Peran CIA Pada Kasus PRRI, Dusta Amerika Atas Indonesia

 Dalam operasi mendukung PRRI/PERMESTA, AS menurunkan kekuatan yang tidak main-main. CIA menjadikan Singapura, Filipina (Pangkalan AS Subic & Clark), Taiwan, dan Korea Selatan sebagai pos suplai dan pelatihan bagi pemberontak. Dari Singapura, pejabat Konsulat AS yang berkedudukan di Medan, dengan intensif berkoordinasi dengan Kol. Simbolon, Sumitro, dan Letkol Ventje Soemoeal. Dalam artikel berjudul “PRRI-PERMESTA, Pemberontakan Para Kolonel” yang ditulis Santoso Purwoadi (Angkasa: Dirty War), contohnya, dipaparkan jika pada malam hari, 7 Desember 1957, Panglima Operasi AL-AS Laksamana Arleigh Burke memerintahkan Panglima Armada ke-7 (Pacific) Laksamana Felix Stump menggerakkan kekuatan AL-AS yang berbasis di Teluk Subic untuk merapat ke Indonesia dengan kecepatan penuh tanpa boleh berhenti di mana pun. Satu divisi pasukan elit AS, US-Marine, di bawah pengawalan sejumlah kapal penjelajah dan kapal perusak disertakan dalam misi tersebut. Dalih AS, pasukan itu untuk mengamankan instalasi perusahaan minyak AS, Caltex, di Pekanbaru, Riau.

 

Kepada para pemberontak, selain memberikan ribuan pucuk senjata api dan mesin, lengkap dengan amunisi dan aneka granat, CIA juga mendrop sejumlah alat perang berat seperti meriam artileri, truk-truk pengangkut pasukan, aneka jeep, pesawat tempur dan pembom, dan peralatan-peralatan sejenisnya. Bahkan sejumlah pesawat tempur AU-Filipina dan AU-Taiwan seperti pesawat F-51D Mustang, pengebom B-26 Invader, AT-11 Kansan, pesawat transport Beechcraft, pesawat amfibi PBY 5 Catalina dipinjamkan CIA kepada pemberontak. Sebab itulah, pemberontak bisa memiliki angkatan udaranya sendiri yang dinamakan AUREV (AU Revolusioner). Beberapa pilot pesawat tempur tersebut bahkan dikendalikan sendiri oleh personil militer AS, Korea Selatan, Taiwan, dan juga Filipina. Ironisnya, dan barangkali ini adalah berkah sementara bagi Indonesia, pesan rahasia CIA kepada para pimpinan PPRI agar sebelum mundur dari Riau mereka meledakkan instalasi kilang minyak Caltex dulu, agar dua batalyon US Marine yang sudah menunggu di perairan Dumai bisa mendarat dan menghantam pasukan Yani, dan setelah itu berencana merangsek ke Jakarta guna menumbangkan Soekarno, sama sekali tidak sempat dilakukan para pemberontak.

Agen CIA Tertangkap Basah

Awalnya pemerintah AS membantah keterlibatannya dalam pemberontakan PRRI/PERMESTA. Namun sungguh ironis, tidak sampai tiga pekan setelah Presiden Eisenhower menyatakan hal itu, pada 18 Mei 1958, sebuah pesawat pengebom B-29 milik AS ditembak jatuh oleh sistem penangkis serangan udara Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), setelah pesawat itu membombardir sebuah pasar dan landasan udara Ambon. Sebuah kapal laut milik ALRI juga menjadi korban (Soebadio: Hubungan Indonesia Amerika Dasawarsa ke II Tahun 1955-1965; 2005; h. 73). “Sejumlah rakyat sipil, yang sedang berada di gereja pada acara Kamis Putih, terbunuh dalam serangan di komunitas Kristen tersebut,” tulis David Wise & Thomas B. Ross dalam “The Invisible Government: Pemerintah Bayangan Amerika Serikat” (2007; h. 180). Pilot tempur pesawat tersebut, Allan Lawrence Pope berhasil ditangkap hidup-hidup.

 

Mulanya, AS lewat Dubes Howard P. Jones berkilah jika Pope merupakan warganegara AS yang terlibat sebagai tentara bayaran, namun pemerintah RI mendapatkan banyak bukti jika Pope merupakan agen CIA yang sengaja ditugaskan membantu pemberontakan guna menggulingkan Bung Karno. “Pope bukanlah seorang tentara bayaran. Dia terbang atas perintah CIA, yang secara diam-diam mendukung para pemberontak yang mencoba menggulingkan Soekarno… Dalam konferensi pers di Jakarta, 27 Mei, yang digelar oleh Letkol Herman Pieters, Pemimpin Komando Militer Maluku dan Irian Barat di Ambon, menyatakan… 300 sampai 400 tentara AS, Filipin a, dan nasionalis Cina membantu pemberontakan itu.” (Wise & Rose; h.180)

Ancaman AS Dibalas dengan Ancaman Balik Oleh Bung Karno

Atas gertakan AS yang sampai mengerahkan kekuatan dua batayon US Marine dengan Armada ke-7nya ke perairan Riau, Bung Karno sama sekali tidak gentar dan balik mengancam AS agar jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam masalah internal NKRI. “AS jangan sampai bermain api dengan Indonesia. Jangan biarkan kekurangpahaman Amerika menyebabkan meletusnya Perang Dunia Ketiga!” Bung Karno segera mengirim satu pasukan besar di bawah pimpinan Ahmad Yani untuk melibas para pemberontak di Sumatera. Saat itu RRC telah menyiapkan skuadron udaranya serta ribuan tentara regulernya untuk bergerak ke Indonesia guna membantu Soekarno memadamkan pemberontakan yang didukung CIA tersebut, namun Bung Karno menolaknya. “Kekuatan angkatan perang kami masih mampu menghadapi para pemberontak itu,” ujarnya. Dan hal itu terbukti, hanya dalam hitungan jam setelah pasukan Ahmad Yani mendarat di Pekanbaru, Padang, serta Bukit Tinggi—pusat konsentrasi para pemberontak—maka kota-kota penting itu pun direbut tanpa perlawanan yang berarti.

Bahkan pesan rahasia CIA kepada para pimpinan pemberontak agar sebelum mundur dari Riau mereka meledakkan instalasi kilang minyak Caltex dulu, agar dua batalyon US Marine yang sudah menunggu di perairan Dumai bisa mendarat dan menghantam pasukan Yani, dan setelah itu berencana merangsek ke Jakarta guna menumbangkan Soekarno, sama sekali tidak sempat dilakukan para pemberontak. (Edisi Koleksi Angkasa: Dirty War; h.48). Juni 1958, pemberontakan ini berhasil ditumpas. Sumitro Djojohadikusumo dan sejumlah tokoh yang terlibat pemberontakan melarikan diri ke Singapura dan dari ‘Basis Israel di Asia Tenggara’ itulah, kelompok ini terus menggerogoti kekuasaan Bung Karno dan berusaha agar Indonesia bisa tunduk pada kepentingan kolonialisme dan imperialisme baru (Nekolim) AS.

