Satelit Penyelamat Bumi dari Gas Rumah Kaca

Orbiting Carbon Observatory 2 akan memantau kadar karbondioksida

 

Siti Sarifah Alia

 

 Satelit OCO-2 untuk monitor karbondioksida

Satelit OCO-2 untuk monitor karbondioksida (oco.jpl.nasa.gov)

Untuk memonitor kandungan karbondioksida, NASA meluncurkan satelit bernama Orbiting Carbon Observatory (OCO)-2. Satelit tersebut melesat berkat dorongan powerful dari rocket Delta 2. Tak lama, sekitar 56 menit kemudian, OCO-2 telah berada di orbit terendah bumi.

 

 

OCO-2 juga didesain untuk mengukur kadar karbondioksida di atmosfir. Tepatnya, 438 mil dari permukaan bumi. Orbit yang ditempati OCO-2 memungkinkannya untuk menjangkau 80 persen dari total wilayah bumi.

Mengutip BBC, Kamis, 3 Juli 2014, data terakhir menunjukkan setiap tahunnya ada sekitar 40 miliar ton karbondioksida yang dilepas dari pabrik dan polusi mobil. Sekitar setengah dari gas rumah kaca itu terpendam di atmosfir, sementara sisanya diserap oleh laut dan pohon.

 

 

Satelit monitor Co2, yang menghabiskan US$468 juta itu didesain sedemikian rupa agar dapat  bertahan di orbit selama 2 tahun. Satelit ini bisa difungsikan untuk mengamati bagaimana lingkungan sekitar dapat menyerap karbon dioksida dan mengurangi efek gas rumah kaca.

 

 

Ukuran satelit ini hampir sama dengan bilik telepon, dengan bentangan solar panel sepanjang 30 kaki. Sebelum naik ke orbit yang lebih tinggi lagi, Nasa harus melakukan pengecekan ulang semua sistem.

 

 

“Dibutuhkan waktu 2 minggu untuk melakukan pemeriksaan kelengkapan sistem. Setelah itu kami akan naikkan ke orbit yang lebih tinggi lagi, bergabung dengan jajaran satelit pemantau lainnya, yang biasa kami sebut ‘The A-Train’,” jelas Ralph Basilio, Project Manager dari Jet Propulsion Laboratory Nasa,

 

 

Belajar dari Kegagalan 2009

 



Sejatinya, ini bukanlah peluncuran satelit monitor karbondioksida pertama yang dilakukan Nasa. 2009 lalu, peluncuran ini pernah terjadi namun gagal. Roket Taurus XL tidak mampu mendorong satelit itu dengan sempurna. Akibatnya, satelit dan roket kembali ke bumi dan jatuh di Kutub Utara. Setelah tragedi itu, Nasa menghabiskan jutaan dolar dan butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat satelit yang sama.

 

 

“Dana yang besar untuk memproduksi satelit seperti ini biasaya tidak memungkinkan kami untuk melakukan percobaan kedua. Akan tetapi mengingat misi ini sangat penting bagi dunia, kami memberikan kesempatan kedua untuk melanjutkan misi peluncuran OCO-2,” ujar Geoff Yoder, Wakil Kepala Administrasi Nasa.

 

 

Dilansir melalui The Guardian, Nasa dan OSC tidak ingin kejadian 2009 lalu terulang. Oleh karena itu, sebelum peluncuran berlangsung, mereka memastikan bahwa semua berjalan baik.

 

 

“Kegagalan tahun 2009 lalu merupakan kesedihan bagi kami. Seperti kehilangan salah satu anggota keluarga. Makanya dengan adanya satelit baru ini, kami seperti menemukan keluarga baru. Kami sangat bangga dengan peluncuran hari ini,” kata Senior Vice Presiden Orbital Sciences Corp (OSC), Mike Miller. OSC merupakan perusahaan yang telah terlibat dalam produksi satelit ini sejak awal.

Kamis, 3 Juli 2014, 11:32
©VIVA.co.id

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Join 146 other followers

  • July 2014
    M T W T F S S
    « Jun   Aug »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031