Ingin Kuasai Asia, AS Akan Bangun Pangkalan Militer Besar di Asia

Setelah militernya mendekati Indonesia dengan mengumbar janji akan memodernisasi TNI, kini AS mulai kembali melirik negara tetangga ASEAN, yaitu Filipina. Melalui Komandan Armada Pasifik, Laksamana Harry Harris, AS mengungkapkan niatnya untuk menambah dan memperluas kehadiran pasukannya di negara kepulauan itu dengan membangun kembali pangkalan militer nya di kawasan ASIA Pasifik.

Semua maklum, semakin gencarnya lobi dan kehadiran AS di Asia Tenggara merupakan bagian dari rencana AS untuk membangun “poros Asia”. Rencana pembangunan pangkalan militer itu digalakkan menyusul nafsu Amerika Serikat untuk terlibat dalam ketegangan di kawasan Laut China Selatan yang terus meningkat setelah China mengklaim perariran yang dipersengketakan.

Namun, rencana itu mendapat tentangan dari pemerintah Filipina. Menurut sumber yang enggan disebutkan namanya, kesepakatan akhir (membangun pangkalan militer AS) ditangguhkan karena Manila bersikeras untuk mendapatkan akses ke seluruh fasilitas sementara AS. Dan di saat yang sama, menolak permintaan untuk mengizinkan AS mendirikan pangkalan di luar kamp Filipina.

“Masalahnya,” lanjut sumber itu, “AS menginginkan kendali penuh termasuk mengibarkan bendera AS sendiri di daerah tertentu. Itu akan memicu tantangan konstitusional.” Konstitusi Filipina membutuhkan perjanjian yang dibicarakan bersama AS sebelum AS dibolehkan menyiapkan fasilitas mandiri.

Menjelaskan status hukum saat ini yang terkait dengan kehadiran AS di negara itu, Ramon Casiple, direktur eksekutif Institute of Political and Electoral Reforms, mengatakan, “Terdapat sebuah kamp Amerika dalam pangkalan Filipina dan dikendalikan bersama oleh para komandan Amerika dan Filipina. Menurut teori, itu berarti seorang komandan Filipina dapat memasuki kamp AS setiap saat. Kenyataannya, prajurit AS tidak membiarkan siapa pun memasuki kamp AS tanpa seizin komandan kamp AS.”

Casiple mengatakan, salah satu solusi yang sedang dipertimbangkan adalah Filipina mendirikan pangkalan di Subic Bay, yang akan digunakan AS. Subic Bay, bekas pangkalan angkatan laut AS yang menghadap Laut Cina Selatan. ditinggalkan AS pada 1992 setelah Filipina menuntut dibuatnya perjanjian formal atas pangkalan itu. Poin yang mencuat saat itu adalah tuntutan Manila untuk menghukun personil AS atas kejahatan serius seperti pemerkosaan dan pembunuhan warga Filipina.

8 Tahun Lagi, Perang Beralih ke Asia Pasifik!
Persiapan Tahun 2020:
Penempatan 60% Militer AS di Australia Fokus ke Asia, Penyadapan Antar Negara Marak Pula, “Zona Perang” AS dari Timur Tengah Kini Beralih ke Asia

Langkah pemerintah Amerika Serikat mengubah fokus mereka ke Asia akan semakin membebani Indonesia sebagai negara berpengaruh di ASEAN. Indonesia dituntut memainkan peranan pendorong dan penyeimbang berbagai konflik di Asia.

Hal ini disampaikan oleh Professor Ann Marie Murphy, peneliti senior di Weatherhead East Asia Institute, Columbia University.

Menurut Murphy, Indonesia akan memiliki peran penting dalam menyokong ASEAN dari belakang.

Keterlibatan AS di Asia yang mendukung negara-negara sekutunya akan membuat konflik semakin panas. Penambahan pasukan AS di Asia juga membuat ketegangan meningkat.