Seperti Biasa,  Standard Ganda Amerika

Walau awalnya AS membantah keterlibatannya, namun setelah tidak akif lagi di Indonesia, mantan Dubes AS Howard P. Jones mengakui jika dirinya tahu jika CIA ada di belakang pemberontakan itu. Hal ini ditegaskan Jones dalam memoarnya “Indonesia: The Possible Dream” (1990; h.145). Upaya CIA menumbangkan Bung Karno selalu menemui kegagalan. Dari membuat film ****o “Bung Karno”, sampai dengan upaya pembunuhan dengan berbagai cara. Hal ini menjadikan CIA harus bekerja ekstra keras. Apalagi Bung Karno secara cerdik akhirnya membeli senjata dan peralatan militer ke negara-negara Blok Timur dalam jumlah besar, setelah AS menolak memberikan peralatan militernya. AS tentu tidak ingin Indonesia lebih jauh bersahabat dengan Blok Timur. Sebab itu, setelah gagal mendukung PRRI/PERMESTA, sikap AS jadi lebih lunak terhadap Indonesia. 19 Agustus 1958, AS akhirnya mengeluarkan pengumuman resmi jika pihaknya bersedia menjual senjatanya kepada Indonesia. “Dalam waktu enam bulan, kurang lebih 21 batalyon Indonesia telah diperlengkapi dengan senjata-senjata ringan Amerika,” (Jones; h. 154)

Namun, seperti biasa: standard ganda Amerika sudah menjadi hukum pasti, meski di permukaan AS tampak kian melunak, sesungguhnya AS tengah melancarkan ‘operasi dua muka’ terhadap Indonesia. Di permukaan AS ingin terlihat memperbaharui hubungannya dengan Bung Karno, namun diam-diam CIA masih bergerak untuk menumbangkan Bung Karno dan menyiapkan satu pemerintah baru untuk Indonesia yang mau tunduk pada kepentingan Amerika. Ini termuat dalam dokumentasi laporan Hugh S. Cumming, Kepala Kementerian Pertahanan dan CIA, kepada National Security Council (NSC) pada 3 September 1958. (Suroso; Bung Karno Korban Perang Dingin; 2008; h. 331). Senjata-senjata AS banyak yang dikirim kepada Angkatan Darat, dibanding angkatan lainnya dengan pertimbangan dari analisa agen-agen CIA bahwa elemen ini lebih bisa diajak bekerjasama dengan AS ketimbang elemen lainnya.

Di sisi lain, CIA juga menggarap satu proyek membangun kelompok elit birokrat baru yang pro-AS yang kini dikenal sebagai ‘Berkeley Mafia’. Sumitro dan Soedjatmoko merupakan tokoh penting dalam kelompok ini. Bahkan di awal tahun 1960-an, tokoh-tokoh Mafia Berkeley ini bisa mengajar di Seskoad dan menjalin komunikasi intens dengan sekelompok perwira Angkatan Darat yang memusuhi Panglima Tertinggi/Presiden Soekarno, yang diantaranya adalah Suharto yang kelak berkuasa setelah Bung Karno ditumbangkan di tahun 1965. (untuk hal ini lebih lanjut silakan baca artikel David Ransom: “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia, Kuda Troya Baru dari Universitas-Universitas di Amerika Serikat Masuk ke Indonesia”; Ramparts; 1971).

Tumbangnya Sukarno, Kabar Gembira Buat Washington

Tumbangnya Soekarno dan naiknya Jenderal Suharto disambut gembira Washington. Presiden AS Richard M. Nixon sendiri menyebut hal itu sebagai “Terbukanya upeti besar dari Asia”. Untuk membangun satu kelompok militer—terutama Angkatan Darat—di Indonesia yang ‘baru’ (baca: pro Amerika), AS menyelenggarakan pendidikan militer untuk para perwira Indonesia ini di Fort Leavenworth, Fort Bragg, dan sebagainya. Pada masa antara 1958-1965 jumlah perwira Indonesia yang mendapat pendidikan ini meningkat menjadi 4.000 orang. (Suroso; 2008; h. 373). Selain militer, AS juga membangun satu kelompok elit birokrat di Universitas-Universitas AS seperti di Berkeley, MIT, Harvard, dan sebagainya, yang dikenal sebagai Mafia Berkeley. Kedua elemen ini binaan AS ini (kelompok perwira AD yang dipimpin Suharto dan kelompok birokrat yang tergabung dalam ‘Mafia Berkeley’ pimpinan Sumitro) kelak berkuasa di Indonesia setelah Soekarno ditumbangkan. Inilah cikal bakal Orde Baru (The New Order). Amerika Serikat sendiri juga dikenal sebagai pemimpin Orde Dunia Baru (The New World Order).

Sejak kegagalan mendukung PRRI/PERMESTA, National Security Council (NSC) lewat CIA terus memantau perkembangan situasi Indonesia secara intens. Sejumlah lembaga-lembaga sipil dan militer AS juga sangat aktif menggodok orang-orang Indonesia yang dipersiapkan duduk di kursi kekuasaan paska Soekarno. Sebuah memorandum CIA yang dipersiapkan untuk State Department yang dikeluarkan di Washington, 18 September 1964 berjudul Prospek Untuk Aksi Rahasia berisi 18 point, dalam point ke-16 antara lain berbunyi:…Seberapa jauh kita dapat melakukan usaha memecah PKI dan lebih penting lagi, untuk mengadu PKI melawan elemen non-komunis, khususnya dengan Angkatan Darat? Sampai sejauh mana, bila dimungkinkan, kita harus menyerang Soekarno? Apakah tidak dapat terpikirkan untuk menggerakkan tekanan internal seperti membangkitkan kerusuhan Cina tahun lalu, dan di bawah syarat-syarat tertentu mungkin akan memaksa Angkatan Darat untuk meraih kekuasaan besar guna memulihkan keamanan dan ketertiban? Kita tidak ingin nampak terlalu ambisius dalam hal ini. Tapi jika kita membangun program yang didalamnya terdapat bentuk [kurang dari 1 baris teks sumber tidak dideklasifikasikan] sebagai supplement di dalam perkembangan politik jangka panjang. Penting sekali mengetahui kemana kita akan berjalan dan mampu menuntut kemungkinan segala konsekuensinya dari segala usaha kita. Saat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini adalah sekarang, tidak ada nanti…” (Dokumen CIA: Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S 1965; 2007).

Demikianlah. Sudah banyak literatur dan dokumen yang membongkar keterlibatan CIA di dalam peristiwa Oktober 1965, yang pada akhirnya menjatuhkan Soekarno dan menaikkan Jenderal Suharto. Atas nama pembersihan kaum komunis di negeri ini, CIA turut menyumbang daftar nama kematian (The Dead List) yang berisi 5.000 nama tokoh dan kader PKI di Indonesia kepada Jenderal Suharto. Orang yang dijadikan penghubung antara CIA dan Suharto dalam hal ini adalah Adam Malik (lihat tulisan Kathy Kadane, seorang lawyer dan jurnalis State News Service, berjudul “Para Mantan Agen Berkata: CIA Menyusun Daftar Kematian di Indonesia”; Herald Journal, 19 Mei 1990. Artikel yang sama dimuat di San Fransisco Examiner, 20 Mei 1990; di Washington Post, 21 Mei 1990; dan di Boston Globe, 23 Mei 1990). CIA memang memberi daftar kematian sejumlah 5.000 orang, namun fakta di lapangan jauh di atas angka itu. Kol. Sarwo Edhie, Komandan RPKAD saat itu yang memimpin operasi pembersihan ini, terutama di Jawa Tengah dan Timur, menyebut angka tiga juta orang yang berhasil dihabisi. Bukan tokoh PKI saja yang dibunuh, namun juga orang-orang kecil yang tidak tahu apa-apa yang menjadi korban politik kotor konspiratif antara CIA dengan para ‘local army friend’.

Terbukanya Upeti Besar dari Asia

Tumbangnya Soekarno dan naiknya Jenderal Suharto disambut gembira Washingon. Presiden AS Richard M. Nixon sendiri menyebut hal itu sebagai “Terbukanya upeti besar dari Asia”. Indonesia memang laksana peti harta karun yang berisi segala kekayaan alam yang luar biasa. Jika oleh Soekarno kunci peti harta karun ini dijaga baik-baik bahkan dilindungi dengan segenap kekuatan yang ada, maka oleh Jenderal Suharto, kunci peti harta karun ini malah digadaikan dengan harga murah kepada Amerika Serikat. “Salah satu hal yang paling prinsipil dari pergantian kepemimpinan di Indonesia, dari Soekarno ke Suharto adalah bergantinya karakter Indonesia dari sebuah bangsa yang berusaha menerapkan kemandirian berdasarkan kedaulatan dan kemerdekaan, menjadi sebuah bangsa yang bergantung pada kekuatan imperialisme dan kolonialisme Barat,” demikian tulis Suar Suroso (Bung Karno, Korban Perang Dingin; 2008).

