Hipnotis Bagian dari Konspirasi?

Sejarah hipnotis memang terkait akan misi Zionis yang saya sederhanakan disini menjadi New Age Movement.

Paradigma New Age sendiri lahir dari ketidak percayaan Barat terhadap agama. Agama, dalam termin Barat, memang bermasalah. Ia gagal memberi pencerahan bagi masyarakat dalam dua hal, yakni rasionalitas dan spiritualitas.

Hal inilah yang membuat masyarakat Barat mencari spiritualitas model baru yang tidak terlalu formil layaknya Kristen. Anda mungkin tahu kasus ucapan bahwa “Tuhan Sudah Mati” ala Frederich Nietsczhe? Itu mungkin contoh kecilnya.

Namun, yang ingin saya garis bawahi adalah, bahwa spiritualitas dalam termin New Age bukan berarti sama dengan religiusitas dalam konteks Islam yang tidak memberi ruang terhadap dunia mistik dan musyrik. New Age sendiri lebih kepada spiritual mistis dan penyatuan agama-agama dimana tidak ada lagi sekat teologis di dalamnya.

Nah dimana hubungan hipnotis dengan New Age? Hipnotis hampir tidak mengenal unsur keagamaan yang sejalan dengan misi New Age. Akidah menjadi tidak terlalu penting dalam hipnotis. Ya mungkin para ahli hipnotis dapat bergeming dengan menyatakan ajaran kami bebas dari musyrik.

Ya itu tidak masalah. Saya sendiri tidak menyalahkan para praktisi hipnosis yang dapat jadi juga masih awam dengan NAM, karena itu tadi sifat sejati Hipnosis yang sebenarnya membawa misi Kabbalah menjadi tertutup pada awalnya ketika diperkenalkan.

Dan ini diamini oleh Sherry Shriner penulis buku-buku konspirasi dan pengkaji Bible yang menyatakan, bahwa karakter New Age memang seperti itu. Para pengusung New Age yang sejatinya adalah kabalis tahu betul, bahwa orang Kristen tidak dapat menerima serangan frontal doktrin okultism, sehingga mereka mengubah kata-kata sihir ke dalam istilah Kristen seperti “iman,” “Tuhan,” “Kristus,” dan “kelahiran kembali” dan banyak gereja terkecoh. Termasuk dengan menggunakan hipnosis, spiritual intelligence, emotional intelligence, dan sebagainya.

Oleh karena itu, ketika kita ikut training hipnosis tanpa banyak kita ketahui adalah, bahwa konteks alam bawah sadar yang dikenalkan dalam Hipnosis tidak lain adalah ajaran Sigmund Freud, seorang Yahudi atheis yang sudah dikenal sebagai pengusung psikoanalisis yang sangat bermasalah dalam Islam.

Kealpaan para praktisi hipnosis itu juga terlihat nyata, ketika mereka tidak menjelaskan apakah yang dimaksud alam bawah sadar dalam versi Freud, yang tidak lebih sebagai manifesto terpendam dari seksualitas manusia.

Lalu kenapa ini menjadi samar? Kita kembali lagi ke perkataan Shery Shinner tadi, karena para pengusung New Age tahu betul, bahwa mereka tidak bisa menjelaskan ajaran sejati mereka (baca: kabbalis) jika bertindak terlalu frontal.

Oleh karena itu Nancy Percy, seorang pengkaji worldview dari Philadhelphia Biblical University, dalam tulisannya, “Modern Islam And The New Age Movement” menyatakan, bahwa gerakan NAM seperti Hypnosis hanyalah ekspresi yang lebih baru dari kecenderungan lama untuk mengimpor panteisme Timur ke dalam budaya Barat, yang dimulai dengan doktrinasi Plotinus dan neo-Platonisme.

Sekarang kita dapat menjajal keampuhan hipnosis, jika hipnosis memang dikatakan bukan pseudo sains. Ada dua hal yang bermasalah dari statement itu. Pertama, bukan berarti, bahwa karena hipnosis adalah sains murni, dia tidak cacat dari segi keilmuan. Kedua, kita dapat  membuktikan apakah betul hipnosis adalah metode yang ampuh dalam menterapi masalah manusia.

Saya ingin bercerita pengalaman saya ketika mengikuti training hipnosis dan mempraktikannya saat menjadi guru. Kami, para guru kala itu, dikumpulkan dalam satu ruangan oleh trainer. Trainer tersebut mensugesti kami agar kedua telapak tangan masing-masing di antara kami saling mencengkeram hingga jari jemari kami seakan-akan lengket dilumuri lem.

Saat proses tersebut, kami diajarkan untuk mendengarkan sugesti trainer saja (baca: taqlid), jangan banyak berfikir (baca: tidak boleh kritis) dan jangan melawan sugesti. Bagi saya, orang yang dominan dan sangat rasionalis terhadap apa-apa yang datang dalam diri saya, akan mudah sekali melawan sugesti itu.

Akan tetapi, apa yang dilakukan trainer saat itu, melihat kami-kami yang mencoba kritis atas sugestinya? Ia mulai mengeluarkan jurus sakti, yakni mensugesti buta peserta, bahwa peserta yang mau mengikuti segala perkataan trainer tanpa menggubris sedikit pun adalah calon guru yang baik. Nah, disinilah gaya-gaya undermind control ala zionis. Mirip sekali. Oleh karena itu, pikiran diarahkan hanya pada satu instrument hingga kita tidak sadar telah mengikutinya.

Itu kan seakan-akan bermakna, bahwa orang yang tidak mau mengikuti perkataan sugestor bukanlah orang yang baik. Padahal Allah mengajarkan kita untuk kritis setiap kali datang sebuah permintaan. Apalagi sugesti yang dapat jadi bertentangan dengan Islam. (Bayangkan jika anda perempuan yang dihipnotis, lalu anda tertidur di pelukan trainer pria, bukankah itu menyalahi konsep hijab dalam Islam?)

Selain itu kelemahan hypnosis, bahwa sugesti itu mudah sekali dipatahkan. Anda boleh mencoba. Makanya, ketika saya menerapkannya di sekolah, hipnosis menjadi tidak efektif. Oleh karena murid-murid saya memang sudah kritis sejak awal.

Terlebih orang-orang yang dominan pada otak kiri. Kekuatan mereka dalam logika akan serta merta meruntuhkan sugesti hipnosis. Hampir pasti saya katakan bahwa mereka amat tidak cocok dihipnotis.


sumber

by
bumble

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s