Ancaman Perang Kimia Biologi Amerika dan Israel

 

Sebagian negara menggunakan senjata kimia dan biologi, terutama Amerika dan Israel dalam perang mereka. Meski mereka tahu, bahwa hal itu dilarang oleh perjanjian hukum internasional karena dianggap sebagai senjata pemusnah massal karena akan menimbulkan kerugian nyawa yang begitu besar, namun mereka tidak peduli.

Amerika dan Israel menggunakan senjata kimia dan uranium dalam perang Irak, di Libanon tahun 2006, dan Jalur Gaza akhir tahun 2008. Ketiga perang ini menyebabkan terbunuhnya ratusan ribu nyawa dan ribuan lainnya luka-luka, cacat dan sakit permanen akibat penggunaan senjata ini.

Polusi radiasi akibat penggunaan senjata bilogi dan kimia saat perang merupakan ancaman besar. Sebab kandungan bahan berbahaya bagi manusia dan makluk hayati lainnya sangat besar. Pada 25 Mei 2001, Komite Kesehatan dan Lingkungan di Dewan Perwakilan Irak menegaskan bahwa pihaknya akan mendiskusikan bukti limba perang jika sudah disepakati penarikan Amerika dari Irak. Sehingga nantinya, pasukan Amerika diharuskan untuk menghilangkan limba perang yang mengandung polusi radiasi yang berbahaya. Ini sudah pernah terbukti kejadian imbas radiasi terhadap warga di distrik Dzi Qaar, dan juga di Irak selatan yang pernah diserang dengan rudal, senjata biologi dan kimia yang mengandung uranium tertanam dalam rudal. Sehingga di wilayah target itu ada penyakit berbahaya yang merebak, terutama penyakit kanker yang dialami warga Irak.

Dalam konteks yang sama, warga Gaza juga mengalami bahaya radiasi pada Desember 2008 akibat gempuran roket dan rudal Israel serta bom fosfor, bom serpih, bom asap, uranium tertanam. Ini melanggar piagam Jenewa IV yang mengkriminalkan penggunaan bahan-bahan tersebut secara militer terutama dalam menghadapi warga sipil. Bahan kimia berbahaya ini akan menyerap ke dalam tanah dan mengancam debit air dan ia akan bertahan menyerap dalam ribuan meter kubik bangunan, jalan-jalan dan tanah lapang.

 

Dalam sejarahnya, senjata semacam ini digunakan di era imperium Romawi yang membuang mayat-mayat ke dalam sungai agar airnya terkontaminasi. Juga bangsa Tartar yang menggunakan alat pelempar manusia yang terkena wabah menular ke dalam pemu****n penduduk yang menolak menyerah kepada mereka. Perang dunia pertama adalah medan pertama penggunaan senjata berbahan mematikan ini. Kemampuan manusia untuk berinovasi akhirnya digunakan untuk melakukan kerusakan dan melampaui batas. Sejak itu puluhan nyawa manusia melayang akibat senjata pemusnah massal. Sebagian terbunuh dalam medan pertempuran dan lainnya di desa-desa dan kota menjadi tubuh bernyawa, namun seperti beku atau terurai. Menyedihkan.

Senjata kimia memiliki imbas racun secara langsung terhadap tubuh manusia karena senyawa yang beragam. Ia membunuh atau melukai manusia. Senjata kimia akan bertahan dalam waktu yang lama di titik targetnya. Senjata biologi berupa bakteri, virus, atau bius dapat mamatikan manusia, binatang dan tumbuhan. Ia mengenai manusia melalui udara, makanan, air. Sakit akibat senjata biologi berawal sejak bakteri dan virus itu berkembang biak dalam tubuh tanpa dirasakan gejalanya. Saat itulah penyakit itu menjadi wabah.

 

 

Film documenter berjudul Artichoke code: Experiences secret Central Intelligence Agency on the human mengungkap bagaimana pemerintah Amerika menyembunyikan program perang biologinya yang digunakan sejak perang 1952 dalam perang Korea. Dua wartawan Jerman Edmund R. Doetsch dan Michael Waitch produser film ini menfokuskan pada kasus Dr. Frank Wilson yang meninggal 28 November 1953 akibat terjatuh dari lantai 13 dengan penyebab yang penuh teka-teki di kota New York. Ia adalah ilmuwan di bidang senjata biologi, terutama program “proses artichoke” yang dikoordinasi antara rencana militer dengan marinir. Dalam perang Korea, Pyong Yang dan Peking menuding Amerika menggunakan senjata bakteri. Tudingan itu didasarkan kepada gambar korban dan penguraian di laboratorium dan sisa-sisa bom bakteri. Tahun 1952, dua komisi internasional yang mendiagnosa kawasan berlangsungnya perang dengan bantuan Rusia dan Cina menyimpulkan bahwa militer Amerika benar-benar menggunakan senjata biologi bakteri.