Prosesi digadaikannya seluruh kekayaan alam negeri ini kepada jaringan imperialisme dan kolonialisme Barat terjadi di Swiss, November 1967. Jenderal Suharto mengirim sat tim ekonomi dipimpin Sultan Hamengkubuwono IX dan Adam Malik. Tim ini kelak disebut sebagai Mafia Berkeley, menemui para CEO korporasi multinasional yang dipimpin Rockefeller. Dalam pertemuan inilah tanah Indonesia yang kaya raya dengan bahan tambang dikapling-kapling seenaknya oleh mereka dan dibagikan kepada korporasi-korporasi asing, Freeport antara lain mendapat gunung emas di Irian Barat, demikian pula yang lainnya. Bahkan landasan legal formal untuk mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia pun dirancang di Swiss ini yang kemudian dikenal sebagai UU Penanaman Modal Asing tahun 1967 (John Pilger; The NewRulers of the World). Dan jangan lupa, semua COE korporasi asing tersebut dikuasai oleh jaringan Yahudi Internasional. Dalam fase awal kekuasaannya, Jenderal Suharto didampingi oleh dua tokoh Orde Baru, sama-sama Amerikanis, yakni Adam Malik dan Sultan Hamengkubuwono IX. Mereka ini dikenal sebagai Triumvirat Orde Baru.

Dalam tulisan berikutnya akan disorot jejak CIA di dalam masa kekuasaan Jenderal Suharto, di mana bukan hanya CIA yang diajak masuk ke Indonesia namun juga nantinya MOSSAD, sebagaimana telah ditulis dengan jelas di dalam Memoirnya Jenderal Soemitro, mantan Pangkopkamtib. Pada Juli 1966, seorang pejabat CIA, bernama Clarence “Ed” Barbier mendarat di Jakarta. Jabatan resminya adalah Asisten Khusus Duta Besar AS. David Ransom, di dalam artikel “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia, Kuda Troya Baru dari Universitas-Universitas di Amerika Serikat Masuk ke Indonesia” (Ramparts; 1971), dengan jujur memaparkan bagaimana AS lewat CIA membangun satu kelompok elit baru guna memimpin satu Indonesia yang tunduk pada kepentingan kekuatan Neo-Imperialisme dan Neo-Kolonialisme Barat. Bahkan sesungguhnya, Amerikalah yang merancang dan menyusun strategi pembangunan nasional negeri ini yang dikenal dengan istilah Rencana Pembangunan Lima Tahunan (Repelita) lewat satu tim asistensi CIA dan sejumlah think-tank AS yang bekerja di belakang para teknokrat dan birokrat rezim Orde Baru.

Sumber

by

kecoeboeng

22 Juni 1527 Hari Pembantaian Orang Betawi ?

Banyak orang Betawi atau Jakarta yang meyakini tanggal kelahirannya adalah 22 Juni. Seperti halnya kebanyakan orang Betawi yang tidak mau tahu tanggal dan hari lahirnya. Mereka setuju saja tanggal 22 Juni sebagai HUT Jakarta. Berikut ulasannya.Kota Jakarta, mungkin karena benda mati, nggak tahu dan setuju saja ketika ditetapkan 22 Juni 1527 sebagai kelahirannya tanpa menguji lebih jauh. Sebagai generasi kritis, sudah waktunya kita bertanya, 22 Juni yang ulang tahun siapa? Kenapa ?

Sejarahwan & Budayawan Betawi, Drs. H. Ridwan Saidi, ternyata sejak tahun 1988 sudah mengajak banyak pihak menguji kebenaran penetapan tanggal 22 Juni sebagai kelahiran kota Jakarta, tapi selalu diabaikan. Tapi tidak tahun ini, yang kita harapkan sebagai tahun terakhir digunakannya tanggal 22 Juni sebagai tanggal lahir Kota Jakarta.

Kita tengok ke belakang, kata Ridwan Saidi akan kita dapati prosesi sejarah Bandar Kalapa yang sejak abad XV sudah menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran. Pada tahun 1520, Kerajaan Sunda Pajajaran mengutus Wak Item orang dari Kerajaan Tanjung Jaya yang juga merupakan bagian dari kerajaan Sunda Pajajaran. Disebut Wak Item,karena berpakaian serba item (hitam) seperti suku Baduy.Wak Item disebut juga Batara Katong, karena memakai mahkota dari emas.

Kemudian Cirebon fitnah Wak Item sebagai penyembah berhala

Dalam kajian sejarah, Wak Item merupakan proto manusia Betawi (sebelum dipastikan sebagai suku Betawi). Wak Item ditugaskan sebagai Xabandar (syahbandar) Bandar Kalapa atau dikenal Pelabuhan Sunda Kelapa. Ada pula menyebut, Fatahillah menyerbu Kalapa dengan maksud meng-Islam-kan penduduk Labuhan Kalapa. Padahal orang-orang Betawi sendiri telah menjadi Islam oleh Syekh Hasanuddin Patani pada Abad XV, mulai dari pesisir Timur Pulo Kalapa sampai Tanjung Kait di barat.

Asalnya memang orang Betawi monoteistik (sejak Abad V) seperti dalam temuan Batujaya, Lalampahan, Bujangga Manik, Syair Buyut Nyai Dawit. Monoteisme leluhur Betawi dihajar Tarumanegara pada abad IV (Wangsakerta), tapi Pajajaran tidak ganggu, baik ketika masih monoteistik maupun setelah menjadi Islam.

Bahkan, Prabu Siliwangi memproteksi Pesantren Syekh Hasanuddin Patani (Babad Tanah Jawa, Carios Parahiyangan). Jadi tidak benar pada tahun 1527, Fatahillah menyerbu Wak Item & orang Betawi di Labuhan Kalapa, karena alasan mereka penyembah berhala.

 

Kata Ridwan juga, F.De Haan (1932) dalam buku “Oud Batavia” tugas-tugas syahbandar adalah mencatat keluar masuk kapal, memanajemen bisnis dan mencatat jumlah penduduk. Dalam Prasasti Padrao dijelaskan adanya perjanjian antara Kerajaan Sunda Pajajaran dengan Portugis, antara lain berisikan : Portugis diberi hak membangun loji atau benteng disekitar Bandar Kalapa. Pada 1522, Wak Item teken perjanjian dengan Portugis yang merupakan perjanjian imbal beli : lada ditukar meriam. Wak Item meneken perjanjian PADRAO (baca padrong), dengan membubuhkan huruf WAU dengan khot indah.

 

Pelabuhan Sunda Kelapa adalah pintu masuk perdagangan yang ramai pada jaman itu, sehingga merangsang pihak manapun untuk menguasainya. Fatahillah kemudian menjadi utusan Sunan Gunung Jati untuk merebut Bandar Kalapa. Kemenangan Fatahillah 22 Juni 1527 dijadikan sandaran menetapkan perubahan Sunda Kelapa menjadi Jayakarta dan kemudian berubah menjadi Jakarta. Kemenangan ini disebut “Fathan Mubina” kemenangan besar dan nyata, dan Fatahillah disanjung sebagai pahlawan, kemudian tanggal kemenangannya ditetapkan sebagai hari ulang tahun kota Jakarta.Bisa dipastikan Fatahillah adalah pahlawan bagi orang Cirebon, tapi tidak sebagai pahlawan bagi orang Betawi. Dari folklore yang masih hidup di sementara kalangan penduduk Bogor asli penaklukan oleh Fatahillah disebut sebagai perang Betawi.

Perang Penaklukan ini menelan korban yang tidak sedikit anatara lain, musnahnya 3.000 rumah yang dirusak oleh Fatahillah (de Quoto: 1531), tewasnya Wak Item atau Batara Katong versi naskah Cirebon beserta puluhan pengawal Labuhan. Daerah Mandi Rancan dikosongkan dari penduduk asli dan menjadi puing-puing reruntuhan belaka sampai Pangeran Jayakarta menjualnya pada Belanda pada 1602.

 

Menurut Ridwan Saidi, Labuhan Kalapa dikuasai Kerajaan Sunda Pajajaran dan Orang Betawi sebagai pelaksana yang ngurusin Labuhan Kalapa. Pada saat Fatahillah menyerbu Labuhan Kalapa, ada 3.000 rumah orang Betawi yang dibumi hanguskan (menurut buku de Quoto 1531) pasukan Fatahillah yang jumlahnya ratusan. Penduduk Betawi ini kemudian berlarian ke bukit-bukit hidup bagai Tarzan. Menurut Ridwan Saidi, Wak Item sebagai Xabandar Labuhan Kalapa hanya punya pasukan pengikut sebanyak 20 orang. Dengan gigih melawan pasukan Fatahillah, walau akhirnya semua tewas, mati syahid melawan penjajah dari pasukan Koalisi Demak-Cirebon-Banten.

