Elpiji Naik, Indonesia Miliki Cadangan Gas 98 Triliun Kaki Persegi (01)

Selain penghasil emas terbaik dan terbesar di dunia, Indonesia juga memiliki cadangan gas alam yang paling besar di dunia yang berada di Blok Natuna. Berapa banyak cadangan gas alam yang tersimpan di Blok Natuna?

Baru perkiraan, hanya dari Blok Natuna D Alpha saja, Indonesia sudah memiliki cadangan gas alam sebesar 200 triliun kubik gas alami. Selain Blok Natuna, Indonesia masih memiliki beberapa blok-blok penghasil gas alam lainnya.

Sejarah Perusahaan Gas Negara (PGN)


PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk disingkat PGN (IDX: PGAS) adalah sebuah BUMN yang bergerak di bidang transmisi dan distribusi gas bumi.

Semula pengusahaan gas di Indonesia adalah perusahaan gas swasta Belanda yang bernama I.J.N. Eindhoven & Co berdiri pada tahun 1859 yang memperkenalkan penggunaan gas kota di Indonesia yang terbuat dari batu bara.

Proses peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada Sekutu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pemuda dan buruh listrik melalui delegasi Buruh/Pegawai Listrik dan Gas yang bersama-sama dengan Pimpinan KNI Pusat berinisiatif menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan tersebut kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Pada 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW.
Pada tahun 1958 perusahaan tersebut dinasionalisasi dan diubah menjadi PN Gas.
Pada tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas yang dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1965. Pada saat yang sama, 2 (dua) perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pengelola tenaga listrik milik negara dan Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pengelola gas diresmikan.
Selanjutnya pada tanggal 13 Mei 1965 berubah menjadi Perusahaan Gas Negara. Tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai hari jadi PGN pada tiap tahunnya.
Perusahaan ini yang semula mengalirkan gas buatan dari batu bara dan minyak dengan teknik Catalytic Reforming yang tidak ekonomis mulai menggantinya dengan mengalirkan gas alam pada tahun 1974 di kota Cirebon. Konsumennya adalah sektor rumah tangga, komersial dan industri. Penyaluran gas alam untuk pertama kali dilakukan di Cirebon tahun 1974, kemudian disusul berturut-turut di wilayah Jakarta tahun 1979, Bogor tahun 1980, Medan tahun 1985, Surabaya tahun 1994, dan Palembang tahun 1996.
Berdasarkan kinerjanya yang terus mengalami peningkatan, maka pada tahun 1984 statusnya berubah menjadi Perusahaan Umum Gas Negara Perum dan pada tahun 1994 statusnya ditingkatkan lagi menjadi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) dengan penambahan ruang lingkup usaha yang lebih luas yaitu selain di bidang distribusi gas bumi juga di bidang yang lebih ke sektor hulu yaitu di bidang transmisi, dimana PGN berfungsi sebagai transporter.

PGN kemudian memasuki babak baru menjadi perusahaan terbuka ditandai dengan tercatatnya saham PGN pada tanggal 15 Desember 2003 di Bursa Efek Indonesia dan namanya resmi menjadi PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.

Bisnis PGN

1. Distribusi gas bumi

PGN mengoperasikan jalur pipa distribusi gas sepanjang lebih dari 3.750 km, menyuplai gas bumi ke pembangkit listrik, industri, usaha komersial termasuk restoran, hotel dan rumah sakit, serta rumah tangga di wilayah-wilayah yang paling padat penduduknya di Indonesia. PGN mendapatkan keuntungan dari penjualan gas kepada konsumen.

2. Transmisi Gas Bumi

Jalur pipa transmisi gas bumi PGN terdiri dari jaringan pipa bertekanan tinggi sepanjang sekitar 2.160 km yang mengirimkan gas bumi dari sumber gas bumi ke stasiun penerima pembeli. PGN menerima Toll Fee untuk pengiriman gas sesuai dengan Perjanjian Transportasi Gas (GTA) yang berlaku selama 10-20 tahun. Unit Bisnis Strategis

Untuk mengawasi kegiatan operasional transmisi dan distribusi, PGN membagi area bisnisnya menjadi empat Unit Bisnis Strategis dengan fokus geografis masing-masing:

SBU Distribusi Wilayah I, mencakup area Sumatera Selatan, Lampung hingga Jawa Barat (termasuk Jakarta).
SBU Distribusi Wilayah II, mencakup area Jawa Timur.
SBU Distribusi Wilayah III, mencakup Sumatera Utara, Riau (Pekanbaru) dan Kepulauan Riau (Batam).
SBU Transmisi, mencakup jaringan transmisi di Sumatera Selatan dan Jawa.