Bangsa Palestina dan Irak yang sabar terhadap bencana yang menimpa mereka, yang menelan pahitnya konflik mengalami berbagai macam penderitaan dan kelelahan. Mereka mengkhawatirkan masa depan anak-anak mereka yang terancam wabah senjata biologi dan kimia yang digunakan dalam perang di Irak dan Gaza. Senjata yang mengandung unsure radiasi berat yang menyebar di bawah panasnya matahari dan berubah menjadi materi sinar gamma yang terlepas di udara kemudian kembali ke bumi dengan jumlah besar sehingga menimbulkan penyakit dan menghancurkan kehidupan di bumi.

Ini perang dengan spirit jahat dan tingkat kebencian terhadap kehidupan manusia yang sangat menjijikkan.

Advertisements

6 Tahun Lansia Ini Tinggal di Atas Selokan Rumah Saudara Kandung

 

Dahlia (60) seorang lansia yang hidup digubuk di atas Selokan gang di kawasan Banta-bantaeng, Makassar, (22/5) malam. Lansia yang ditinggal mati suaminya ini terpaksa harus hidup di atas Selokan tepat di depan rumah saudara kandungnya, selama 6 tahun. TEMPO/Iqbal Lubis

Sejumlah anak-anak bermain rumah Dahlia (60) seorang lansia yang hidup digubuk diatas Selokan gang di kawasan Banta-bantaeng, Makassar, (22/5) malam.

Kaki seorang lansia, Dahlia (60) yang hidup di atas selokan gang di kawasan Banta-bantaeng, Makassar, (25/) malam. Dahlia sehari-harinya makan dan buang air di tempat gubuk sepetak yang jadi tempat tinggalnya yang kumuh. TEMPO/Iqbal Lubis

Warga beraktivitas di depan gubuk milik Dahluia (60) lansia yang tinggal di atas Selokan gang di kawasan Banta-bantaeng, Makassar, (22/5) malam.

sumber: TEMPO

Tradisi Mengerikan Pernikahan Suku Atayal Taiwan

 Suku Atayal Penduduk pertama Taiwan berasal dari Melayu dan Polinesia. Kini pulau ini dihuni oleh hampir setengah juta masyarakat pribumi –sekitar 2 persen dari populasi keseluruhan– yang terdiri atas 13 suku resmi yang diakui pemerintah.

 

Menurut cerita yang diceritakan oleh orang tua mereka, nenek moyang Atayal berasal dari sebuah batu yang retak dan terpisah. Ada tiga orang, tetapi satu di antara mereka kembali lagi ke batu.

Yang tidak kembali adalah satu pria dan satu wanita. Mereka tinggal bersama untuk waktu yang sangat lama.

Namun, sayangnya sang pria mempunyai sifat pemalu dan tidak berani mendekati gadis tersebut. Melihat sifat pria itu, sang gadis dayak pergi dari rumah dan dia menemukan batubara/batu arang dan ia gunakan untuk menghitamkan wajahnya, yang bermaksud agar nanti tidak dikenali oleh si pria pemalu dan berharap agar dikenal sebagai wanita lain.

Setelah beberapa hari, gadis dayak tersebut kembali ke rumah dan pria pemalu tersebut berfikir, bahwa gadis itu adalah gadis lain, bukan gadis yang bersamanya beberapa waktu lalu.

Akhirnya mereka tinggal bersama selamanya. Mereka diberkahi anak dan dari situ lah terbentuk keluarga lainnya.

Kebiasaan suku Atayal mencoret wajah dengan arang kemudian menjadi awal budaya tato pada suku dayak.Suku Atayal dikenal sebagai suku besar dan pejuang. untuk membuat tato di wajahnya, seorang pria harus membawa kembali setidaknya satu kepala manusia, yang nantinya akan diberi makan dan minum dengan harapan membawa untuk mendapatkan berkah bagi sawah dan ladang atau biasa disebut ngayau.