Syahbandar Wak Item tewas dan ditenggelamkan ke laut oleh pasukan Fatahillah,sementara 20 orang pengikutnya semua juga tewas (Babad Cirebon). Menurut Ridwan Saidi, tidak pernah ada pertempuran antara Fatahillah dengan Portugis, karena armada Fransisco de Xa tenggelam diperairan Ceylon. Jadi yang menghadapi Pasukan Fatahillah adalah Xabandar Wak Item dengan pengawal-pengawalnya yang berjumlah 20 orang. Bahkan, menurut beliau Fatahillah juga dibantu tentara asal Gujarat, anak buahnya di Pasai.

Ketika Fatahillah menguasai Bandar Kalapa, maka orang-orang Betawi yang ada, tidak boleh mencari nafkah sekitar Labuhan Kalapa (Hikayat Tumenggung Al Wazir). Kalau kemudian hari orang Betawi membantu VOC menghancurkan kerajaan Jayakarta adalah wajar karena dendam orang terusir. Pada tahun 1619, kerajaan Jayakarta akhirnya takluk pada VOC karena mendapat bantuan orang Betawi, sebagai pelampiasan dendam saja.

by

Asia dan Indonesia Waspadai Ancaman Amerika dari Cocos Island

 

Tidak berhasil masuk melalui Singapura, AS tidak kehilangan akal, Australia pun diloby, maka Australia lalu merelakan Darwin untuk dijadikan pangkalan militer AS. Akan tetapi, kenapa tiba-tiba lokasinya kemudian berubah. Bukan di Darwin tetapi di Cocos Island? Pulau Cocos sendiri hanya berjarak sekitar 3000 kilo meter dari Jakarta, yaitu berdekatan dengan Christmas Island.

 

Asia Pasifik pun kini masih dihadapkan pada konflik perbatasan dan kepemilikan wilayah. Akses dan kebebasan di wilayah laut dan dunia siber juga dilihat menjadi tantangan yang kian meningkat. Rawannya situasi di Semenanjung Korea pun masih jadi soal. Begitu pula dengan bangkitnya China dan India sebagai kekuatan ekonomi baru.

Selain itu, tidak seperti aliansi keamanan NATO di kawasan Amerika dan Eropa, tidak ada suatu mekanisme pemerintahan tunggal di Asia Pasifik yang menyediakan suatu kerangka bersama dalam menyelesaikan konflik.

Asia Pasifik juga sangat strategis. Kawasan ini memiliki sembilan dari 10 pelabuhan terbesar di dunia, dan jalur-jalur laut paling sibuk yang menghasilkan lebih dari US$8 triliun dari arus perdagangan dua arah yang melibatkan setengah dari total kargo kontainer dunia dan 70 persen dari kapal-kapal pengangkut bahan energi melintasi lautan Pasifik setiap hari.

 

Di sisi pertahanan dan keamanan, Asia Pasifik dianggap AS sebagai kawasan yang paling banyak diperlengkapi kekuatan militer. “Kawasan ini punya tujuh dari 10 kekuatan militer terbesar. Lalu, angkatan-angkatan laut terbesar dan paling mutakhir berada di Asia Pasifik.”

Selain itu, tidak boleh diabaikan bahwa lima dari negara-negara kekuatan nuklir dunia berada di kawasan ini.

“Semua aspek itu, bila dikumpulkan, menghasilkan suatu kompleksitas strategis yang unik,”

 

Jika benar pangkalan militer AS akan ditempatkan di Cocos Island, itu adalah bagian dari grand strategy AS untuk melakukan penguatan pengaruh mereka di Asia Pasifik. Mengapa ?

Pertama, karena saat ini perkembangan kawasan Asia Pasifik sangat dinamis, terutama di bidang ekonomi. Asia Pasifik telah menjadi magnet baru bagi AS yang telah bertahun-tahun memusatkan perhatiannya ke kawasan Timur Tengah dan Teluk (Kompas, 19/11/11). Belum lagi kondisi ekonomi AS yang sedang dilanda krisis utang berat dan Uni Eropa mitra dagangnya juga sedang dalam kondisi ekonomi yang mengenaskan.

Kedua, Tampilnya China sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, menyaingi AS, dinilai oleh AS akan meningkatkan kekuatan militer Negeri China untuk melindungi kepentingan ekonominya.

Ketiga, India sebagai kekuatan baru dari Asia, selain China, juga menjadi faktor yang mendorong AS memberikan perhatian besar pada kawasan ini.

Keempat, Negara-negara ASEAN dengan wilayah yang kaya potensi alam, yakni mineral dan Migas, menjadi daya tarik negara-negara besar untuk ikut campur meraih kepentingannya masing-masing. Laut China Selatan (LCS) menjadi wilayah yang saat ini menjadi incaran AS dan China karena kandungan mineral dan migasnya yang sangat berlimpah.

 

Kelima, kawasan LCS yang sedang disengketakan oleh negara-negara terdekat yaitu Philipina, Brunei, Malaysia, Vietnam dan China (yang turut mengklaim, walaupun posisinya relatif paling jauh) yang juga menjadi incaran AS, ternyata juga merupakan jalur laut, jalur perdagangan negara-negara Asia. Nilai perdagangan yang melalui jalur itu setiap tahun mencapai 5,3 triliun dollar AS dengan 1,2 triliun dollar AS adalah nilai perdagangan AS.

Selain itu wilayah paling timur Indonesia, yaitu Papua hingga kini masih terus bergolak. Jangan-jangan AS akan memberikan kompensasi kepada Australia untuk “menguasai” atau “bebas bermain” di Papua. Kita tahu, Australia sangat “bernafsu” melepaskan Papua dari NKRI. Apakah itu kompensasinya?

dihimpun dari berbagai sumber di google
 by

Kejam, Anak Panti Dijadikan Kelinci Percobaan Vaksin

 

Bentuk pelecehan terhadap anak-anak bukan hal yang baru saja terjadi belakangan ini. Bentuk pelecehan yang terjadi bukan hanya pelecehan yang bersifat seksual semata, namun bisa dalam bentuk pelanggaran hak-hak anak lainnya.Sebuah skandal rumah penampungan (panti) ibu dan anak di Irlandia membuat sebuah pernyataan yang mengaggetkan, yakni bahwa anak-anak di tempat itu dipergunakan sebagai bahan kelinci percobaan untuk uji coba vaksin oleh beberapa perusahaan-perusahaan obat. Demikian dilansir dari The Daily Beast (10/06/2014).


Hal kejam ini ter ungkap setelah pemerintah Irlandia setuju untuk mengumumkan dimulainya penyidikan tentang hal tersebut — setelah didesak berkali-kali.

Minggu lalu, terungkap bahwa sekitar 800 orang anak-anak dan bayi dimakamkan di kuburan-kuburan tak bernama di halaman panti itu yang diasuh oleh suster-suster Bon Secours di Tuam, County Galway.

Laporan tentang penemuan jasad anak-anak yang dibuang ke dalam tangki septik tank belum diceritakan semuanya secara lengkap kepada publik.

Sebuah stasiun radio Irlandia, Newstalk, mengaku sudah memiliki laporan ekslusif bahwa setidaknya ada 80 anak-anak di panti asuhan itu yang jatuh sakit setelah mereka diberikan vaksin sapi untuk bahan eksperimen.

Anak-anak tak berdosa itu dilaporkan menjadi sakit setelah mereka diberikan vaksin yang dimaksudkan untuk hewan ternak (sapi) dalam sebuah percobaan di 5 rumah penampungan dan panti asuhan di Dublin di sekitar tahun 1970-an. Mereka termasuk dalam 298 anak yang dijadikan alat dalam uji coba obat.

