Tradisi Mengerikan Pernikahan Suku Atayal Taiwan

 Suku Atayal Penduduk pertama Taiwan berasal dari Melayu dan Polinesia. Kini pulau ini dihuni oleh hampir setengah juta masyarakat pribumi –sekitar 2 persen dari populasi keseluruhan– yang terdiri atas 13 suku resmi yang diakui pemerintah.

 

Menurut cerita yang diceritakan oleh orang tua mereka, nenek moyang Atayal berasal dari sebuah batu yang retak dan terpisah. Ada tiga orang, tetapi satu di antara mereka kembali lagi ke batu.

Yang tidak kembali adalah satu pria dan satu wanita. Mereka tinggal bersama untuk waktu yang sangat lama.

Namun, sayangnya sang pria mempunyai sifat pemalu dan tidak berani mendekati gadis tersebut. Melihat sifat pria itu, sang gadis dayak pergi dari rumah dan dia menemukan batubara/batu arang dan ia gunakan untuk menghitamkan wajahnya, yang bermaksud agar nanti tidak dikenali oleh si pria pemalu dan berharap agar dikenal sebagai wanita lain.

Setelah beberapa hari, gadis dayak tersebut kembali ke rumah dan pria pemalu tersebut berfikir, bahwa gadis itu adalah gadis lain, bukan gadis yang bersamanya beberapa waktu lalu.

Akhirnya mereka tinggal bersama selamanya. Mereka diberkahi anak dan dari situ lah terbentuk keluarga lainnya.

Kebiasaan suku Atayal mencoret wajah dengan arang kemudian menjadi awal budaya tato pada suku dayak.Suku Atayal dikenal sebagai suku besar dan pejuang. untuk membuat tato di wajahnya, seorang pria harus membawa kembali setidaknya satu kepala manusia, yang nantinya akan diberi makan dan minum dengan harapan membawa untuk mendapatkan berkah bagi sawah dan ladang atau biasa disebut ngayau.

Para pria di suku Atayal, sebuah etnis minoritas di Taiwan punya kebiasaan mempersembahkan kepala dari musuh mereka yang didapat dari pertarungan kepada wanita yang disukai. Hadiah berupa kepala ini sekaligus merupakan tanda ketertarikan si pria untuk menjalin rumah tangga dengan wanita yang ia beri.Ritual yang cukup mengerikan, bukan? Dalam budaya beberapa suku primitif, termasuk yang ada di Indonesia, mempersembahkan kepala dari musuh yang terbunuh secara terhormat dalam pertarungan adalah salah satu bentuk penghormatan. Untungnya tradisi ini sudah ditinggalkan oleh suku Atayal sejak tahun 1930-an.

Suku Atayal adalah penenun terbaik dimana mereka memiliki pola dan simbol yang sangat menarik seperti yang biasa kita lihat pada hasil karya dayak di kalimantan.

Warna favorit suku Atayal adalah MERAH yang berarti “DARAH” dan “KEKUASAAN”. Untuk dapat bertato, suku dayak atayal tidak dapat dengan mudah karena mereka harus melalui banyak persyaratan.

Untuk pria harus menunjukkan keberaniannya menjadi pemburu dengan mengambil kepala musuh.

Untuk wanita harus dapat menenun karena ini menunjukkan kematangan. cukup sulit, dibanding sekarang,  yang kita dapat dengan bebas bertato,  tanpa ada syarat,  asal ada niat.

Sumber NG

by
pepes

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Join 146 other followers

  • May 2014
    M T W T F S S
    « Apr   Jun »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031