Para pria di suku Atayal, sebuah etnis minoritas di Taiwan punya kebiasaan mempersembahkan kepala dari musuh mereka yang didapat dari pertarungan kepada wanita yang disukai. Hadiah berupa kepala ini sekaligus merupakan tanda ketertarikan si pria untuk menjalin rumah tangga dengan wanita yang ia beri.Ritual yang cukup mengerikan, bukan? Dalam budaya beberapa suku primitif, termasuk yang ada di Indonesia, mempersembahkan kepala dari musuh yang terbunuh secara terhormat dalam pertarungan adalah salah satu bentuk penghormatan. Untungnya tradisi ini sudah ditinggalkan oleh suku Atayal sejak tahun 1930-an.

Suku Atayal adalah penenun terbaik dimana mereka memiliki pola dan simbol yang sangat menarik seperti yang biasa kita lihat pada hasil karya dayak di kalimantan.

Warna favorit suku Atayal adalah MERAH yang berarti “DARAH” dan “KEKUASAAN”. Untuk dapat bertato, suku dayak atayal tidak dapat dengan mudah karena mereka harus melalui banyak persyaratan.

Untuk pria harus menunjukkan keberaniannya menjadi pemburu dengan mengambil kepala musuh.

Untuk wanita harus dapat menenun karena ini menunjukkan kematangan. cukup sulit, dibanding sekarang,  yang kita dapat dengan bebas bertato,  tanpa ada syarat,  asal ada niat.

Sumber NG

by
pepes

Perusahaan di Jepang Percaya Tidur Siang Dapat Meningkatkan Prestasi

Sejumlah perusahaan Jepang mulai memiliki keyakinan, bahwa tidur di sore hari dapat membantu meningkatkan efisiensi di tempat kerja.

Dalam sebuah pedoman tidur yang diterbitkan pada bulan Maret, Departemen Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan merekomendasikan, bahwa para pekerja tidur siang hingga setengah jam. Beberapa perusahaan telah menyisihkan jam tidur siang bagi para karyawan dan, bahkan ada sebuah kafe untuk tidur siang.

 

 

Perusahaan konsultan teknologi informasi Hugo Co. telah menerapkan pukul 13:00-16:00 sebagai waktu tidur siang. Para karyawan dapat terlihat tidur di kursi mereka dengan mengenakan masker mata untuk mencegah cahaya.

Perusahaan yang berbasis di Osaka ini mengadopsi tidur siang pada tahun 2007 atas inisiatif presidennya, Daisuke Nakata, yang menemukan selama perjalanan bisnis di luar negeri, bahwa banyak kalangan bisnis di Eropa dan Amerika Utara mendorong pegawainya untuk tidur siang.Sepertinya memang orang Jepang sangat memerlukan semuanya waktu tidur siang ini. Mungkin karena pekerjaan di Jepang sangat keras, banyak pekerja yang kelelahan sehingga harus tidur di tempat-tempat yang tidak semestinya begitu pulang kerja, dengan pose yang ekstrem dan kocak pula. Akan tetapi, saya rasa, kalau kamu mendapatkan pemandangan seperti ini di kereta, kalian tidak akan tertidur,  secapek apa pun kalian sepulang kerja.

by

Jutaan Orang Menjadi Korban Ujicoba Perang Kuman

Banyak penduduk Inggris terpapar bakteri yang disemprotkan dalam percobaan rahasia.

Kementerian Pertahanan mengubah sebagian besar negeri, menjadi sebuah laboratorium raksasa untuk mengadakan serangkaian ujicoba perang kuman rahasia terhadap masyarakat.

Sebuah laporan pemerintah yang baru dirilis memberikan—untuk pertama kalinya—sejarah resmi dan komprehensif mengenai percobaan senjata biologi Inggris antara tahun 1940 sampai 1979.

Banyak dari ujicoba ini yang melibatkan pelepasan bahan kimia dan mikro-organisme berpotensi berbahaya terhadap populasi luas tanpa diketahui masyarakat.

Meski detail beberapa percobaan rahasia telah bermunculan pada tahun-tahun belakangan, laporan 60 halaman tersebut mengungkap informasi baru tentang lebih dari 100 eksperimen tersembunyi.

