Akar Masalah Perbedaan Penetapan Muhammadiyah: Kasus Ramadhan 1434/2013

 

T. Djamaluddin

 

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

 

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama

 

Maklumat Muhammadiyah 1434-1

 

Maklumat Muhammadiyah 1434-2

 

Penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah 1434 adalah hal yang biasa secara astronomis. Dengan hisab kita bisa menghitung untuk waktu kapan pun dan kini software perhitungan semacam itu semakin banyak tersedia, sebagian diantaranya bisa diunduh di internet, misalnya Accurate Time dan Stellarium. Namun, ada masalah yang perlu kita fahami bersama. Awal Ramadhan dipastikan akan beda. Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan jatuh 9 Juli 2013, sedangkan ormas-ormas Islam lain yang menggunakan hisab imkan rukyat (IR, visibilitas hilal) menetapkan 10 Juli 2013. Hasil rukyat dan keputusan sidang itsbat akan diputuskan pada 8 Juli 2013 yang kemungkinan besar menetapkan 10 Juli 2013. Mengapa dapat  berbeda?

 

Akar masalah perbedaan keputusan awal Ramadhan Muhamadiyah dari ormas-ormas Islam lainnya adalah kriteria usang Wujudul Hilal (WH) pra-1970-an. WH + wilayatul hukmi Indonesia hanya ada di Muhammadiyah. ISNA (Islamic Society of North America) menggunakan kalender Ummul Quro (WH di Mekkah) hanya untuk alasan praktis kepastian. Sedangkan Arab Saudi saja sama sekali tidak menggunakan kalender Ummul Quro untuk penentuan waktu ibadah. Sebenarnya, hisab itu bukan hanya wujudul hilal, tetapi ada jugaIR . Dalil IR = dalil rukyat, karena kriteria IR hanyalah kuantifikasi ketampakan hilal untuk hisab. Sama seperti kriteria jadwal shalat pada hisab jadwal shalat yang merupakan kuantifikasi waktu-waktu shalat yang didalilkan pada fenomena fajar, ba’da zawal, panjang bayangan, terbenam matahari, dan hilangnya cahaya syafak. Dalil WH tidak jelas. QS 36:40 sama sekali tidak menjelaskan WH. Bagaimana pun waktu ibadah perlu adanya dalil, tidak bisa seenaknya berdasarkan logika. Secara astronomis, awal bulan adalah sejak ijtimak/konjungsi yang disebut newmoon (bulan baru). Tetapi para ulama bersepakat tidak menjadikannya sebagai awal bulan Islam. WH itu sama sekali tidak berdasar, tidak ada dalil syar’i dan tidak ada landasan astronomisnya. 

 

Seperti apa sih kondisi bulan-matahari pada 8 Juli 2013? Kita gunakan Stellarium untuk memvisualisasikan posisi bulan dan matahari.

 

Bulan-matahari 8 Juli 2013

 

Bulan-matahari 8 Juli 2013-b

 

Kondisi bulan yang yang terlalu dekat matahari dan terlalu rendah dari ufuk tidak memenuhi kriteria IR dan pasti tidak mungkin dapat dirukyat. Hal ini menjadi sebab utama terjadinya beda penetapan antara Muhammadiyah dan ormas-ormas Islam lainnya di Indonesia. Jadi penyebabnya BUKAN perbedaan hisab dan rukyat, karena kriteria IR juga adalah hisab.

 

Mari kita cermati lebih rinci soal WH awal Ramadhan 1434. Kita gunakan Accurate Time untuk memvisualisasikannya.

 

1434-Ramadhan-Garis tanggal

 

Garis batas arsir merah dan putih yang melintasi Amerika Utara, Afrika-Utara, Jazirah Arab, India, dan Indonesia adalah garis tanggal WH. Garis batas arsir merah dan putih yang melewati Australia adalah garis Ijtimak qablal ghurub (saat maghrib saat terjadi ijtimak/bulan baru). Sumatera, Jawa, Kalimantan bagian Selatan, Bali, dan Nusa Tenggara  sudah memenuhi kriteria WH, tetapi di wilayah lainnya saat maghrib 8 Juli 2013 bulan belum wujud. Hal itu disebutkan dalam butir 3 maklumat Muhammadiyah tersebut di atas. Lalu mengapa Ramadhan 1434 diputuskan (pada butir 4) jatuh pada tanggal 9 Juli 2013? Muhammadiyah menggunakan prinsip wilayatul hukmi, yaitu Indonesia dianggap sebagai satu wilayah hukum, maka wujudulnya hilal di sebagian Indonesia dianggap berlaku untuk seluruh wilayah hukum. Prinisp wilayatul hukmi sebenarnya adalah prinsip rukyat, ketika batas keterlihatan tidak bisa didefinisikan. Ketika menggunakan hisab murni, batas itu nyata bisa dibuat. Semestinya, Muhammadiyah konsisten untuk menjadikan wilayah yang belum wujud hilalnya memulai Ramadhan pada 10 Juli 2013.

 

Muhammadiyah memang sebenarnya menggunakan prinsip rukyat, hanya tidak diakuinya. Pertama, mereka menggunakan batas waktu maghrib yang berasal dari konsep rukyat. Konsep hisab murni sebenarnya hanya merujuk pada ijtimak/bulan baru. Kedua, mereka menggunakan prinsip wilayatul hukmi yang juga berasal dari konsep rukyat. Ketiga, dalam menghitung posisi digunakan koreksi refraksi yang pada hakikatnya menggambarkan penjalaran cahaya yang diperhitungkan untuk rukyat. Jadi, sebenarnya selangkah lagi Muhammadiyah bisa bergabung dengan ormas-ormas Islam lainnya untuk menerima kriteria IR, yang dalam konsepnya ketiga hal tersebut menjadi bagian utamanya. Kalau itu dilakukan, persatuan ummat bisa terjaga dan tentu saja konsep Hisab dan Rukyat yang setara bisa diterapkan secar konsisten.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s