terpapar asap rokok.

Tar

Ini adalah istilah kolektif yang digunakan untuk menggambarkan partikel yang dihasilkan oleh pembakaran tembakau. Seperti yang terlihat pada jari dan gigi, yang berwarna kuning-cokelat. Tar juga dapat mengiritasi sistem pernapasan, sehingga menjadi sulit bernapas.

Arsenikum
Seiring waktu, arsenikum yang terakumulasi dalam tubuh akan membuat seseorang berujung pada kanker dan kerusakan jantung. Efek negatif lainnya adalah, zat ini dapat mengganggu kemampuan sistem tubuh untuk memperbaiki DNA.

Khrom

Digunakan untuk membuat paduan logam, pewarna dan cat dan pengawet kayu dan diketahui menyebabkan kanker paru-paru. (umi)

Rabu, 29 Mei 2013, 15:36 WIB

• VIVAlife

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Join 153 other followers

  • May 2013
    M T W T F S S
    « Apr   Jun »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031