Laporan tersebut mengungkapkan, bahwa personal militer diberi penerangan ringkas untuk mengatakan kepada ‘penyelidik yang ingin tahu’, bahwa percobaan-percobaan itu adalah bagian dari proyek riset cuaca dan polusi udara.

Ujicoba itu dijalankan oleh ilmuwan pemerintah di Porton Down, dirancang untuk membantu Kementerian Pertahanan menaksir kerentanan Inggris, jika Russia melepaskan kuman-kuman mematikan terhadap negerinya.

Dalam banyak kasus, percobaan itu tidak menggunakan senjata biologi, melainkan alternatif-alternatif yang diyakini ilmuwan menyerupai perang kuman dan diklaim Kementerian Pertahanan tidak berbahaya. Akan tetapi, keluarga-keluarga di wilayah tertentu yang memiliki anak kecil dengan cacat lahir menuntut penyelidikan publik.

Satu bab dalam laporan tersebut, ‘The Fluorescent Particle Trials’, mengungkap bagaimana antara tahun 1955 hingga 1963 pesawat-pesawat yang terbang dari timur laut Inggris ke ujung Cornwall di sepanjang pantai selatan dan barat, menjatuhkan sejumlah besar zinc cadmium sulphide ke atas penduduk. Bahan kimia itu melayang bermil-mil ke daerah pedalaman, flourescence-nya memungkinkan penyebaran tersebut termonitor. Dalam percobaan lain menggunakan zinc cadmium sulphide, sebuah generator digandeng sepanjang sebuah jalan raya dekat Frome di Somerset di mana ia memuntahkan bahan kimia itu selama satu jam.

Meski Pemerintah bersikeras bahan kimia tersebut aman, cadmium diakui sebagai penyebab kanker paru-paru dan selama Perang Dunia II dipertimbangkan oleh Sekutu sebagai senjata kimia.

Dalam bab lain, ‘Large Area Coverage Trials’, Kementerian Pertahanan menggambarkan bagaimana antara tahun 1961 sampai 1968, lebih dari satu juta orang di sepanjang pantai barat Inggris, dari Torquay hingga New Forest, terpapar bakteri yang mencakup e. coli dan bacillus globigii, yang menyerupai anthrax. Pelepasan ini berasal dari sebuah kapal militer, Icewhale, berlabuh di pantai Dorset, yang menyemprotkan mikro-organisme dalam radius 5 sampai 10 mil.

Laporan tersebut juga mengungkap detail percobaan DICE di selatan Dorset, antara tahun 1971 sampai 1975. Ini melibatkan ilmuwan militer AS dan Inggris yang menyemprotkan bakteri serratia marcescens dalam jumlah masif ke udara, bersama anthrax simulant dan phenol.

Bakteri serupa dilepaskan dalam ‘The Sabotage Trials’ antara tahun 1952 sampai 1964. Ini adalah ujicoba untuk mengetahui kerentanan bangunan besar pemerintah dan transportasi publik terhadap serangan. Pada 1956, bakteri dilepaskan di London Underground pada waktu makan siang di sepanjang Northern Line antara Colliers Wood dan Tooting Broodway. Hasilnya menunjukkan, bahwa organisme itu tersebar sekitar 10 mil. Ujicoba serupa dilakukan dalam terowongan-terowongan yang terdapat di bawah gedung-gedung pemerintah di Whitehall.

Eksperimen yang diadakan antara tahun 1964 sampai 1973 melibatkan pembubuhan kuman pada jaring laba-laba dalam kotak-kotak untuk menguji bagaimana kuman-kuman itu bertahan dalam lingkungan berbeda-beda. Ujicoba ini dilakukan di lusinan lokasi di pelosok negeri, termasuk London’s West End, Southampton, dan Swindon. Laporan ini juga memberi detail mengenai lebih dari selusin percobaan medan yang lebih kecil antara 1968 sampai 1977.

Pada tahun-tahun belakangan, Kementerian Pertahanan menugaskan dua ilmuwan untuk meninjau ulang keamanan ujicoba-ujicoba ini. Keduanya melapor bahwa tidak ada resiko terhadap kesehatan masyarakat, walaupun salah satu dari mereka menyebutkan bahwa orang tua atau penderita penyakit pernafasan mungkin terganggu secara serius jika mereka menghirup mikro-organisme dalam jumlah yang cukup.