 

 

Informasi ini tercantum di dalam laporan dari Kepala Kesehatan di Departemen Kesehatan, dalam laporan kepada Oireachtas di tahun 2000 yang berhasil diterima oleh Newstalk.

Seorang pria yang diadopsi dari salah satu panti itu—Bessborough House di County Cork—dan hanya memperkenalkan dirinya sebagai Christy mengungkapkan kekejaman di panti tersebut. Ia mengatakan: “Lengan dan tungkai saya luka-luka parah. Ketika saya tanya kepada ibu angkat saya, ia mengatakan, ‘Ketika kamu tiba, lenganmu sangat bengkak dan dibalut’…Saya tidak mengetahui apapun tentang uji vaksinasi. Saya telah menemui beberapa dokter dan mereka mengatakan belum pernah melihat hal seperti ini, banyak sekali suntikan, saya memiliki delapan suntikan di dua lengan saya dan dua di setiap kaki…para dokter itu tidak bisa memahami hal itu.”

Salah satu biarawati di panti Bessborough House, Ibu Kepala Suster Sarto ingat tentang pengadilan itu, namun bersikeras bahwa para orangtua telah memberikan izin.

“Tidak ada yang meninggal,” kata salah satu biarawati yang masih mengingat uji coba vaksin itu.

 

Katanya kepada Newstalk,” Dokternya datang ke sini dan mengatakan, bahwa mereka akan melakukan ujicoba ini dan para ibu membawa anak-anak mereka ke tempat sang dokter. Anda tidak mungkin dapat melakukan itu tanpa izin ibunya. Itu suatu pilihan, kami memeriksa apakah ada dampak penyakit, dan tidak ada yang meninggal, tidak seorangpun yang menderita dampak yang merugikan. Kala itu datanglah seorang dokter dari Dewan Kesehatan Selatan (Southern Health Board) dan membawa catatan-catatan kedokteran bersamanya.”

Susan Lohan, salah satu pendiri Aliansi Hak Adopsi, bertutur kepada stasiun radio Newstalk bahwa pengakuan adanya izin dari orang tua adalah hal yang tidak dapat dipercaya.

“Para ibu dari anak-anak ini tidak pernah diajak bicara atau apapun terkait dengan kesejahteraan anak-anak mereka,” ujarnya.

“Sejujurnya bagi saya hal itu tidak dapat dipercaya ketika para manajer tempat itu telah membuat perkecualian ketika berurusan dengan percobaan-percobaan vaksin.”

GlaxoSmithKline, yang mengambil alih perusahaan obat yang melakukan percobaan itu, Burroughs Welcome, menyaatakan bahwa mereka akan bekerjasama selama penyidikan.

Sebelum tahun 1987, tidak ada undang-undang yang mengatur pengujian kedokteran di Irlandia.

Ada 58 orang anak yang ikut ambil bagian dalam uji coba vaksin polio dan difteri di bulan Desember 1960. Hasilnya diterbitkan dalam British Medical Journal di tahun 1962.

Pemeriksaan sebelumnya atas uji coba vaksin di Irlandia mengalami masalah hukum ketika Professor Patrick Meenan, salah satu dri enam penulis penelitian dan berusia 86 tahun saat itu, mengatakan bahwa ia berhalangan hadir dengan alasan usia yang uzur dan kesehatan yang buruk.

Pemeriksaan tersebut akhirnya dihentikan di tahun 2003.

Masyarakat Irlandia telah diguncang oleh beberapa gelombang laporan tentang pelecehan anak secara kelembagaan sejak penerbitan laporan resmi pertama laporan tahun 2009 tentang pelecehan anak di rumah asuh, yang kerap dijalankan oleh biarawati dan biarawan. Sejak saat itu, terungkaplah air bah kasus-kasus pelecehan jasmani dan seksual atas anak-anak di panti.

Kementrian Anak-anak Charlie Flanagan hari ini mengumumkan Komisi Pemeriksaan dengan hak kewenangan penuh untuk menanyai panti-panti ibu dan anak.

 

 

Menurutnya, ia berharap, bahwa pemeriksaan dapat juga sekaligus menyidik kecurigaan adanya adopsi paksaan dan ujicoba vaksin yang kontroversial yang dilakukan tanpa izin dari ibu mereka.

Ucapnya kepada stasiun RTE Radio One: “Saya akan dengan giatnya mengupayakan musyawarah dengan seluruh spektrum politik yang ada.”

Tentu saja pemeriksaan ini diterima dengan senang hati. Namun demikian, kenyataan bahwa pernah ada anak-anak yang dipergunakan sebagai mangsa empuk untuk diujikan obat-obatan baru adalah suatu tanda lain akan kurangnya rasa hormat akan hak-hak anak-anak yang malang dan tidak berdosa itu.

by

pepes

Sejarah Rumah Sakit Kelamin di Indonesia

 

“Rumah Sakit Kelamin Indrapura” atau “Bekas Rumah Sakit Kelamin”, dua nama tersebut rupanya jauh lebih dikenal orang awam—khususnya supir taxi—daripada nama resminya sekarang, yaitu kantor Badan Litbang Kementerian Kesehatan atau Museum Kesehatan di Jalan Indrapura 17,  Surabaya. Lebih lagi, masih pula ada beberapa orang yang mengira, bahwa lokasi tersebut masih berfungsi sebagai rumah sakit kelamin.

Sejarah pendirian tempat ini dipengaruhi oleh prevalensi penyakit kelamin yang tinggi pada saat itu.  Data Rumah Sakit CBZ pada tahun 1938-1940 menyatakan, bahwa di Surabaya telah terdapat 3810 pasien syphilis, di mana 1261 pasien di antaranya berada pada stadium menular (P3SKK, 2008).

Selain itu, penelitian yang dilakukan pada poliklinik-poliklinik pelabuhan di Jakarta, Surabaya, Semarang dan Bandung pada tahun 1937-1941 dan 1950 juga menunjukkan kesimpulan yang sama.  Penelitian terus dilanjutkan sampai tahun 1956 di dua kriteria lokasi, yaitu Jawa dan Luar Jawa. Hasilnya menunjukkan, bahwa angka penularan di Jawa 3-4 kali lebih tinggi daripada di luar Jawa,  dengan kasus terbanyak pada penyakit syphilis (Depkes, 1980).

Berdasar hasil-hasil penelitian tersebut, tahun 1950, Menteri Kesehatan dr. J. Leimena menugaskan Prof. Dr. Soetopo,  seorang dokter ahli penyakit kulit dan kelamin, untuk menangani suatu penelitian dan pemberantasan penyakit kelamin.

Dari empat kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Surabaya dan Surakarta), dipilihlah lokasi di Surabaya. Ada empat alasan kenapa Surabaya dipilih: (1) data penderita yang cukup tinggi, (2) Surabaya sebagai kota pelabuhan besar, (3) keberadaan masyarakat yang homogen yang juga memperbesar risiko penularan; dan (4) Prof. Dr. Soetopo sendiri adalah arek Suroboyo.

Gedung ini kemudian dibangun pada tahun 1951 dan diresmikan tahun 1953 sebagai “Lembaga Pusat Penyelidikan dan Pemberantasan Penyakit Kelamin (LP4K)”. Lembaga ini tidak hanya bertugas sebagai Venerisch Hospitaal (Rumah Sakit Kelamin) tapi juga menjalankan peran preventif, penyuluhan, penelitian  dan pendidikan.

 

Proses pembangunan gedung Lembaga Pusat Penyelidikan dan

Pemberantasan Penyakit Kelamin 1951.
Sumber foto: P3SKK, 2008

Pada perkembangannya, lembaga ini tidak hanya menghadapi penyakit kelamin tapi juga beberapa masalah kesehatan masyarakat yang terus bermunculan dan berkembang, seperti campak, kusta, gizi dan lain sebagainya. Seiring dengan semakin luasnya ruang lingkup penelitian, LP4K berubah menjadi Lembaga Kesehatan Nasional (LKN) yang diresmikan pada tanggal 14 Februari 1965. LKN ini kemudian dikembangkan menjadi Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan tingkat nasional yang terdiri dari beberapa pusat penelitian di beberapa daerah di Indonesia.

 

 

Gedung RS Kelamin tahun 1952 (atas) dan 1953 (bawah).

