Legenda Jakarta (03): Glodok, Hikayat Kampung Isolasi Batavia

darkbeat's Avatar

Menyusuri gang-gang di perkampungan Glodok, Jakarta Barat, aroma hio begitu menyengat. Dari balik tembok-tembok rumah, samar-samar terdengar alunan lagu Mandarin. Warung-warung dengan menu Chinnese food pun bertebaran.

Melangkah semakin dalam bak memasuki sebuah desa di negeri Tirai Bambu. Sejumlah shinse membuka praktek pengobatan alternatif. Kios-kios penjual pernak-pernik khas China menjamur di sekeliling klenteng.

Begitu kental karakter Tionghoa di kawasan tua Jakata ini. Tak heran, jika masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Pecinan atau Cina Town. “Sejak penjajahan dulu,hampir 100 persen yang tinggal di sini orang keturunan Cina,” ujar Ketua RW 02 Glodok, Wong Wan Hie (55).

Menilik sejarah yang tercatat di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kota Tua, Glodok merupakan bekas area isolasi bagi warga Tionghoa di Batavia. Oleh Verenigde Oost Indie Compagnie (VOC), perkampungan itu dibangun pascapemberontakan etnis Cina di Batavia tahun 1740.

Setelah pemberontakan yang menewaskan 10 ribu warga Cina ditumpas Belanda, warga Cina tidak boleh lagi tinggal di dalam tembok kota Batavia. VOC lantas memerintahkan pendirian kampung khusus Cina di luar Batavia. Dipilihlah Glodok yang kala itu masih berupa hutan dan berada di luar kota Batavia.

Sejak terusir dari Batavia, warga Cina terkonsentrasi di kawasan yang awalnya tak bernama itu. Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka membuat penampungan air dari kali Molenvliet (Ciliwung). Dari ketinggian sekitar 10 kaki, air dari penampungan itu kemudian dialirkan dengan pancuran kayu.

Terdengarlah bunyi “grojok, grojok, grojok, …” setiap kali warga mengambil air. Lambat laun kata “grojok” kemudian biasa diucapkan warga dengan lafal cedal menjadi ”glodok”. Gara-gara itulah kawasan isolasi tersebut kemudian mulai dikenal dengan sebutan Glodok.

Minimnya literatur kuno membuat sejarah penamaan Glodok simpang siur. Ada pula yang meyakini nama Glodok berasal dari tangga yang menempel di tepian Kali Ciliwung. Dalam bahasa Sunda, tangga yang biasa digunakan warga untuk mengambil air kali itu disebut Glodok.

Sedangkan dalam buku yang diterbitkan Dinas Museum dan Sejarah DKI tahun 1988 menyebut kemungkinan nama Glodok berasal dari seorang warga Bali bernama Kapten Tjirra Glodok. Sayangnya, buku tersebut tidak menjelaskan detail hubungan sang kapten dengan kawasan yang kini kondang sebagai pusat perdagangan elektronik.

Terlepas dari asal-usul penamaannya, Glodok kini tumbuh sebagai sentra bisnis yang diperhitungkan di Ibu Kota. “Umumnya orang Cina dari kecil dididik berdagang. Jadi kalau ada lahan di depan rumah dibuat lahan dagang,” kata Wan Hie.

Pernyataan Wan Hie seolah menjawab sejarah kemunculan pusat perdagangan di Glodok. Budaya berdagang yang diwariskan para leluhur masyarakat Cina sukses menggairahkan perekonimian di Glodok.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Join 146 other followers

  • June 2013
    M T W T F S S
    « May   Jul »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930