Namun, beberapa keluarga di wilayah-wilayah yang menanggung pukulan terberat dari ujicoba rahasia itu merasa yakin eksperimen tersebut telah mengakibatkan anak-anak mereka menderita cacat lahir, cacat fisik, dan kesulitan belajar.

David Orman, petugas angkatan darat dari Bournemouth, menuntut penyelidikan publik. Istrinya, Janette, dilahirkan di East Lulworth di Dorset, dekat dengan tempat berlangsungnya banyak percobaan. Janette mengalami keguguran, kemudian melahirkan seorang putra dengan kelumpuhan syaraf otak (cerebral palsy). Tiga putri Janette, juga dilahirkan di desa tersebut ketika ujicoba tengah dijalankan, juga melahirkan anak-anak dengan masalah yang tak terjelaskan, sebagaimana sejumlah tetangga mereka.

Otoritas kesehatan setempat menyangkal terjadi secara kluster, tapi Orman berkeyakinan sebaliknya. Dia mengatakan: ‘Saya yakin sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Desa tersebut adalah komunitas yang sangat erat dan terjadinya begitu banyak cacat lahir dalam periode sesingkat itu pasti lebih dari sekadar kebetulan.’

Pemerintahan berturut-turut mencoba merahasiakan detail ujicoba perang kuman tersebut. Meski laporan tentang sejumlah percobaan telah bermunculan selama bertahun-tahun melalui Public Records Office, tapi dokumen terbaru Kementerian Pertahanan ini – dirilis kepada MP Norman Baker dari Liberal Democrat – menyampaikan versi resmi paling lengkap tentang percobaan perang biologi.

Baker mengatakan: ‘Saya menyambut fakta bahwa Pemerintah akhirnya merilis informasi ini, tapi mempertanyakan mengapa perlu waktu begitu lama. Sulit diterima bahwa masyarakat diperlakukan sebagai binatang percobaan tanpa sepengetahuan mereka, dan saya ingin memastikan klaim Kementerian Pertahanan bahwa bahan-bahan kimia dan bakteri yang digunakan ini aman adalah benar.’

Laporan Kementerian Pertahanan itu mencatat sejarah riset Inggris dalam perang kuman sejak Perang Dunia II ketika Porton Down memproduksi lima juta kue (berbentuk ternak) yang diisi dengan spora-spora anthrax mematikan yang hendak dijatuhkan di Jerman untuk membunuh ternak mereka. Laporan ini juga memberikan detail eksperimen anthrax keji di Gruinard, pantai Skotlandia, yang membuat pulau tersebut begitu terkontaminasi sehingga tidak bisa dihuni sampai akhir 1980-an.

Laporan ini juga mengkonfirmasikan penggunaan anthrax dan kuman mematikan lainnya dalam ujicoba di atas kapal di Karibia dan lepas pantai Skotlandia selama tahun 1950-an. Dokumen itu menyatakan: ‘Persetujuan diam-diam atas percobaan simulant di tempat-tempat di mana masyarakat dapat terpapar sangat dipengaruhi oleh pertimbangan keamanan pertahanan yang dimaksudkan untuk membatasi pengetahuan publik. Konsekuensi penting dari ini adalah kebutuhan untuk menghindari ketakutan dan kegelisahan masyarakat mengenai kerentanan penduduk sipil terhadap serangan BW [biological warfare].

Sue Ellison, juru bicara Porton Down, mengatakan: ‘Laporan independen oleh ilmuwan-ilmuwan terkenal telah memperlihatkan tidak adanya bahaya terhadap kesehatan masyarakat dari pelepasan ini yang justru dijalankan untuk melindungi masyarakat. Hasil dari percobaan-percobaan ini akan menyelamatkan nyawa, seandainya negara atau tentara kita menghadapi serangan senjata kimia atau biologi.’

Ketika ditanya apakah ujicoba semacam itu masih dijalankan, Sue mengatakan: ‘Bukan kebijakan kami untuk membahas riset yang sedang berjalan.’

by

Sirsak Obat Kanker yang Disembunyikan Khasiatnya Oleh Pihak Farmasi

 

Di negara kita sendiri buah Sirsak atau dalam bahasa Inggrisnya ‘Soursop’ (latin: Annona muricata) dikenal dengan berbagai sebutan yaitu nangka seberang, nangka landa (Jawa), nangka walanda, sirsak (Sunda), nangka buris (Madura), srikaya jawa (Bali), deureuyan belanda (Aceh), durio ulondro (Nias), durian betawi (Minangkabau), serta jambu landa (di Lampung).