Sumber: P3SKK, 2008

Sekarang Rumah Sakit Kelamin ini menjadi kantor salah satu pusat badan litbang, yaitu Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan, dan Pemberdayaan Masyarakat (PHKKPM) yang juga memiliki Museum Kesehatan Dr. Adhyatma, MPH, museum kesehatan satu-satunya milik Kementerian Kesehatan.

Sumber

 by

Misteri Jaringan Teror Amerika, Arab Saudi dan Israel

 

Arab Saudi punya segala track record yang buruk, dan sama sekali tidak memiliki sisi baik dari sebuah negara yang kaya minyak seperti Venezuela. Negara ini diatur oleh rezim diktator dari sebuah keluarga, yang tidak mentolerir adanya kelompok oposisi dan menghukum berat pendukung hak asasi manusia, serta para pembangkang politik. Ratusan miliar dari pendapatan minyaknya dikendalikan oleh despotisme kerajaan, dan investasi spekulatif bahan bakar di seluruh dunia.

Para elite yang berkuasa ini bergantung pada pembelian senjata dari Barat dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) untuk perlindungan keamanan mereka. Kekayaan Negara yang sekiranya produktif, urung untuk memperkaya kebutuhan yang paling mencolok dari keluarga penguasa Saudi. Elit penguasa negeri petrodollar tersebut membiayai sebuah paham yang paling fanatik,buruk dan misoginis dari Islam. “Wahabi ”

Saat dihadapkan pada perbedaan pendapat internal dari sekelompok orang-orang yang tertindas dan kaum agama minoritas, kediktatoran Arab Saudi merasakan ancaman dan bahaya dari semua sisi, baik itu dari luar negeri, kelompok sekuler, nasionalis dan Syiah yang menguasai pemerintahan, secara internal, nasionalis Sunni moderat, demokrat dan feminis , dalam kubu royalis , tradisionalis dan modernis. Menanggapi perubahan yang mengarah kepada pembiayaan, pelatihan dan persenjataan jaringan teroris internasional Islam, yang diarahkan untuk menyerang, menginvasi dan menghancurkan rezim yang menentang ulama diktator Arab.

Dalang dari jaringan teror Saudi adalah Bandar bin Sultan, yang memiliki hubungan yang sudah lama dan akrab dengan para pejabat tinggi politik, militer dan intelijen AS. Bandar dilatih dan diindoktrinasi di Maxwell Air Force Base dan Johns Hopkins University, ia menjabat sebagai Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat selama lebih dari dua dekade (1983 – 2005). Sekitar tahun 2005 – 2011, ia adalah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Arab Saudi, dan pada tahun 2012 ia diangkat sebagai Direktur Jenderal Badan Intelijen Arab Saudi. Sampai saat ini, Bandar semakin banyak terlibat dalam proyek operasi teror rahasia.

Berkaitan dengan CIA. Di antara berbagai operasi kotornya dengan CIA selama tahun 1980, Bandar menyalurkan US$ 32.000.000 ke Nikaragua Contra, yang terlibat dalam kampanye teror untuk menggulingkan pemerintahan revolusioner Sandinista di Nikaragua. Selama masa jabatannya sebagai duta besar, ia aktif terlibat dalam upaya perlindungan terhadap Kerajaan Arab Saudi yang diklaim terlibat dengan pemboman Triple Towers dan Pentagon pada 11 September 2001.

Kecurigaan bahwa Bandar dan sekutu-sekutunya di keluarga kerajaan memiliki pengetahuan sebelumnya tentang pemboman oleh teroris Saudi ( 11 dari 19 ), dikuatkan dengan adanya catatan penerbangan mendadak Kerajaan Arab Saudi menyusul aksi teroris pada 11/9. Dokumen intelijen AS mengenai hubungan Saudi – Bandar berada di bawah tinjauan Kongres .

Dengan banyaknya pengalaman dan pelatihan dalam menjalankan operasi teroris klandestin, berangkat dari dua dekade tugasnya untuk bekerja sama dengan badan-badan intelijen AS, Bandar berada dalam posisi yang pas untuk mengatur jaringan teror global tersendiri dalam upayanya menyembunyikan keburukan dan kelemahan monarki despotik Arab Saudi.

 

Jaringan Teror Bandar

Bandar bin Sultan telah mengubah Arab Saudi dari apa yang dahulu mereka sebut rezim mandiri yang berbasis kesukuan, menjadi benar-benar tergantung pada kekuatan militer AS untuk kelangsungan hidupnya, menjadi pusat regional utama dari jaringan teror yang luas, seorang penyandang dana aktif diktator militer sayap kanan (Mesir) dan klien rezim (Yaman) serta interventor militer di kawasan Teluk (Bahrain).

Bandar telah membiayai dan mempersenjatai banyak kelompok teroris dengan operasi rahasianya, ia memanfaatkan afiliasi Al Qaeda , sekte Wahabi Saudi yang dikendalikan berbagai kelompok bersenjata ekstrim lainnya. Bandar adalah promotor teroris yang pragmatis : Menindas lawan Al Qaeda di Arab Saudi dan membiayai teroris Al Qaeda di Irak, Suriah, Afghanistan dan di tempat lain, Sementara Bandar adalah aset masa depan badan intelijen AS, baru-baru ini ia mengambil ‘kursus independen’ di mana kepentingan daerah dari wilayah despotik, berbeda dari orang-orang Amerika Serikat.

Dengan maksud yang sama, sementara Arab Saudi memiliki permusuhan lama terhadap Israel , Bandar telah mengembangkan ” pemahaman rahasia ” dan hubungan kerjasama dengan rezim Netanyahu terkait permusuhan bersama mereka atas Iran dan lebih khusus lagi bertentangan dengan perjanjian interim antara rezim Obama – Rohani.

Bandar telah melakukan intervensi secara langsung atau melalui beberapa perwakilannya dalam membentuk kembali keberpihakan politik, menggoyahkan lawan dan memperkuat serta memperluas jangkauan politik kediktatoran Arab Saudi dari Afrika Utara ke Asia Selatan, dari kaukus Rusia ke Ujung Afrika, kadang-kadang dalam keberpihakannya dengan imperialisme Barat, beberapa kali ia menyuarakan aspirasi hegemonik Arab Saudi.

Bandar telah menggelontorkan miliaran dolar untuk memperkuat rezim pro -Islam sayap kanan di Tunisia dan Maroko, memastikan bahwa gerakan pro – demokrasi massa akan ditekan, terpinggirkan dan dihancurkan. Ekstremis Islam menerima bantuan keuangan dari Arab Saudi untuk mendukung kembalinya Muslim “moderat” di pemerintahan, dengan membunuh pemimpin demokrasi sekuler dan pemimpin serikat buruh sosialis dari kelompok oposisi. Kebijakan Bandar sebagian besar bertepatan dengan orang-orang dari Amerika Serikat dan Perancis di Tunisia dan Maroko, tetapi tidak di Libya dan Mesir .

Dukungan finansial Saudi untuk para teroris dan afiliasi Al Qaeda melawan Presiden Libya, Gadhafi, sejalan dengan perang udara NATO. Namun banyak penyimpangan muncul setelahnya : rezim yang didukung NATO yang terdiri dari eks- neo liberal yang berhadapan melawan Saudi, dan didukung Al Qaeda juga kelompok-kelompok teroris islam, mereka juga datang dari berbagai macam kelompok bersenjata dan perampok .

Bandar mendanai Ekstremis Islam Libya yang menjadi bankir untuk memperluas operasi militer mereka ke Suriah, di mana rezim Saudi sedang mengadakan operasi militer besar-besaran untuk menggulingkan rezim Assad. Konflik internal yang terjadi antara NATO dan kelompok-kelompok bersenjata Saudi di Libya pecah, dan menyebabkan pembunuhan umat Muslim dari Duta Besar AS, dan perwakilan CIA di Benghazi.

Setelah Gadhafi dilengserkan , Bandar hampir meninggalkan minatnya dalam pekerjaan bermandikan darah berikutnya, dan kekacauan yang diprovokasi oleh aset bersenjata . Mereka pada akhirnya mencari dana sendiri dengan merampok bank , melakukan pencurian minyak dan mengosongkan kas lokal ” independen ” yang secara relatif ada di bawah kontrol Bandar.