“Sama seperti saat Irak akan digempur melalui persiapan Operation of Enduring Freedom, dimana saat ini Indonesia sama juga “sudah terkurung” seperti Irak, oleh pangkalan-pangkalan AS yang berada di Christmas Island, Cocos Island, Darwin, Guam, Philippina, Malaysia, Singapore, Vietnam hingga kepulauan Andaman dan Nicobar beserta sejumlah tempat lainnya.”

Baca juga ini: Waspada, Zona Perang AS dari Timur Tengah Kini Beralih ke Asia

Tiga Kapal China Memasuki Perairan Sengketa Dengan Jepang

Tiga kapal penjaga pantai China berlayar melalui perairan kepulauan yang dikuasai Tokyo di Laut China Timur, Ahad, sehingga menjadi insiden terbaru dalam pertikaian wilayah antara kedua negara Asia itu.


Kapal-kapal China memasuki perairan 12 mil laut lepas pantai dari kepulauan Senkaku, yang juga diklaim China dan menamakannya Diaoyu sekitar pukul 9.00 waktu setempat (07.00WIB) dan meninggalkan daerah itu sekitar dua jam kemudian, kata Penjaga Pantai Jepang.

Itu adalah pertama kali tahun ini kapal-kapal milik pemerintah China memasuki zona itu dan pelanggaran pertama dalam enam hari.

Badan Kelautan Negara China mengatakan di lamannya: “Pada 23 Februari, kapal-kapal penjaga pantai China 2151,2113 dan 2102 berpartoli bersama di perairan wilayah Kepulauan Diaoyu China”.

Kapal-kapal dan pesawat China secara reguler mendekati kepulauan Laut China Timur — yang diperkirakan memiliki cadangan sumber-sumber alam luas– setelah Jepang menasionalisasi beberapa pulau pada September 2012. Hal ini meningkatkan serangkaian insiden dalam sengketa wilayah.

Kekhawatiran terjadi konflik meningkat November ketika China memberlakukan Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) di Laut China Timur dan mengatakan pihaknya mengharuskan pesawat yang melintas daerah itu harus memberitahu.

Washington marah atas tindakan itu dan mengatakan itu akan dapat menimbulkan kebingungan di kawasan udara tersebut.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry memperingatkan Beijing atas tindakan-tindakan sepihak dalam menetapkan satu zona pertahanan udara serupa di Laut China Selatan, yang juga menyebabkan Filipina mengeluarkan pernyataaan kecemasannya akan klaim-klaim maritim China itu.

Awal bulan ini,diplomat penting AS itu mengatakan AS akan mempertahankan Jepang dalam menghadapi serangan termasuk terhadap kepulauan yang disengketaan di Laut Cina Timur itu.

Gagal dalam usahanya sebagai pengendali tunggal terhadap Selat Malaka, Amerika sepertinya tidak kehilangan akal. Sekarang mencoba taktik baru, secara aktif mendorong Indonesia sebagai sekutu terdepan di Asia Tenggara. Itulah sebabnya negara Paman Sam ini berusaha menjalin kerjasama dalam bidang militer-strategis.

Tujuan akhir yang hendak dicapai, apalagi kalau bukan untuk memperoleh akses bebas terhadap sumberdaya alam Indonesia dengan membangun pangkalan militer di wilayah NKRI, guna mengontrol selat Malaka.

Selain itu, melalui taktik ini, Amerika berharap sekaligus dapat mengendalikan dua negara Asia Tenggara lainnya, yaitu Malaysia dan Thailand. Dan kalau taktis ini berjalan lancar, praktis kedua negara ASEAN tersebut bisa diawasi oleh Amerika melalui wilayah Indonesia.

Sisi strategis Indonesia di mata Gedung Putih ada dua. Pertama, karena lokasi geostrategis Indonesia yang kaya akan sumberdaya alam. Akan tetapi, yang jauh lebih penting, karena kewibawaan dan pengaruhnya yang besar di kalangan negara-negara ASEAN, sehingga Amerika berusaha memanfaatkan kemampuan Indonesia.

http://forum.viva.co.id/politik/1510152-ingin-kuasai-asia-akan-bangun-pangkalan-militer-di-filipina.html

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Join 146 other followers

  • February 2014
    M T W T F S S
    « Jan   Mar »
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    2425262728