Penyebutan “belanda” dan variasinya menunjukkan, bahwa sirsak (dari bahasa Belanda: zuurzak, berarti “kantung asam”) menandakan, bahwa buah ini masuk ke Indonesia pada masa pemerintah kolonial Hindia-Belanda menginfasi Nusantara pada abad ke-19.

Dan selama ini masyarakat terbuai, kanker hanya dapat diobati dengan chemotherapy (terapi kemo).


Padahal, buah dan daun Sirsak (Graviola) berdasarkan hasil sejumlah penelitian, mampu membunuh sel kanker yang kekuatannya sepuluh ribu kali lipat lebih ampuh dibanding terapi kemo.

Diam-diam pabrik obat terbesar di Amerika melakukan riset buah yang di Brazil disebut “Graviola“, di Inggris “Soursop” dan di Spanyol “Guana Bana” ini.

Namun, besarnya biaya riset membuat penemuan besar ini sengaja disembunyikan, sambil mencoba melakukan kloning atas buah ini agar penemuannya dapat dipatenkan.

Khasiat buah dan daun sirsak memberikan efek anti tumor/kanker yang sangat kuat dan terbukti secara medis menyembuhkan segala jenis kanker.

Selain menyembuhkan kanker, buah sirsak juga berfungsi sebagai anti bakteri, anti jamur (fungi), efektif melawan berbagai jenis parasit, menurunkan tekanan darah tinggi, depresi, stress, dan menormalkan kembali system syaraf yang kurang baik. Adalah Health Science Institute di Amerika yang membuka tabir gelap ini.

“Sirsak, pohon ajaib yang banyak tumbuh di hutan Amazon akan mengubah cara berpikir Anda, dokter Anda, bahkan Dunia, mengenai proses penyembuhan kanker dan harapan kesembuhan yang luar biasa,” tulis Health Science Institute.
Berdasarkan riset, buah dan daun sirsak dapat berguna untuk:

(1) Menyerang sel kanker dengan aman dan efektif secara alami, tanpa rasa mual, berat badan turun, rambut rontok, seperti yang terjadi pada terapi kemo,

(2) Melindungi sistem kekebalan tubuh dan mencegah dari infeksi yang mematikan,

(3) Pasien merasakan lebih kuat, lebih sehat selama proses perawatan / penyembuhan, dan

(4) Energi meningkat dan penampilan fisik membaik.

Sumber berita sangat mengejutkan ini berasal dari pabrik farmasi terbesar di Amerika. Buah Graviola diuji di lebih dari 20 laboratorium, sejak tahun 1970-an sampai beberapa tahun berikutnya.

Hasil test dari ekstrak (sari) buah ini adalah secara efektif memilih target dan membunuh sel jahat dari 12 tipe kanker yang berbeda, diantaranya kanker: Usus Besar, Payudara, Prostat, Paru-Paru dan Pankreas.

“Daya kerjanya 10.000 kali lebih kuat dalam memperlambat pertumbuhan sel kanker dibandingkan dengan Adriamicin dan Terapi Kemo yang biasa di gunakan,” tulis laporan riset itu.

Tidak Membunuh Sel Sehat

Tidak seperti terapi kemo, sari buah ini secara selektif hanya memburu dan membunuh sel-sel jahat dan tidak membunuh sel-sel sehat. Riset telah dilakukan secara ekstensive pada pohon “ajaib” ini selama bertahun-tahun, tapi kenapa kita tidak mengetahui apa-apa mengenai hal ini?

Jawabnya: Begitu mudah kesehatan kita dan kehidupan kita yang selama ini telah dikendalikan oleh elite dunia yang memiliki uang dan kekuasaan.

Salah satu perusahaan obat terbesar di Amerika dengan omzet milyaran dollar melakukan riset luar biasa pada pohon Graviola yang tumbuh di hutan Amazon ini.

Ternyata beberapa bagian dari pohon ini yaitu: kulit kayu, akar, daun, daging buah dan bijinya, selama berabad-abad telah menjadi obat bagi suku Indian di Amerika Selatan untuk menyembuhkan sakit jantung, asma, masalah liver (hati) dan reumatik.