Di Mesir , Bandar berkembang, berkoordinasi dengan Israel (tapi untuk alasan yang berbeda), strategi perusakan independen secara relative lewat sebuah rezim yang terpilih secara demokratis. Ikhwanul Muslimin dengan Mohammad Morsinya. Bandar dan rezim diktator Arab Saudi secara finansial mendukung kudeta militer dan kediktatoran Jenderal Sisi.

Strategai AS berupa perjanjian akan adanya pembagian kekuasaan antara IM dan rezim militer, menggabungkan legitimasi pemilu populer dan militer pro – Israel – pro NATO yang disabotase. Dengan paket bantuan US$ 15 miliar dan janji-janji yang akan datang, Bandar menyediakan kebutuhan militer Mesir,yaitu sebuah jaminan finansial dan kekebalan ekonomi dari setiap transaksi keuangan internasional.

Tidak ada konsekuensi apapun yang diambil. Pihak militer menghancurkan IM dengan cara dipenjara dan militer juga mengancam untuk mengeksekusi para pemimpin yang terpilih . Ini dilarang oleh sayap oposisi liberal – kiri yang telah digunakan sebagai umpan meriam untuk membenarkan kudeta kekuasaannya . Dalam mendukung kudeta militer , Bandar menghilangkan saingan, rezim Islam yang terpilih secara demokratis berdiri kontras dengan despotisme Saudi .

Dia mengamankan rezim diktator yang berpikiran selayaknya pemimpin di banyak negara Arab, meskipun penguasa militer saat itu lebih sekuler, pro-Barat , pro – Israel dan anti – Assad dibandingkan rezim IM. bandar berhasil menjalankan kudeta Mesir dengan mengamankan sekutu politik tetapi menghadapi masa depan yang tidak pasti.

Kebangkitan gerakan massa anti – diktator baru-baru ini juga akan menargetkan hubungan dengan Arab Saudi. Apalagi Bandar bersikap acuh dan melemahkan kesatuan Negara Teluk seperti Qatar yang telah membiayai rezim Morsi dan mengeluarkan dana sebesar $ 5 miliar dolar, hal ini juga telah diperluas ke rezim sebelumnya.

Jaringan teror Bandar paling jelas terbukti pada pembiayaan, persenjataan, pelatihan dan pengalokasian besar-besaran jangka panjang puluhan ribu “relawan teroris” dari Amerika Serikat, Eropa , Timur Tengah , kaukus , Afrika Utara dan di tempat lain di beberapa Negara. Teroris Al Qaeda di Arab Saudi menjadi “pejuang jihad” di Suriah . Puluhan kelompok bersenjata Islam di Suriah bersaing untuk mendapatkan suplai senjata dan pendaan dari Arab Saudi. Basis pelatihan dengan instruktur dari AS dan Eropa dan dibiayai oleh Saudi, didirikan di Yordania, Pakistan dan Turki . Bandar membiayai kelompok utama pemberontak teroris bersenjata, Negara Islam Irak dan Levant (ISIL), untuk operasi lintas batas Negara.

Dengan adanya Hizbullah yang mendukung Assad, Bandar mengalirkan dana dan senjata kepada Brigade Abdullah Azzam di Lebanon Selatan untuk mengebom Beirut, kedutaan Iran dan Tripoli. Bandar mengucurkan US$ 3 milyar kepada militer Lebanon untuk ide mengobarkan perang saudara baru antara mereka dan Hizbullah.

Ia berkoordinasi dengan Perancis dan Amerika Serikat, namun dengan dana yang jauh lebih besar dan ruang gerak yang lebih besar untuk merekrut para teroris, Bandar diasumsikan sebagai peran utama dan menjadi direktur utama tiga front militer dan serangan diplomatik terhadap Suriah, Hizbullah dan Iran. Bagi Bandar, pengambilalihan kekuasan atas muslim Suriah akan mengarah pada invasi terhadap mereka dalam mendukung Al Qaeda di Lebanon, untuk mengalahkan Hizbullah dengan harapan mengisolasi Iran. Teheran kemudian akan menjadi target dari serangan Arab -Israel -AS . Strategi Bandar tak kurang hanya sekedar fantasi yang tak akan terwujud menjadi realita.

Bandar Menyimpang dari Washington : Serangan terhadap Irak dan Iran

Arab Saudi adalah partner yang menguntungkan bagi Washington, tetapi kadang-kadang mereka menjadi tidak terkontrol. Hal ini terjadi karena Bandar telah diangkat sebagai kepala Intelijen : aset lama CIA, dia juga beberapa kali mengambil keuntungan berupa kebebasannya untuk menikmati hasil kerja kerasnya selama ini, terutama ketika keuntungan itu berupa kenaikan jabatan dalam struktur kekuasan monarki Arab Saudi.

Oleh karena itu, misalnya, kemampuan Bandar untuk mengamankan AWACs meskipun pihak oposisi AIPAC ini membuatnya mendapatkan bintang jasa. Seperti kelebihannya dalam mengamankan keberangkatan beberapa ratus anggota kerajaan Saudi yang terlibat dalam pemboman 11/9, meskipun tingkat pengamanan nasional setelah pengeboman itu dinilai sangat tinggi.

Ketika ada beberapa kesalahan masa lalu, Gerakan Bandar menjadi lebih menyimpang dari kebijakan US. Dia menjalankan operasi terror dengan cara membangun jaringan teror tersendiri yang diarahkan untuk memaksimalkan hegemoni Arab Saudi – meskipun kebijakan itu bertentangan dengan perwakilan-perwakilan US, para kolega mereka dan operasi-operasi rahasia.

Teroris “Negara Islam Irak dan Suriah(ISIS)”. Ketika AS bernegosiasi mengenai “perjanjian interim” dengan Iran, Bandar menyuarakan ketidaksetujuan dan “membeli” dukungan. Saudi dengan menandatangani traktat pembelian senjata bernilai miyaran dolar selama kunjungan Presiden Perancis, Francois Hollande disana, hal ini terjadi dalam rangka pertukaran sanksi yang lebih besar terhadap Iran. Bandar juga menyatakan dukungannya terhadap keterlibatan Israel untuk pengaturan kekuatan Zionis agar mempengaruhi Kongres, tujuannya adalah sabotase perundingan AS dengan Iran.

Bandar telah bergerak di luar protokol aslinya sebagai pemegang kendali intelijen AS. Hubungan dekatnya dengan AS dan presiden Uni Eropa di masa lalu dan sekarang serta tokoh masyarakat politik telah mendorong dia untuk terlibat dalam “Petualangan Kekuatan Besar”. Dia bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk meyakinkan Putin agar memberikan dukungannya terhadap Suriah, menawarkan wortel atau tongkat: penjualan senjata multi-miliar dolar secara sukarela atau ancaman untuk melepaskan teroris Chechnya agar mengacaukan Olimpiade Sochi.

Dia telah merubah Erdogan yang semula adalah sekutu NATO, menjadi pendukung lawan bersenjata ‘moderat’ Bashar Assad, dalam merangkul Saudi yang didukung oleh ISIS ‘Negara Islam Irak dan Suriah’, afiliasi Al Qaeda. Bandar telah “mengabaikan” upaya cari untung Erdogan untuk menandatangani kesepakatan minyak dengan Iran dan Irak, pengaturan militernya dilanjutkan dengan NATO dan dukungan masa lalunya dari rezim tidak aktif Morsi di Mesir, dalam rangka mengamankan dukungan Erdogan untuk mendukung kemudahan transit besar-besaran teroris binaan Saudi ke Suriah dan kemungkinan juga ke Lebanon .

Bandar telah memperkuat hubungan dengan kelompok bersenjata Taliban di Afghanistan dan Pakistan, dia mempersenjatai dan membiayai perlawanan bersenjata mereka terhadap AS, serta menawarkan sebuah lokasi untuk proses awal negosisasi kepada AS.