Selain itu, anak perusahaan PGN, PT Transportasi Gas Indonesia, mengelola bisnis transmisi gas bumi untuk jaringan Grissik-Duri dan Grissik-Singapura. Anak Perusahaan dan Perusahaan Afiliasi :

PT Transportasi Gas Indonesia : transmisi gas bumi
PT PGAS Telekomunikasi Nusantara (PGASCOM) : telekomunikasi
PT PGAS Solution : konstruksi, enjiniring, operation & maintenance
PT Nusantara Regas : terminal penyimpanan dan regasifikasi terapung
PT Saka Energi Indonesia : kegiatan di bidang hulu
PT Gagas Energi Indonesia : kegiatan di bidang hilir
PT Gas Energi Jambi : perdagangan, konstruksi dan jasa
PT Banten Gas Synergi : jasa, transportasi, perdagangan dan pertambangan (Afiliasi)
PT PGN LNG Indonesia: bisnis LNG dan terminal penyimpanan dan regasifikasi terapung

Saham PGN (Kode Saham : PGAS)

Seiring dengan gencarnya privatisasi BUMN di Indonesia, maka pemerintah melakukan penjualan saham perdana PT Perusahaan Gas Negara (Tbk) pada tanggal 05 Desember 2003.

PGAS memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham PGAS (IPO) kepada masyarakat sebanyak 1.296.296.000 dengan nilai nominal Rp. 500,- per saham dengan harga penawaran Rp. 1.500,- per saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 15 Desember 2003.

Pada pertengahan Januari 2007, informasi keterlambatan komersialisasi gas via pipa transmisi SSWJ dari manajemen PGN menjadi penyebab utama anjloknya harga saham BUMN itu hingga sebesar 23% dalam satu hari.

Sentimen negatif di pasar modal itu berkaitan dengan kecurigaan bahwa PGN dan pemerintah menutup-nutupi keterlambatan proyek tersebut yang harusnya sudah operasi pada Desember 2006, tapi tertunda hingga Januari 2007 dan tertunda lagi hingga Maret.

Akibatnya PGN dikenakan denda oleh Pertamina sebesar US$ 15.000 per hari sejak 1 November 2006. Pada tahun 2011, komposisi saham pemerintah mencapai 57% dan sisanya publik sebanyak 43%.

Negosiasi Dengan Rekanan dari China

Meskipun terjadi penurunan harga minyak pada akhir tahun 2008 lalu, pemerintah telah bersikeras bergerak maju dengan proses negosiasi ulang dengan China untuk harga gas alam cair (liquefied natural gas / LNG) dari lapangan eksplorasi gas “Tangguh” di Papua untuk diekspor ke negara itu.

“Setelah dihentikan produksinya karena pecahnya krisis keuangan global pada kuartal ketiga di tahun ini (Des. 2008 -red), pemerintah dijadwalkan untuk melanjutkan re-negosiasi dengan rekanan dari China pada Januari 2009,” menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Sejak konvensi minyak tanah ke gas, pemerintah mengeluarkan tabung elpiji 5 kg (?) yang lebih kecil.

“Kami akan me-refresh (negosiasi) pada bulan Januari 2009,” kata Kalla dalam kunjungannya ke proyek LNG Tangguh di Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat, seperti dilansir Antara.

Sebelumnya, ketika mengunjungi China, Kalla mengatakan kontrak LNG Tangguh dengan China akan dinegosiasi ulang karena posisi Indonesia dipandang sebagai di pihak yang kalah.

Namun, ia tidak mengungkapkan rincian apapun dari apa yang sedang ditawarkan ke Cina. “Kami akan membahas lebih formula, tidak hanya soal harga. Negosiasi akan terus bergerak maju,” katanya.

Kurtubi, analis minyak dan gas, mengatakan proses re-negosiasi LNG Tangguh untuk harga formula harus dibawa ke tahap berikutnya meskipun harga minyak jatuh menjadi ke level sekitar US $ 30.

Dalam kontrak selama 25 tahun untuk ekspor LNG ke China, harga telah ditetapkan sebesar $ 2,40 per mmbtu, dengan penyesuaian kenaikan harga minyak mentah.

Kontroversial kontrak gas alam cair (LNG) Tangguh ini lalu ditandatangani oleh pemerintah Indonesia dan perusahaan di Provinsi Fujian, China pada tahun 2002 di bawah pemerintahan presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri.

Harga LNG pada saat penandatanganan kontrak itu didasarkan pada harga minyak mentah saat itu, US $ 20 per barel.

Pemerintah Cina sebelumnya telah sepakat untuk menaikkan harga $ 3,80 per mmbtu, tetapi pemerintah Indonesia menolak tawaran itu, dan mengatakan itu masih terlalu rendah.

Lapangan gas Tangguh dikembangkan oleh konsorsium BP Plc, (37,16 persen), MI Berau (16,3 persen), CNOOC (13,9 persen), Nippon Oil (12,23 persen), KG Berau/KG Wiriagar (10 persen), LNG JapanCorporation (7,35 persen) dan Talisman (3,06 persen).

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s