Dengan bukti-bukti ilmiah yang minim, perusahaan mengucurkan dana dan sumber daya manusia yang sangat besar guna melakukan riset dan aneka pengujian. Hasilnya sangat mencengangkan. Graviola secara ilmiah terbukti sebagai mesin pembunuh sel kanker!

Tidak Dapat Dipatenkan, maka Tidak Dipublikasikan

Namun mirip Cannabis atau Ganja yang juga banyak gunanya termasuk dapat menghancurkan sel kanker, kini kisah Graviola hampir berakhir sama di sini. Kenapa? Oleh karena di bawah undang-undang federal, sumber bahan alami untuk obat tidak dapat dipatenkan.

Mengapa sirsak tak dapat dipatenkan seperti juga cannabis atau ganja?? Karena keduanya berasal dari tumbuhan alami, tanpa suatu proses apapun, keduanya sudah mujarab dalam membasmi sel kanker dan beberapa penyakit lainnya yang selama ini tak tersembuhkan.

Artinya, untuk meraih suatu patent, perusahaan harus dapat membuat tanaman ini sedikit berbeda dari tanaman alami, misalnya dengan meng-kloning atau melakukan rekayasa genetika lainnya.

Maka perusahaan farmasi yang dikuasai para elit dunia berusaha sekuat tenaga dengan biaya sangat besar untuk mengkloning Graviola ini agar dapat dipatenkan sehingga dapat meraup keuntungan besar.

Tapi semua itu sia-sia, oleh karenanya, perusahaan menghadapi masalah besar. Tanpa patent, berarti tak ada uang trilyunan dollar yang dapat diraup oleh para elit penguasa farmasi dunia.

Bahkan bagi mereka akan lebih parah, karena setiap orang akan dapat menanam tanaman obat yang sangat berkhasiat ini di halaman rumahnya masing-masing dan artinya masyarakat dapat memiliki obat di pekarangan mereka sendiri.

Usaha para elit farmasi dunia ini tidak berhasil. Graviola tidak bisa dikloning. Perusahaan gigit jari setelah mengeluarkan dana milyaran dollar untuk riset dan aneka pengujian.

Ketika mimpi untuk mendapatkan keuntungan lebih besar berangsur-angsur memudar, kegiatan riset dan test juga berhenti. Bahkan lebih parah lagi, perusahaan menutup proyek ini dan memutuskan untuk tidak mempublikasikan hasil riset ini.

Beruntunglah, ada salah seorang Ilmuwan dari tim riset tidak tega melihat kekejaman ini terjadi. Dengan mengorbankan karirnya, dia menghubungi sebuah perusahaan yang biasa mengumpulkan bahan-bahan alami dari hutan amazon untuk pembuatan obat.

Ketika para pakar riset dari Health Science Institute mendengar berita keajaiban Graviola, mereka mulai melakukan riset.

Hasilnya sangat mengejutkan. Graviola memang terbukti sebagai pohon pembunuh sel kanker yang efektif!

The National Cancer Institute mulai melakukan riset ilmiah yang pertama pada tahun 1976. Hasilnya membuktikan bahwa daun dan batang kayu Graviola mampu menyerang dan menghancurkan sel-sel jahat kanker. Sayangnya hasil ini hanya untuk keperluan intern dan tidak dipublikasikan.

Sejak 1976, Graviola telah terbukti sebagai pembunuh sel kanker yang luar biasa pada uji coba yang dilakukan oleh 20 Laboratorium Independence yang berbeda.
Suatu study yang dipublikasikan oleh The Journal of Natural Products menyatakan, studi yang dilakukan oleh Catholic University di Korea Selatan, menyebutkan salah satu unsur kimia yang terkandung di dalam Graviola, mampu memilih, membedakan dan membunuh sel kanker Usus Besar dengan 10.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan adriamicin dan terapi kemo.

Penemuan yang paling mencolok dari study Catholic University ini adalah: Graviola bisa menyeleksi memilih dan membunuh hanya sel jahat kanker, sedangkan sel yang sehat tidak terganggu.

Graviola tidak seperti terapi kemo yang tidak bisa membedakan sel kanker dan sel sehat, maka sel-sel reproduksi (seperti lambung dan rambut) dibunuh habis oleh terapi kemo, sehingga timbul efek negatif: rasa mual dan rambut rontok.