Dimungkinkan juga, Bandar mendukung dan mempersenjatai teroris Uighur Muslim di Cina barat, dan Chechnya, juga teroris Islam Kaukasia di Rusia, bahkan saat Saudi melakukan ekspansi perjanjian minyak dengan China dan bekerjasama dengan Gazprom, Rusia.

Satu-satunya wilayah di mana Saudi gagal melakukan intervensi militer langsung adalah Negara teluk kecil, Bahrain. Pasukan Saudi hancur oleh gerakan pro-demokrasi menantang rezim despotik lokal.

Bandar: Teror Global pada Yayasan Domestik yang Mencurigakan

Bandar telah memulai transformasi yang luar biasa dari kebijakan luar negeri Saudi dan meningkatkan pengaruh global. Semua untuk yang terburuk. Seperti Israel, ketika penguasa reaksioner sampai pada keinginan untuk menguasai dan menjungkirbalikkan tatanan demokrasi, Saudi datang dengan kantong dolarnya untuk menopang rezim despotic tersebut.

Setiap kali jaringan teroris muncul untuk menumbangkan rezim nasionalis, sekuler atau Syiah, mereka dapat mengandalkan dana dan dukungan Saudi. Persis seperti yang digambarkan oleh para ahli Taurat sebagai “upaya lemah dalam liberalisasi dan modernisasi” rezim Saudi yang memburuk, mereka benar-benar meningkatkan kemampuan militer para teroris di luar negeri. Bandar menggunakan teknik-teknik teror modern untuk memaksakan model pemerintahan reaksioner Saudi pada negara tetangga dan rezim-rezim di Negara yang memiliki populasi mayoritas umat Muslim.

Masalahnya adalah bahwa, petualangan operasi konflik luar negeri skala besar Bandar, bertentangan dengan beberapa gaya kepemimpinan keluarga kerajaan Arab Saudi yang cenderung berhati-hati. Mereka ingin dibiarkan sendiri dalam menimbun kumpulan uang sewa minyak bumi yang bernilai ratusan miliar itu, hal ini sengaja dilakukan agar mereka dapat berinvestasi pada bisnis properti mewah di seluruh dunia, dan diam-diam menyewa gadis-gadis panggilan di Washington, London dan Beirut, di saat yang sama mereka bertindak sebagai wali saleh dari Madinah, Mekkah dan berbagai macam situs suci Islam.

Sejauh ini Bandar belum merasa tertantang, karena ia masih berhati-hati dengan cara memberikan penghormatan kepada raja yang berkuasa dan lingkaran dalamnya. Dia telah membeli dan membawa seluruh perdana menteri, para presiden dan pejabat penting lain dari negara-negara Barat dan Timur, Bandar membawa mereka ke Riyadh untuk menandatangani kesepakatan dan pembayaran upeti dalam usahanya untuk menyenangkan rezim despotik Al Saud. Namun sikap khawatirnya terhadap operasi Al Qaeda di luar negeri , mendorong ekstrimis Saudi untuk pergi ke luar negeri dan terlibat dalam perang antar teroris, hal ini jelas menimbulkan keresahan di kalangan monarki.

Mereka khawatir teroris yang mereka latih dan bina ini kembali dari Suriah, Rusia dan Irak kemudian meledakkan istana kerajaan. Selain itu, rezim luar negeri yang ditargetkan oleh jaringan teror Bandar kemungkinan dapat membalas : Rusia atau Iran , Suriah , Mesir , Pakistan , Irak yang mungkin hanya menyediakan instrumen “balas dendam” mereka sendiri. Meski pun ratusan miliar dihabiskan untuk pembelian senjata, rezim Arab Saudi sangat rentan di semua tingkatan.

Terlepas dari paham kesukuan, elit miliarder hanya didukung oleh segelintir rakyat dan bahkan legitimasi mereka kurang. Hal ini tergantung pada buruh migran luar negeri, pakar asing dan pasukan militer AS. Para elit Saudi juga dibenci oleh Ulama Wahabi yang paling relijius karena mengizinkan “takfiri” berjihad di medan suci.  Sementara Bandar memperluas kekuasaan Saudi di luar negeri , fondasi aturan domestik jadi menyempit. Ia menentang kebijakan AS di Suriah, Iran dan Afghanistan, rezim Al Saud tergantung pada Angkatan Udara AS dan Armada Ketujuh untuk melindungi mereka dari berkembangnya kelompok-kelompok yang memusuhi pemerintah.

Bandar, dengan ego -nya, mungkin percaya, bahwa ia adalah seorang “Saladin” yang membangun kerajaan Islam baru, tetapi dalam kenyataannya, dengan hanya menjentikkan jari, raja pelindungnya dapat menyebabkan pemecatannya dipercepat. Terlalu banyak pemboman sipil provokatif oleh teroris yang dia manfaaatkan dapat menyebabkan krisis internasional, yang mengarah ke Arab Saudi dan hal ini menjadikan mereka sasaran penghinaan secara global.

Pada kenyataannya, Bandar bin Sultan adalah anak didik dan penerus Bin Laden, ia telah memperdalam dan menstrukturisasi terorisme global. Jaringan teror Bandar telah membunuh banyak korban tak berdosa dibandingkan Bin Laden. Hal itu tentu saja yang paling diharapkan, setelah semua kepemilikannya atas miliaran dolar kas Saudi , pelatihan dari CIA dan jabat tangan Netanyahu!.

 by

Last edited by pepes; Today at 12:50.

Misteri 8 Lubang Besar di Bumi ini

 

Bumi tiba-tiba berlubang, menelan orang-orang di atasnya. Bencana ini terjadi di Guatemala dan bisa dilihat pada gambar pada daftar di bawah.

Lucunya, dari 8 lubang yang ada, sebagian besar justru karena perbuatan manusia. Apalagi alasannya kalau bukan karena pertambangan. Saat ini mungkin hanya kami sajikan 8 lubang besar di bumi ini. Entah 5 tahun mendatang, boleh jadi tambang di Freeport bakal masuk daftar.

1. Tambang Berlian Mirny di Siberia

Lubang ini akibat pertambangan berlian. Diameternya 525 meter dan kedalaman 1200 meter. Disebut juga sebagai tambang berlian terbesar di dunia. Pesawat dan helikopter dilarang terbang di atas lubang ini, karena bisa tersedot masuk ke dalamnya.

2. Darvaza – Lubang Neraka

Pada tahun 1971, ahli geologi menemukan deposit bawah tanah besar gas alam di situs ini. Saat menggali, sebuah rig pengeboran secara keseluruhan jatuh ke dalam gua bawah tanah. Gas alam di tempat ini terus terbakar bahkan sampai hari ini, karenanya disebut juga pintu atau lubang neraka. Lokasinya di Turkmenistan.

3. Kimberley, Afrika Selatan

Di Kimberley, Afrika Selatan juga ada lubang pertambangan berlian. Dalamnya 1.097 meter dan tahukah kamu, lubang sebesar ini digali oleh tangan-tangan manusia secara manual. Sebelum ditutup tahun 1914 bisa menghasilkan hingga 3000 kg berlian.

4. Monticello Dam – California

Bentuk lubang pada bendungan terbesar di Amerika ini memungkinkan air mencapai kapasitas 48.400 kubik lalu bisa mengalir ke bendungan.

5. Diavik Mine – Kanada

ambang berlian Diavik lokasinya sekitar 300 kilometer dari Yellowknife di Kanada. Tambang ini menghasilkan 8 juta karat (1.750 kg) berlian per tahun.

6. Sinkhole-Guatemala

Pada tahun 2007 sebuah lubang tiba-tiba saja terbentuk di Guatemala dan menelan sekitar selusin rumah. Lubang ini dalamnya 300 kaki

7. Great Blue Hole – Belize

The Great Blue Hole adalah lubang pembuangan air di lepas pantai Belize. Lokasinya sekitar 60 mil dari Belize City. Diameternya sekitar 305 meter dan kedalamannya 123 meter.

8. Well Of Chand Baori

Chand Baori terletak di dekat Jaipur Abhaneri, Rajasthan, India. Dibangun pada abad ke-9. Terdiri dari 13 tingkat dengan kedalaman hingga 100 kaki.

Sumber

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Join 153 other followers

  • June 2014
    M T W T F S S
    « May   Jul »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30