Cara Unik Pengusaha Hong Kong Budidayakan Ikan

Ternyata tak hanya ikan, tapi juga buah organik dan sayur-sayuran

 

Siti Nuraisyah Dewi

Lloyd Moskalik, pengusaha Hong Kong yang membudidayakan ikan kerapu di gedung bertingkat

Lloyd Moskalik, pengusaha Hong Kong yang membudidayakan ikan kerapu di gedung bertingkat (BBC)

 

ahaya lampu biru pekat sengaja dinyalakan sepanjang hari di atas tangki berbentuk lingkaran. Lampu itu digunakan untuk mensimulasikan kedalaman laut.

Dikutip dari BBC, Jumat 4 April 2014, di dalam tangki yang berbentuk bulat itulah ratusan ikan berenang-renang dengan tenang. Air mengalir deras dari pipa. Penambahan dan pergerakan air ini yang menjadi sumber oksigen bagi ikan.

Yang unik, peternakan budidaya ikan ini dilakukan di lantai 15 sebuah gedung di Hong Kong. Maklum, mendapatkan tanah atau lahan yang luas di negara itu cukup sulit.

Perekonomian Hong Kong terus berkembang. Gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi. Hong Kong juga menjadi salah satu negara dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Di gedung-gedung tinggi itulah, sebagian besar pengusaha Hong Kong membudidayakan ikan. Mereka dituntut harus mampu beradaptasi dengan lingkungan yang ada.

Penduduk Hong Kong dikenal sangat doyan makan ikan dan seafood. Konsumsi ikan penduduk Hong Kong mencapai lebih dari 70 kilogram per kapita per tahun, atau 10 kali lipat lebih besar dibanding Amerika Serikat.

Ada 11 tangki terbuat dari plastik dengan total 80.000 liter air yang dicampur garam. Tangki itu penuh dengan kerapu, ikan berdaging putih, yang semuanya akan berakhir di piring restoran-restoran di seluruh Hong Kong.

“Budidaya ikan yang kami lakukan jauh di atas keramaian dan hiruk pikuk kota. Orang-orang menyebutnya dengan beternak ikan secara vertikal,” ujar Lloyd Moskalik, Managing Director Oceanethix, perusahaan Hong Kong yang membudidayakan ikan kerapu.

Lloyd menceritakan, dia mempekerjakan 6 orang. Dia membeli bayi ikan kerapu atau bibit. Bibit ikan kerapu itu kemudian dibesarkan dan pada usia 10 bulan atau 13 bulan baru dijual.

Oceanethix menjual sekitar 2 ton ikan kerapu setiap minggu seharga 776 dolar Hong Kong. Permintaan ikan dari restoran-restoran dan penduduk Hong Kong terus bertambah sepanjang tahun. Menurut dia, harga ikan per kg juga naik 10 persen hingga 15 persen per tahun.

Oceanethix juga menjual alat sistem daur ulang air untuk perusahaan lain di seluruh Asia yang ingin mendirikan peternakan budidaya ikan vertikal.

“Perusahaan kami telah dipilih oleh pemerintah Korea untuk membantu rencana ambisius mereka membangun peternakan ikan budidaya vertikal pada bangunan-bangunan bertingkat di Seoul,” imbuhnya.

Pemerintah Singapura telah membeli lisensi sistem daur ulang air Oceanethix. Perusahaan ini juga telah membuka cabang di Shanghai, Tiongkok.

Ternyata tidak hanya budidaya ikan yang dilakukan di atas gedung-gedung pencakar langit di Hong Kong. Oleh karena keterbatasan ruang, banyak budidaya buah organik dan sayur-sayuran yang dibuat di atas gedung bertingkat.

Kondisi itu akibat serangkaian tingkat kriminal keamanan pangan baru-baru ini di Tiongkok daratan, yang menjadi sumber pangan Hong Kong semakin meningkat. Situasi tersebut juga membuat semakin banyak penduduk Hong Kong yang ingin mengembangkan pangan mereka sendiri secara alami.

Osbert Lam, pemilik Hong Kong City Farms, menangkap peluang bisnis tersebut dengan menyediakan lahan pertanian yang dibuat di atas gedung-gedung pencakar langit di Hong Kong.

Berawal dari hobi yang dijalaninya 10 tahun yang lalu, ia sekarang memiliki tiga lahan pertanian dengan menyulap ribuan meter persegi atas gedung-gedung bertingkat di Hong Kong menjadi ruang untuk pertanian yang disewakan dengan harga US$190 per bulan.

“Kami memiliki daftar tunggu hingga 30 orang calon penyewa, semua ingin dapat melakukan budidaya buah dan sayuran organik vertikal,” ujarnya.

Selain itu, pertumbuhan taman-taman di atap gedung-gedung bertingkat di perkotaan menjadi bisnis baru bagi peternak lebah perkotaan di Hong Kong.

Michael Leung, pendiri HK Honey, selalu mencari tempat-tempat baru untuk menempatkan sarang lebah. Biasanya, ia akan mencari atap gedung dengan tanaman yang rimbun. setelah menemukan taman di atas atap gedung bertingkat ia lalu menyewanya.

“Kami selalu mencari pohon kecil yang menonjol. Misalnya pohon pepaya, di mana buah ini tumbuh dengan baik di atas atap gedung-gedung bertingkat. Setelah menemukan, kami akan menego untuk menyewa ruang sebagai tempat sarang lebah,” imbuhnya.

Keuntungan yang ia peroleh cukup memuaskan, karena madu dari sarang lebah asli dihargai mahal di Hong Kong, per sarang madu dihargai 240 dolar Hong Kong. (art)

Sabtu, 5 April 2014, 05:05
© VIVA.co.id

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s