Sebuah study di Purdue University membuktikan, daun Graviola mampu membunuh sel kanker secara efektif, terutama sel kanker: prostate, pancreas, dan paru-paru.

Sumber: indocropcircles.wordpress.com

Turkmenistan Akan Tutup ‘Gerbang Neraka’

Kawah api ini berukuran 230 kaki dengan kedalaman 65 kaki

 

 Siti Sarifah Alia

 

Kawah Darvaza

Kawah Darvaza  

 

Sebuah kawah yang terdapat di gurun Karakum, Turkmenistan ini disebut sebagai pintu ke neraka. Kawah bernama Darvaza ini berukuran besar dan dipenuhi dengan api yang menyala.

Lubang kawah Darvaza berukuran 230 kaki dengan kedalaman 65 kaki. Api selalu berkobar dari dalam lubang tersebut dan menjadi daya tarik wisata di Turkmenistan. Namun begitu, pemerintah setempat memiliki kekhawatiran yang besar dengan penyebaran gas yang keluar dari lubang tersebut.

Kawah Darvaza sejatinya merupakan area bekas eksplorasi energi. Jadi dapat dibilang, jika kawah ini adalah buatan manusia. Kawah Darvaza terbentuk pada era 1970-an akibat eksplorasi yang dilakukan para ilmuwan Rusia.

Pada 1971, ketika Turkmenistan masih berada di bawah kekuasaan Soviet, para ilmuwan berniat mengeksplorasi wilayah Karakum yang dideteksi memiliki kandungan minyak. Dibangunlah ladang minyak di wilayah tersebut. Mereka mempersiapkan segalanya untuk mulai melakukan pengeboran.

Rupanya ilmuwan Rusia salah mendeteksi. Alih-alih ingin menemukan minyak, mereka malah menemukan sejumlah besar gas bumi. Ladang tersebut ternyata tidak mampu menampung alat-alat berat yang telah ditempatkan sehingga longsor pun terjadi. Keseluruhan alat berat yang ada ke bawah tanah ikut terperosok ke dalam lubang. Lubang semakin melebar seiring dengan efek domino yang terjadi pada tanah di sekitarnya.

Gas bumi merupakan campuran dari gas hidrokarbon yang didominasi gas metana. Gas metana tidak berbau dan menggantikan oksigen, namun, baru akan menghilang ke atmosfir dalam kurun 10 tahun. Para ilmuwan khawatir, gas metana akan membuat mahluk sekitar kawah tidak dapat bertahan karena banyaknya gas yang meluap dan menggantikan oksigen, yang berarti tidak baik untuk pernapasan.

Ilmuwan kala itu menganggap, membakar gas metana dalam lubang itu merupakan satu-satunya jalan karena volume gas yang membahayakan. Lagipula ilmuwan memprediksi hanya akan ada 5 persen gas metana yang berpotensi meledak. Namun, lagi-lagi prediksi itu salah. Para ilmuwan hanya memprediksi volume gas metana yang ada di atas lubang tapi tidak memprediksi jumlah yang ada di dalamnya. Akhirnya api yang diprediksi akan padam dalam kurun satu minggu tidak pernah padam selama bertahun-tahun.

Sejarah yang dipaparkan Digital Journal, Jumat 23 Mei 2014, menyebutkan, bahwa pada 2010 lalu Presiden Turkmenistan, Kurbanguly Berdymukhamedov sempat ingin menutup kawah tersebut karena khawatir gas dan api di dalamnya dapat menjadi ancaman negara.

Hingga saat ini pemerintah masih mencari cara untuk menutup kawah itu. Turkmenistan masih berharap dapat menemukan minyak di wilayah tersebut, namun masih takut akan potensi kandungan gas bumi yang ada. Pemerintah takut akan terbentuk lubang yang sama, seperti Karakum di wilayah lain sehingga mereka berniat untuk menghentikan kobaran api dan menimbun gas alam yang ada.

Sayangnya pemerintah Turkmenistan masih dilema dengan penutupan ini, karena Kawah Darvaza menarik minat turis asing untuk berkunjung ke Turkmenistan. (umi)

Jum’at, 23 Mei 2014, 14:35
©VIVA.co.id

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Join 153 other followers

  • May 2014
    M T W T F S S
    « Apr   Jun »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031